Friday, 19 March 2010

INDONESIA VERSUS THAILAND: Dapatkah Gajah Melewati Lubang Jarum?

Tahun ini bisa berakhir kelabu untuk sepak bola nasional. Setelah ditekuk (0-1) oleh Thailand di kandang sendiri, Indonesia mesti mendulang selisih dua gol di kandang lawan. Perjuangan pasukan Merah Putih nampaknya berat. Lafal pesimistis didegungkan hampir di seluruh pelosok Tanah Air, “seri saja sudah susah, apalagi mesti mencetak dua gol.” Catatan sejarah pun tidak berpihak.

Di ajang AFF Suzuki Cup, Indonesia sudah lima kali bertemu Thailand dan lima kali pula rontok. Sementara itu, dari 18 kali hadap berhadapan, Indonesia cuma lima kali kebagian menangnya. Alhasil, kemenangan atas Thailand nampak bagai mukjizat, seperti memikirkan gajah melewati lubang jarum.

Benny Dolo (Bendol) terlalu optimistik berspekulasi hanya dengan keterampilan dan kecepatan individual beberapa pemain, daripada kerjasama tim dan mental juara. Yang diharapkan Bendol adalah kejutan dari pemain “kesayangannya” seperti Firman Utina, Ponaryo Astaman, atau Ismed Sofyan. Namun, para pemain itu terlalu jauh ke belakang dan lebih disibukkan untuk membentengi pertahanan daripada merangsek ke depan. Padahal, tipikal penyerang seperti Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas mesti dimanjakan terus dengan aliran bola terobosan dan umpan silang. Pasalnya, sukses ratio dari kedua penyerang tersebut masih lemah dalam memanfaatkan kesempatan.

Sejak kebobolan menit kelima oleh sundulan cerdik Teerasil Dangda, kesebelasan Indonesia seperti terjangkit teriakan Bendol. Para pemain stress karena harus bertarung dengan kenyataan kebobolan di menit awal, riuh cemooh massa pendukung, dan kebuntuan. Mental pemain Merah Putih sudah terperosok dan skenario permainan ditinggalkan. Yang dipertontonkan pada menit berikut adalah sesuatu yang sangat konvensional, mudah terbaca, mudah pula terpatahkan. Standarnya jauh di bawah kecepatan, kerjasama, dan kombinasi serangan seperti yang dipertontonkan Thailand.

Cukup mengejutkan memang karena pemain seperti Boaz Salossa dan Ricardo Salempessy baru terpikirkan untuk diikutsertakan. Tipikal mereka sebenarnya sangat dibutuhkan, ketika kesebelasan Merah Putih hanya menyisakan permainan yang konvensional. Sesuatu yang mengejutkan dan bisa mengubah keadaan seringkali datang dari kaki Boaz dan Salempessy. Namun, keduanya malah didepak sebelum akhirnya dipanggil karena desakan banyak pihak.

Harus diakui Indonesia kalah cepat dan kompak dari Thailand. Gol cepat Thailand di menit kelima bukan sebuah keberuntungan. Gol itu hasil kerjasama tim yang apik, kecepatan terobos, dan kecerdikan. Sementara itu, Merah Putih belum bisa cerdik dan kalah cepat. Organisasi pemainan hanya terlihat di lini belakang. Sesudah itu, kesebelasan itu hanya berharap pada kaki Firman Utina dan Ismed Sofyan. Penyerangan dari lini kiri kanan terasa tumpul, bahkan hanya menjadi pelengkap penyerta dari kebuntuan demi kebuntuan. Wasit pun akhirnya dipersalahkan.

Kesalahan sepakbola nasional adalah terlalu fokus pada hasil dan melupakan proses. Kebobolan pada menit awal sudah merupakan hasil yang buruk untuk pemain dan pelatih. Proses tidak lagi dihormati, sehingga daya gedor berkurang dan kerjasama ditinggalkan. Mental juara nyaris tertelungkup, dengan menyisakan harapan pada bola mati atau pinalti. Namun sayang. Thailand saat itu bermain sangat bersih, tanpa menyisakan cela sedikit pun untuk ruang titik balik Indonesia. Bahkan, untuk sebuah diving pun, Indonesia tak sanggup. Sangat profesional. Inilah pelajarannya, karena menghormati proses untuk sebuah hasil akhir. Indonesia terlihat terlalu terburu-buru dan memaksakan keadaan.

Jika gajah bisa melewati lubang jarum, Indonesia pasti menang. Indonesia membutuhkan kekuatan moral, yaitu menisbikan kemustahilan dan mengambil langkah positif untuk siap bertarung. Asalkan, langkah kemarin adalah pelajaran, gajah bisa melewati lubang jarum. Namun, jika masa lalu adalah penjara, gajah tak mungkin bisa melewati lubang jarum.(*)

Tuesday, 9 February 2010

Titik Terendah Maradona

Diego Armando Maradona sedang berada di titik terendah. Mahabintang sepak bola itu tidak berhasil mengangkat pamor tim nasional Argentina secermelang dirinya. Setelah digasak salah satu musuh bebuyutannya Brasil (1-3), tim Tanggo kembali keok dicukur Paraguay (0-1) pada lanjutan penyisihan piala dunia 2010. Tanggo diujung tanduk, dan Maradona dihujat sebagai biang kerok keterpurukan tersebut.
Keterpurukan Argentina adalah fakta lain dari sisi kebintangan Maradona. Sekarang, selain dia dikenang sebagai salah satu ikon sukses dan keajaiban sepak bola, Maradona juga adalah pelatih yang gagal. Mungkin terlalu dini, sebab Tango masih punya peluang melenggang ke putaran final piala dunia tahun depan. Namun, kesempatan itu bisa muncul seandainya Argentina bisa bertahan di posisi kelima zona Amerika Selatan dan memenangi duel play off.
Sekalipun demikian, Maradona sudah gagal. Dengan bermateri pemain bintang di antaranya Lionel Messi, Tevez, Juan Sebastian Veron, Zaneti, Maxi Rodriquez, Datolo, toh Maradona tidak bisa berkutik. Karier kepelatihannya sedang di ujung tanduk. Kalau federasi sepak bola Argentina berani melawan arus kebintangan ‘si tangan Tuhan’ itu, Maradona pantas dipecat. Desakan publik bahkan sudah cukup untuk Maradona mundur sebelum diberhentikan. Hanya supaya tarian Tango itu tidak absen dari hiruk pikuk pesta akbar sepak bola tahun depan.
Unik memang mengenang sisi kebintangan Maradona. Selain dinobatkan sebagai ‘dewa’ sepak bola di negeri sendiri, Maradona pun begitu tenar di Italia, Inggris, dan Brasil. Kiprahnya sebagai pemain profesional justru subur di Italia. Dia berada pada kondisi puncak saat membela klub Italia…. Periode…. Maradona pun tidak akan pernah dilupakan publik Inggris, dan dinobatkan sebagai musuh abadi karena ulah ‘tangan tuhannya,’ saat menyingkirkan Inggris di piala dunia 1986. Sementara itu, Maradona adalah ikon yang selalu mengganggu sisi ketenaran Pele ‘si dewa’ Samba di Brasil.
Banyak yang mengatakan, Maradona terlahir kembali saat melihat Lionel Messi menari Tango dengan bola di lapangan hijau. Tetapi, Messi adalah titisan, bukan Maradona itu sendiri. Sejarah telah lebih dulu mengenal Maradona dengan aksi melewati lima pemain dan menciptakan gol. Tidak akan ada Maradona dengan kapasitas yang sama, karena sang pemain itu telah merumahkan sebuah standar tertinggi dari seni mengolah bola secara individual.
Seorang alkoholik dan pemakai aktif narkoba adalah fase keterpurukan sang bintang sebelumnya. Melalui program rehabilitasi, ketergantungannya pada miras dan narkoba itu pelahan sirna. Publik dan fans fanatik Maradona saat itu tidak terlalu menggubris kehidupan malam dan ketergantungan sang bintang. Tidak ada juga hujatan yang keras, selain nada permisif yang memaafkan ulah sang bintang karena kedewaannya tersebut.
Tetapi, saat Maradona gagal menjadi pelatih, fans begitu gundah, gusar, dan berubah menghujat. Argentina bergejolak. “Saya menghormati dan mengagumi dia sebagai pemain. Dia dewa sepak bola kami. Tapi, Maradona bukanlah pelatih yang tepat. Dia gagal, di antara banyak pemain terbaik di dunia yang kami miliki,” kata seorang fans Argentina. Rodriguez, pilar tengah yang diandalkan Maradona bahkan mengatakan, “Di tangan Maradona, kami kehilangan gaya permainan, disiplin, dan motivasi untuk juara. Kami butuh pelatih.”
Betapa pedihnya publik Inggris karena mesti menelan pil pahit saat Inggris gagal melaju ke putaran final piala Eropa… Namun, kepedihan itu telah berakhir. Negeri lahirnya sepak bola itu melaju ke putaran final piala dunia tahun depan, berkat jasa sang arsitektur berdarah Italia Fabio Capello. Dia pelatih yang tepat dengan materi pemain berkelas bintang.
Akankah kepedihan Inggris terulang di Argentina? Kalau Argentina gagal, Inggris akan bilang, “Rasain kau Maradona, kali ini tangan Tuhan menjauh dari nasibmu!” Karena sekalipun mundur, dan Argentina gagal, pil pahit itu tetap akan menjadi buah bibir karena ulah sang mahabintang bernama Maradona, legenda bernomor punggung 10 itu.(*)

Friday, 29 January 2010

MU versus Barcelona: Setiap Saat adalah Final

Di penghujung tahun lalu, Manchester United (MU) keluar sebagai juara dunia antarklub di International Stadium Yokohama, Jepang, menundukkan wakil Amerika Latin, Liga de Quito dari Ekuador, 1-0. MU hadir di Yokohama setelah meraih tropi Liga Champions, dan Juara Liga Premier Inggris. Namun, MU bukan klub yang tidak pernah kalah. Tropi Juara Dunia Antarklub adalah dominasi kemenangan, namun tidak tanpa kalah. Klub sekelas MU pun perlu tertatih-tatih merengkuh tropi.
Berdasarkan catatan majalah Forbes, MU adalah klub dengan nilai kekayaan tertinggi. Setan Merah, julukan klub tersebut diperkirakan memiliki aset sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 16,6 triliun. Nilai tersebut terpaut cukup jauh dari Real Madrid diurutan kedua dengan total kekayaan US$ 1,285 miliar atau sekitar Rp 12 triliun. Sementara itu, Arsenal di tempat ketiga hanya membukukan kekayaan sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 11 triliun, terpaut Rp 5,6 triliun dari MU.
Belum ada tokoh yang bisa menggantikan peran Sir Alex Ferguson sebagai pelatih MU. Opa bertangan dingin itu sudah 21 tahun malang melintang sebagai pelatih MU dan telah mempersembahkan 20 gelar bergengsi---17 Premier League dan 3 Liga Champions ---bagi Setan Merah. Selain itu, sudah banyak pemain bertalenta, berkelas, dan menjadi langganan tim nasional lahir dari besutannya. Ferguson terakhir menyatakan akan segera pensiun sebagai pelatih MU dalam tiga tahun ke depan. Namun, lepas sebagai pelatih diprediksi hidup pelatih asal Skotlandia itu tidak akan jauh dari MU.
Sekalipun tercecer di peringkat ketiga Liga Premier Inggris tahun ini, MU masih berpeluang mengukir prestasi dengan tetap berada di jalur juara. MU juga lolos ke babak perdelapanfinal Liga Champions, dan sudah memastikan satu tempat di semifinal Piala Carling. Sementara itu, Piala FA baru akan mereka jalani pada Januari 2009. Bukan tidak mungkin, lebih dari dua tropi akan kembali direngkuh Setan Merah tahun ini.
Tak kalah fantastis, Barcelona di Spanyol memuncaki klasemen La Liga dengan perfoma brilian. Dari 16 pertandingan yang sudah dilakoni, pasukan Josep Guardiola itu sudah memenangi 13 laga di antaranya. Sisanya berakhir dengan dua hasil imbang dan satu kekalahan. Dari 16 pertandingan itu, Barcelona hanya kemasukkan 10 gol dan berhasil memasukkan 48 gol ke gawang lawan. Hegemoni itu pun sempurna dengan melumat Real Madrid (2-0) pada laga klasik jelang akhir tahun lalu.
Dua musim sebelumnya Barcelona berada di bawah bayang-bayang Real Madrid. Musim lalu, Barcelona kalah saing menyakitkan dengan rival beratnya itu, karena mesti menyerahkan gelar La Liga pada partai terakhir. Real Madrid menang fantastis dan menguburkan impian Barcelona. Namun, keadaan saat ini sedang berbalik. Selisih 12 point dengan Madrid membuat Barcelona berjalan tegak karena merasa telah menemukan pil penawar untuk luka liga di musim lalu tersebut.
MU dan Barcelona memahami betul filosofi bola. Bola dan pertandingan hanyalah ruang manusia. Pemain, pelatih, penonton dalam perannya masing-masing mendandani pertandingan. Kesalahan pada bola hanya melucuti pertandingan, tetapi kesalahan manusia pada pertandingan melucuti martabat. Bola yang kempes menghentikan pertandingan, tetapi pemain yang berulah mencemooh kemanusiaan.
Tidak ada permukaan yang tetap pada bola. Semua mengalir dan berubah. Dalam perubahan tersebut, ada tujuan yang tetap, yang tidak berubah. Gol dan kemenangan, atau jatuh kalah. Setiap perubahan harus disikapi dengan kerja keras dan kepaduan. Setiap pertandingan adalah final, sedangkan kekalahan merupakan cambuk dalam dinamika. Karena itu, senjata yang paling ampuh dalam menghadapi setiap perubahan dalam siap siaga, juga kebesaran jiwa untuk belajar dari keterpurukan. Dengan cara itu pulalah, kita bisa merayakan kemanusiaan dalam setiap perubahan waktu. Selamat menempuh hari-hari di Tahun Baru!(*)

Ketika Bola Menjadi Rasial

Emile Heskey menjadi korban saat Kroasia menjamu Inggris pada kualifikasi Piala Dunia di Stadion Maksimir, Zagreb, 10 September lalu. Kekecewaan pendukung fanatik Kroasia saat itu tak terbendung. Sejak pertama pluit dibunyikan dan bola disepak, Kroasia sudah sangat yakin kembali akan menggulung Inggris. Menurut mereka, kekalahan Inggris di ajang Piala Eropa kemarin adalah takdir. Kroasia tak akan takluk jika melawan Inggris.
Kroasia lupa. Permainan tak pernah mengenal takdir. Dinamika perseteruan selalu memberikan ruang kosong untuk kalah atau dikalahkan. Di atas lapangan hijau, Inggris dan Kroasia sama-sama berpeluang untuk menang dan kalah, sekalipun kenyataannya akan berakhir dengan menyakitkan. Kroasia tak mampu membendung kekecewaan, lantas mengejek Heskey dengan menirukan suara dan gerakan monyet. Rasialisme kembali berwajah galak!
Kasus yang sama pun pernah menimpa Thierry Henry. Kali ini yang melontarkan cemoohan adalah pelatih sepak bola nasional Spanyol Luis Aragones. Sementara itu, dua musim lalu striker Barcelona Samuel Eto`o mengancam akan meninggalkan lapangan setelah dihina para penonton dalam pertandingan melawan Real Zaragoza. Striker Rumania dan Fiorentina Adrian Mutu, salah satu pemain terbaik dalam liga, berulang kali disebut "orang jipsi" oleh penggemar lawan. Striker Inter Milan Zlatan Ibrahimovic, orang Swedia tapi keturunan Bosnia, juga disebut "jipsi" oleh penggemar Juventus yang berang terhadap dia karena meninggalkan klub ketika mereka terdegradasi karena pengaturan skor.
Ranah sepak bola seharusnya berada di pusaran humanisme, antara penghargaan terhadap kreativitas dan nilai-nilai luhur keadaban, antara nasionalisme dan universalisme. Sepak bola mesti jauh dari semangat chauvinisme, membangga-banggakan sesuatu yang parsial dan fanatik.
Tahap demi tahap sepak bola bukan lagi sekedar sebuah permainan. Pada saat sepak bola masuk dalam parade perdamaian antarbenua bertaraf olimpiade, aspek pertarungan tersebut masih bisa dijinakkan. Namun, aspek perdamaian pun bergeser pelahan, ketika sepak bola digelar dalam kompetisi piala dunia. Percumbuan yang sejuk antarnegara itu direcoki dengan fanatisme negara. Keruntuhan pun menyeruak lebar saat sepak bola dipanjikan dalam kompetisi setaraf liga. Tanggung jawab moril untuk sebuah solidaritas semakin menipis, terpecah-pecah dalam semangat individual, golongan, dan susah dikontrol. Semakin kecil kelompok minatnya, justru makin keras gesekannya.
Inilah akibatnya jika sepak bola telah menjadi berhala modern. Jebakannya terukur melalui mekanisme yang formalis dan konvensional. Jika tidak menang, sebuah klub dan para pemainnya akan dicaci maki. Namun, jika menang, mereka akan disanjung-sanjung. Loyalitas terhadap aspek humanitas tercopot dari kerangka universalitas. Gaya mencintai pada permainan tersebut berubah brutal dan infantil. Karena itu, di mata para penonton, para pemain hanya instrumen pemuas. Sementara itu, bola adalah emosi yang ditendang-tendang dari satu sudut ke sudut lain. Inilah pula kecenderungan modernitas, memandang sesama secara formal dan fungsional, sejauh orang lain mampu memuaskan sebentuk keinginan ego. Jika ego tak terpuas, kata-kata hujatan seperti yang ditimpakan pada Heskey akan terus berulang. Jagalah hatimu!

Tuesday, 12 January 2010

Eduardo versus Taylor: Tidak Ada Lawan di Lapangan Hijau

Nasib penyerang Arsenal Eduardo da Silva begitu tragis. Aksi tekel keras bek tengah Birmingham Martin Taylor pada Februari lalu mematahkan kakinya. Eduardo lantas menjalani perawatan dan absen panjang dari dunia olah bola. Eduardo kini hanya bergantung dari faktor keberuntungan. Jika perawatan dan pemulihan cidera berlangsung sempurna, ia bisa kembali hadir dan mengayuh kakinya untuk menendang bola.
Sebuah kartu merah rasanya belum cukup atas tekel Martin Taylor tersebut. Dalam cerita lanjutan, Taylor memohon maaf atas aksi ‘undercontrol’ tersebut. Di lain pihak, dengan jiwa besar Eduardo memaafkan Taylor dan menyebut aksi itu sebagai risiko dari permainan sepak bola.
Pemain bintang atau penyerang sebuah tim selalu jadi sasaran empuk penjegalan. Bintang AC Milan Kaka bahkan meminta para wasit melindungi pemain bintang dengan kuasa sempritan pluit, kartu kuning, atau kartu merah. Christian Ronaldo, Del Piero, Tevez, dan segudang penyerang lain pun harus meringis kesakitan dan berjumpalitan, jika dijegal. Kempes hingga Maradona, Pele hingga Ronaldinho, Chartlon hingga Owen harus tetap tegak seraya menahan emosi karena terus dijegal oleh para bek tim lawan. Wasit akan memberi kartu merah atau kuning jika seorang pemain menjegal dengan sebuah rencana. Namun, pemain yang baik tak akan membalas kelakuan pemain yang buruk tersebut.
Laga lapangan hijau Liga Indonesia sangat rentan pemukulan dan aksi balas dendam. Ricuh PSMS Medan dan Persik Kediri beberapa waktu lalu diwarnai aksi pemukulan Cristian Gonzales atas Erwinsyah. Beberapa saat seusai wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, Gonzales membogem Erwinsyah dari sudut yang tak terduga. Di lain pihak, wasit Suprihatin yang memimpin pertandingan terancam tindakan tak terpuji yang sama.
Sepak bola nasional seharusnya bisa seperti sungai. Air yang mengalir adalah bola yang digelindingkan. Sementara itu, bebatuan dan cadas yang menghalangi arus air tersebut adalah dua kesebelasan yang saling berhadapan. Di sungai, bebatuan dan cadas tidak pernah merasa kesakitan karena dilewati air. Aliran itu menyentuh bebatuan dengan sifatnya yang sangat lembut, bahkan lebih manusiawi dari manusia. Pada sebuah himpitan yang tangguh, air akan mencari celah kosong untuk mengalir. Seperti seorang pemain, mencari celah kosong di antara kaki lawan. Terjadilah decak kagum pada gocekan Maradona, Messi, Ronaldinho, atau Christian Ronaldo.
Ut desint vires, tamen est laudanda voluntans, biar semua kekuatan lain lenyap, tetapi kehendak harus terpuji. Berada di sebuah lapangan hijau, berarti berada di antara tanggung jawab moral dan kemanusiaan. Lapangan hijau bukan perang terbuka ala Spartan. Karena itu, bersedia menjadi pemain dalam sebuah kesebelasan berarti bersedia pula menanggalkan kekuatan liar dan kasar, yang mematikan dan membunuh. Sepak bola membutuhkan rasa cinta dan solidaritas lintas batas, melampaui arti kawan dan lawan. Setiap pemain bukan saja bertanggung jawab terhadap soliditas tim, tetapi juga keselamatan pemain lawannya.
Bukankah bangsa ini perlu belajar soal tanggung jawab dan moral? Sering kita terlalu berpikir individual dan kolutif. Orang lain seperti Eduardo adalah lawan yang mesti dijegal. Bola dan gol, segala cara dihalalkan. Sesungguhnya, tidak ada lawan di lapangan hijau. Pertarungan dua kesebelasan itu hanya semu. Yang terjadi adalah ujian atas tanggung jawab, inisiatif, dan moralitas. Kata Albert Camus, peraih nobel sastra 1975, “Jika soal moral dan tanggung jawab, saya berutang pada sepak bola!”(*)

MU versus Chelsea: Berkompetisi Secara Bersih!

Penikmat bola akhir pekan ini dimanjakan dengan adu gengsi Manchester United (MU) dan Chelsea. Seorang pendukung fanatik akan kalap mata untuk menjagokan tim kesayangannya. Tetapi, jika dipadankan secara realistis, pemenang adu gengsi itu sulit terprediksi. Entah Ferguson, atau Scolari adalah pelatih berpeluru, nyaris tanpa cacat dalam meramu amunisi demi membendung serangan lawan, menghadirkan kemenangan, tanpa lupa pada permainan indah.
Di penghujung tahun lalu, MU keluar sebagai juara dunia antarklub di International Stadium Yokohama, Jepang, menundukkan wakil Amerika Latin, Liga de Quito dari Ekuador, 1-0. MU hadir di Yokohama setelah meraih tropi Liga Champions, dan Juara Liga Premier Inggris. Berdasarkan catatan majalah Forbes, MU adalah klub dengan nilai kekayaan tertinggi. Setan Merah, julukan klub tersebut diperkirakan memiliki aset sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 16,6 triliun. Nilai tersebut terpaut cukup jauh dari Real Madrid diurutan kedua dengan total kekayaan US$ 1,285 miliar atau sekitar Rp 12 triliun. Sementara itu, Arsenal di tempat ketiga hanya membukukan kekayaan sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 11 triliun, terpaut Rp 5,6 triliun dari MU.
Belum ada tokoh yang bisa menggantikan peran Ferguson sebagai pelatih MU. Opa bertangan dingin itu sudah 21 tahun malang melintang sebagai pelatih MU dan telah mempersembahkan 20 gelar bergengsi---17 Premier League dan 3 Liga Champions ---bagi Setan Merah. Selain itu, sudah banyak pemain bertalenta, berkelas, dan menjadi langganan tim nasional lahir dari besutannya.
Chelsea memang berada di posisi kedua klasemen sementara Liga Premier Inggris. Setelah setengah musim lalu sempat menguasai perebutan nilai di peringat pertama, penampilan Chelsea beranjak menurun. Tidak ada angka fantastis lagi dari kemenangan demi kemenangan yang di berbagai turnamen. Chelsea malah dijuluki klub spesialis pemain pension, karena sebagian besar pemainnya beranjak tua dan ingin berakhiri karier profesional sebagai pesepak bola bersama Chelsea. Seorang Scolari bahkan dirundung isu tidak sedap oleh obsesi Abrahamovich yang ingin menyulap mesin duitnya itu menjadi raksasa sepak bola di Inggris dan Eropa.
Deco, Frank Lampard, Didier Drogba, Nikolas Anelka, Joe Cole, Balack, John Terry bukanlah pemain yang mudah takluk. Sekalipun sudah berumur, determinasi dan daya gedor mereka masih garang. Sementara itu, pemain seumuran mereka di pasukan Setan Merah mungkin hanya segelintir, seperti Ryan Giggs, Rio Ferdinand, Edwin van der Sar, dan Paul Scholes. Selain itu, MU bertaburan bintang muda yang energik, tak terbendung, dan penuh kejutan.
Perbedaan usia bukan merupakan ukuran untuk sebuah kemenangan. Pasalnya, pertarungan peringkat kedua dan ketiga di Liga Inggris itu adalah adu gengsi. Seorang kompetotir sejati tidak akan pernah menyerah dari pesaingnya. Untuk sebuah kepuasan yang ditendang dari suntikan gengsi, Chelsea sangat berambisi melumat MU. Kemenangan itu sejenak akan melupakan gairah bertanding, karena seolah-olah sudah mengakhiri Liga Inggris dengan mengalahkan musuh bebuyutan. MU pun berpikir soal yang sama. Menamatkan Chelsea merupakan harga mati, seperti menutup liga sebelum pesta berakhir.
Kecerobohan MU adalah emosionalitas, sedangkan kelengahan Chelsea adalah determinasi. Chelsea mau tidak mau harus lebih dulu menciptakan gol, sebelum bisa merecoki permainan Setan Merah dengan mengulak-ulak emosi pemain muda MU. Namun, Chelsea perlu kerja keras meredam penampilan hot Rooney, Ronaldo, Anderson, Teves, Nani, dan mata bor asal Korea Selatan Park Ji-Sung. Sayangnya, determinasi Chelsea akhir-akhir ini sering kedodoran. Di lain pihak, stabilitas emosi dan kekompakan MU semakin padu. Chelsea lebih berharap pada faktor keberuntungan, sedangkan MU terancam digerogoti oleh kepercayaan diri yang berlebihan. Neraca inilah yang mesti dipertahankan dua rivalitas tersebut, jika ingin menjadi sang pemenangnya.
Bolehlah berkompetisi, mengalahkan pesaing, tetapi keseimbangan emosi dan moral tetap harus terjaga. Menjadi pemenang dengan jiwa bersih lebih baik ketimbang mengalahkan lawan dengan tangan kotor.Amanat utama!

Monday, 11 January 2010

Wallcot, Beckham, Capello, dan Kita

Seorang Theo Wallcot sepertinya tidak dilirik banyak orang, sebelum menjadi pilihan utama di skuad Arsenal. Kebeliaannya pun masih diragukan banyak pihak, lantaran olah bola tidak lagi sekedar ditontoni tetapi juga dijudikan. Sisi berikut, Wallcot bukan David Beckham. Sekalipun sudah uzur, nilai jual Beckham tidak pernah luntur. Perasaan puas pada Beckham sama halnya dengan kenikmatan usai “beol”.
Seorang Italia yang tengah naik daun seperti Fabio Capello sungguh tahu cara terbaik mengambil hati suporter Inggris. Setelah kemenangan oleh sentuhan Wallcot, Capello membiarkan sentuhan akhir yang manis itu bertumpu pada sosok Beckham. Para pecandu bola di negara asal bola itu pun lantas tergundah. Seorang Beckham yang dinantikan itu seperti oase di padang gurun, dan Capello adalah sumber fatamorgana.
Gerarld, Lampard, dan Rooney sekalipun meredup dalam dua kali empat puluh lima menit tersebut. Permainan lebih memilih Wallcot sebagai pahlawan, Beckham sebagai pemanis, dan Capello sebagai si tuan pesta. Dalam hal ini, bintang lapangan sangat ditentukan oleh kepuasan sang penikmat di bangku penonton dan bukan semata-mata bergantung pada keterampilan individu. Pesona itu datang bersamaan dengan rasa “ngeh” atas hamparan harapan yang terpuaskan. Ya, setelah sekian lama menggumpal di dada. Kerja sama tim lantas menjadi bingkai bisu, sedang para tokoh terpilih dalam pemujaan itu lantas keluar sebagai juara dan menciptakan sejarah.
Namun, kalau dipilah dengan lebih kritis, Wallcot punya rentang yang berbeda dengan Beckham dan Capello. Wallcot masih mencari ketokohannya di dunia having, yang masih mungkin untuk berubah, sedangkan Beckham dan Capello adalah tokoh di dunia being, yang tidak lagi berubah sekalipun waktu berubah. Wallcot masih dikuasai asumsi-asumsi, diperbandingkan, dan plural, sedangkan Beckham dan Capello itu adalah persepsi, sebuah dunia sendiri yang tunggal dan tak terbantahkan. Pasang surutnya asumsi tidak pernah melunturkan aspek kebintangannya. Sejarah sudah mengenang Beckham dan Capello sebagaimana mereka berada dan menjadi.
Sementara itu, posisi Gerald, Lampard, dan Rooney adalah unsur antitesis yang dibutuhkan untuk menjelaskan kebintangan seorang Wallcot, Beckham, dan Capello. Keberadaan mereka tidak bisa diabaikan begitu saja, lantaran sisi kebintanganya memudar. Mereka hadir sebagai unsur penegas, yang memberikan pengetahuan awali, merucutkan pilihan, dan menjadi daya saing yang lengkap dan unik. Tanpa mereka, Wallcot, Beckham, dan Capello hanya potongan yang tak berguna dan tidak pantas untuk diingat.
Mereka pun punya kesempatan yang sama untuk tampil sebagai bintang, sejauh mampu menjadi indentitas unggul di tengah percampuran individu tersebut. Pada saat itu, mereka hanya belum menemukan lubang senggama dan bermagma menjadi manusia unggul dalam sekumpulan pertaruhan. Mereka butuh waktu untuk membuktikan dirinya terpilih sebagai pejantan yang tertangguh di antara pejatan-pejatan yang tangguh. Seorang best of the best.
Benar bahwa sejarah itu berpihak pada yang menang dan mengebiri kesempatan pada yang kalah. Namun, sejarah selalu berpihak pada pilihan yang akurat, unggul, dengan identitas yang utuh. Artinya, sejarah tidak pernah salah memilih, baik untuk sementara waktu, maupun untuk sebuah keabadian. Kritik atas sejarah mengelupas sifat sekunder dan memunculkan jati dirinya yang primer. Dalam perjalanan waktu, para pemenang itu ditapis menjadi bersih, tangguh, dan terpecaya.
Oh, gutta cavat lapidem non vi sed saepe cadendo, titik-titik air melubangi batu bukan karena kekerasannya, tetapi karena keseringannya. Pribadi yang unggul dan berkualitas adalah pribadi yang jujur, tidak boros kata, berpura-pura, atau menjilat. Waktu akan terus membuktikan jenis pribadi seperti itu, sama seperti suporter fanatik terhadap pemain bintangnya. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah berakhir tuntas, untuk kepuasan sebuah harmoni, atau kepuasan batiniah sekalipun. Sebab, jati diri selalu berbicara apa adanya, sejauh raut hati menggendong perilaku dan tutur kata pada saat di mana pun manusia berada dan menjadi. Entah, menjadi seorang jurnalis, sekalipun! Karena itu, marilah jujur dengan diri sendiri.

SAMBA versus TANGO: Bersama atau Sendiri Kita Bisa!

Diego Armando Maradona tengah merayakan kemenangan Argentina atas Skotlandia (1-0), di Hamden Park, Glasgow, Skotlandia. Di lain pertandingan, Tim Samba Brasil melumat Portugal dengan skor telak (6-2). Kemenangan Argentina dan Brasil sangat berarti buat dua pelatih di dua tim Amerika Latin yang paling banyak penggemar fanatiknya. Gol Maxi Rodriguez ke gawang McGregor membuat pesimisme yang gencar diceletukkan terhadap Maradona mendadak sirna. Sementara itu, Dunga bernapas lega. Kemenangan telak Brasil atas Portugal memupus keraguan atas anak asuhnya yang miskin gol dalam beberapa pertandingan terakhir.
Skotlandia dan Portugal bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Skotlandia pernah dua kali menjadi kampiun Piala Dunia dan sering menjegal tim kuat Amerika Latin lainnya, seperti Paraguay, Meksiko, tak terkecuali Argentina dan Brasil. Sementara itu, Portugal disegani sebagai “Samba” Eropa yang bertabur bintang dunia, seperti Christian Ronaldo, Deco, Nani, dan Simao Sabrosa. Partai persahabatan tersebut sudah cukup memberi parameter soal “upgrade” kekuatan dua raja lapangan hijau dari Amerika Latin tersebut.
Tim Tango Argentina belum banyak berubah. Sekalipun gol Rodriguez lahir dari sebuah kerjasama tim, Tango masih butuh banyak pembenahan. Karakter Tango tidak sekuat Sang Pelatih. Kalau boleh jujur, penonton yang menyaksikan laga tersebut cenderung terhisap oleh pamor bintang Maradona, daripada menyaksikan pertandingan. Argentina dalam 90 menit di Hamden Park hanya muncul sebagai mikro organisme dari sosok raksasa Maradona.
Samba berhasil keluar dari pesona individual dan tampil penuh sebagai tim yang solid. Kaka, Robinho, Fabiano, Elano, bahkan si bengal Adriano berhasil mengalahkan diri sendiri dan meluruh bersama tim. Sang pelatih Dunga tidak pernah melupakan posisinya sebagai libero, saat masih membela Samba. Saat itu dirinya terus berteriak agar Rivaldo, Ronaldo, bahkan Ronaldinho supaya lebih berbagi bola dan mengutamakan hasil akhir daripada menampilkan pesona individual. Kerjasama tim inilah yang sedang dibenahi Dunga.
Samba adalah atom Demokritus, sedangkan Tango adalah monade Leibniz. Atom Demokritus mengutamakan peluruhan individu. Harmonisasi masyarakat hanya bisa tercapai jika setiap individu meluruhkan diri, rela berbagi, dan menjalani peran untuk saling melengkapi.(*)

Thursday, 7 January 2010

Madrid, Belajarlah Beretorika!

Kekalahan Real Madrid atas Juventus adalah yang paling membekas di ajang penyisihan Liga Champions pekan ini. Selain karena keberuntungan seorang Alessandro Del Piero, skuad Madrid pantas mendapat koreksi. Pasukan Bernd Schuster sama sekali tidak menunjukkan kualitas pemain bintang dan hanya berharap akan terjadi keajaiban, seperti yang pernah dilakukan Higuin atau Snijder pada laga-laga sebelumnya. Boleh dibilang, Madrid tengah memasuki masa krisis, di saat musuh bebuyutannya Barcelona sedang garang.
Kelemahan Madrid ada di sektor tengah. Madrid tidak bisa lagi bergantung pada Guti yang sudah uzur. Lagipula, Guti bukan pemain tengah yang cocok dengan jiwa keseluruhan pemain Madrid. Sneijder yang diharapkan bisa menutup lubang tengah ternyata lebih banyak masuk bilik perawatan karena cedera. Diarra dan Drenthe hanya jangkar belakang yang dipaksa menyusuri lapangan tengah untuk memasok bola ke titik penyerangan. Tak ayal, Nistelrooy, Raul, Higuin terus frustrasi dan Cassilas berteriak sepanjang permainan. Aliran bola tidak lagi seempuk umpan Zidane, Beckham, atau Luiz Figo. Sepeninggalan Robinho ke Manhcester City, Madrid kehilangan sosok yang bisa membalikkan keadaan.
Kunci permainan tim ada pada pemain tengah. Bola hanya sebuah makna, menjadi kalah, imbang, atau menang. Makna bola tersebut ditentukan oleh kuatnya kesebelasan itu bertahan dan menggetarkan gawang. Namun, makna hanya bisa tercipta jika ada jembatan antara, seperti bahasa pada komunikasi untuk menyampaikan pesan. Pemain tengah adalah jembatan, kunci komunikasi kesebelasan. Kemenangan hanya bisa diperoleh, jika daerah tengah dikuasai dan bola lebih banyak dialirkan ke daerah penyerangan yang kosong dan berpeluang gol.
Belum ada yang bisa menggantikan Ryan Giggs dan Paul Scholes, sekalipun bukan lagi muda, di skuad Maschester United. Ferguson memahami betul perang retorika yang terjadi pada setiap laga. Lapangan tengah memang ajang berdebatan, sebuah antithesis, untuk melahirkan makna pada kesimpulan. Menang atau kalah. Karena itu, jenderal lapangan tengah mesti diisi oleh sosok yang cerdas dalam perdebatan, memahami prinsip silogisme pada skema permainan bola, menjalin dan memintal premis-premis dari kaki ke kaki. Sebuah kesimpulan adalah sentuhan manis seorang penyerang yang membuahkan gol, setelah antithesis itu dimenangkan sang pemain tengah. Madrid belum memiliki Lampard, Deco, Kaka, Gerald, Xavi, Iniesta, Sagnol, Ribery.
Pribadi penengah sangat dibutuhkan di saat krusial atau pada moment pengambilan keputusan. Penengah selalu mempertimbangkan aspek plus minus, tidak terjebak dalam sebuah kutub, tidak berkepentingan, atau punya ongkos. Makna tanpa sayap bisa saja diputuskan oleh jiwa penengah. Dampaknya tidak sampai mengecewakan banyak pihak atau sekurang-kurangnya mampu meredam gejolak. Risikonya, pemain tengah selalu dalam posisi tidak enak. Disikut dari atas dan dari bawah. Namun, jika memiliki retorika yang kuat, sikutan itu hanyalah angin lalu dan berbuah pujian. Del Piero, dialah yang memiliki retorika sesungguhnya pada pekan ini.(*)

Menghormati Tokoh Belakang Layar

Korea Selatan menjadi pembunuh yang menakutkan saat diasuh Guus Hiddink. Nama besar Portugal, Spanyol, dan Italy terkubur oleh sebuah tim yang masuk putaran final Piala Dunia 2002 karena faktor tuan rumah. Sentuhan ‘total football’ Hiddink saat itu terasa begitu pas dengan mental ‘wajib militer’ pemain Korea. Hiddink betul tahu karakter ngotot Korea, lantas mengubah tim tersebut menjadi pekerja keras, dengan serangan yang sistematis, runtut, dan tak mau tahu. Mereka menyerang seperti serigala lapar, berlari seperti dikejar anjing, dan bertahan laksana benteng Versailes.
Sukses Hiddink berlanjut di Australia. Setelah sepak bola Australia tidur selama 32 tahun, Hiddink datang dan memoles tim tersebut hingga lolos ke putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman. Faktor Hiddink kembali kental pada kesebelasan Australia. Hiddink membuktikan, ramuan pemain kancah lokal dan liga tak populer tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika sebuah tim tersusun dari orang-orang yang tepat pada posisinya, dari manapun asalnya, punya rasa kebersamaan yang solid, tim tersebut telah lahir menjadi raksasa.
Hiddink seperti ‘kuda troya’ saat Rusia mengalahkan Belanda (3-1) di Stadion St Jakob Park, Basel, Swiss, pada laga Piala Eropa beberapa waktu lalu. Ketika itu Belanda dielu-elukan sebagai kandidat kuat juara Piala Eropa karena penampilan tak pernah kalah pada babak penyisihan laga tersebut. Sementara itu, Rusia masih terseok-seok setelah kalah dari Jerman. Namun, Belanda terporak-poranda. ‘Total Football’ milik Hiddink dan Rusia lebih ganas. Hiddink dianggap pengkhianat, seorang ‘The Greatest Dutch Traitor’ di Belanda, tetapi menjadi pahlawan sejajar kaisar terpopuler Nicholas Tsar II di Rusia.
Seorang pelatih adalah sang motivator. Keutamaan tertingginya adalah telepati. Yang dilihat pelatih bukan sekedar nama besar dan keterampilan individual. Pelatih perlu memahami elan vital atau ngeh yang menggelora dari seorang pemain. Keterampilan individual hanya bentukan kasar, tetapi kematangan, kecintaan, solidaritas, daya juang, dan kebudayaan adalah forma esensial dari roh permainan.
David Beckham dan Michael Owen pantas terlempar dari skuad Inggris besutan Fabio Capello. Pelatih yang terkenal disiplin dan tegas tersebut tidak membutuhkan faktor kebintangan, tetapi totalitas. Kematangan, kecintaan, solidaritas boleh ada pada Beckham dan Owen, tetapi daya juang keduanya sudah luntur. Permainan 90 menit waktu normal sangat butuh titik didih 100 derajat, tanpa menyisakan ruang kehilangan kesempatan sepersekian detik pun. Sekali kesalahan tercetak, blunder atau bunuh diri bakal terjadi. Bagaimana pun juga, kemenangan lebih baik daripada hasil seri atau kalah.
Ketika membawa Brasil juara lima kali di ajang Piala Dunia 2002, Luiz Felipe Scolari tahu betul kelemahan dasar Brasil. Bagi Scolari, sepak bola adalah perang. Kemenangan tidak bisa diraih tanpa persiapan matang, disiplin membaja, dan kebersamaan. Brasil saat itu terlalu individual, mementingkan pesona daripada hasil akhir, tidak efisien dan disiplin dalam bermain. Setelah ‘dikerjain’ Scolari, banyak pihak yang mengkritik Brasil karena meninggalkan sepak bola indah. Namun, ketika trofi Piala Dunia diangkat sang kapten Dunga, semua orang lantas melupakan sentuhan beda Scolari. Padahal, Scolari adalah tokoh belakang layar yang melambungkan Ronaldinho dan Ronaldo saat itu.
Harus diakui, betapa pentingnya tokoh belakang layar dalam setiap kesuksesan yang diraih. Diri sendiri kadang merasa pesimis, tidak sadar akan potensi ‘liar’ yang menggelora dalam diri, boros tidak pada tempatnya, menjadi sangat individual, dan mudah menyerah. Namun, tokoh belakang layar selalu punya pendapat kedua, yang menapis segala pesimisme menjadi optimisme, mematung kita dari bentuknya yang paling kasar menjadi liat, kuat, dan unggul. Mereka tahu menempatkan kita pada porsi yang pas. Sayangnya, banyak yang melupakan tokoh belakang layar setelah meraih sukses.
Genderang perang kini sudah ditabuh. Rusia dan Jerman kembali beradu hadap. Hiddink sudah memompa motivasi Rusia untuk tidak gentar terhadap siapapun. Sementara itu, Jerman masih beraroma nama besar. Selain menyoraki permainan, mari kita mengarahkan sebentuk terima kasih pada tokoh belakang layar.(*)

Cassilas, Memilih Lev Yashin atau Higuita?

Tidak banyak kiper yang disanjung dan dihargai pemain terbaik. Posisi kiper hanya penting di saat pemain lawan menyerang. Sesudah itu, kiper seolah dilupakan. Beberapa kiper tersohor justru karena aksi eksentriknya di lapangan hijau. Sebut saja aksi akrobatik mantan kiper nasional Kolumbia aRene Higuita. Pada pertandingan persahabatan versus Inggris tahun 1996, bola tendangan Jamie Redknapp tidak ia tangkap. Higuita memilih menghalau bola dengan gaya kalajengking. Bola diblok dengan kedua kaki ditekuk di atas kepala.
Higuita, juga Jorge Campos (Meksiko), Jose Luiz Chilavert (Paraguay), dan Rogerio Ceni (Brasil) merasa tidak puas dengan penjara kecil di area gawang. Sesekali eksistensinya sebagai pemain ditunjukkan dengan keluar dari area gawang dan membantu menyerang, mengambil tendangan bebas, atau penalti. “Seorang kiper hebat biasanya memiliki gabungan antara kejeniusan dan sedikit kegilaan," ujar Higuita.
Kiper tidak pernah setengah hati menjaga gawangnya. Keberanian menghadapi lawan, dalam posisi sesulit apapun, di tengah kerumunan pemain, pada lesakan keras bola menggelinding, kiper mau tidak mau mempertaruhkan harga diri dan kebanggaan timnya dari kutukan kebobolan. Riwayat sang kiper ditentukan oleh seberani dirinya menghalau bola dari gawang.
Cara mencintai si kulit bundar pun berbeda. Sebelum ditendang, bola lebih dulu dipeluk bahkan dicium. Persahabatan dengan bola menjadi lebih lembut, seperti kasih sayang seorang ibu yang menanti anaknya pulang dalam dekapannya setelah berpisah dalam jarak tendang. Mereka paling tahu arti ‘durhaka’, yaitu ketika anaknya mencoba melintasi daerah ibu dan meronta-ronta sambil menggetarkan gawang. Keributan ibu dan anak tersebut melecehkan persahabatan dan kekeluargaan tim, lantas ditertawakan lawan.
Kiper menjadi basis pertahanan dan jantung kebanggaan. Pelatih akan berpikir dua kali lebih serius untuk menentukan pemain di posisi mistar gawang tersebut. Sekalipun 10 pemain lainnya bertabur bintang, tanpa kawalan andal sang kiper, ketangguhan 10 pemain tersebut dengan sendirinya sia-sia. Semua orang bergantung pada kecerdasan dan keberanian seorang kiper, sebuah posisi yang elitis sekaligus prestisius.
Tidak heran jika Iker Casillas telah tampil lebih dari 300 kali bagi Real Madrid dan menjadi kiper kedua yang bermain paling banyak bagi tim nasional Spanyol setelah Andoni Zubizarreta, sekalipun masih berumur 27 tahun. Saat Spanyol menjuarai Euro 2008, Casillas menjadi kiper pertama yang menjadi kapten di tim juara turnamen Eropa.
Perjalanan panjang van der Sar tidak bisa dipandang remeh. Gelar juara Liga Champion yang diraih Manchester United adalah berkat kerja keras van der Sar. Dia juga melakukan hal yang sama di ajang Community Shield sebelumnya, menepis tendangan penalti yang pemain The Blues. Van der Sar menjadi pemain yang paling banyak membela tim nasional Belanda sebanyak 128 kali.
Hingga kini, kepiawaian Buffon menjaga gawang di lapangan hijau belum tergantikan di tim nasional Italy dan Klub Juventus. Saat di Piala Dunia 2006, gawangnya tidak tertembus satu gol pun selama 453 menit hingga akhirnya Azzurri menjadi juara dan Buffon mendapatkan Lev Yashin Award sebagai kiper terbaik selama turnamen tersebut.
Mantan kiper nasional Denmark Peter Schmeichel dan kiper Republik Ceko Petr Cech disegani karena memiliki postur yang tegap, tinggi, dan cekatan. Di bawah mistar, mereka dijuluki “Benteng Yang Kokoh”, mirip dengan sebutan popular kiper legendaris Lev Yashin, sang “Laba-Laba Hitam”.
Pada posisi yang tidak perhitungkan bahkan dipadang sebelah mata, sering orang tergoda untuk menyerah. Segala upaya dikerahkan, bila perlu dengan tampil eksentrik di luar kaidah, supaya pandangan orang beralih dan berpihak. Higuita, Cech, Buffon, dan Casillas pernah tergoda untuk hal itu. Namun, bayarannya pun mahal. Ulah esentrik Higuita membuahkan blunder, demikian juga Cech, Buffon, dan Casillas. Berada di luar kaidah justru membuat posisi kita tidak aman dan musuh dengan cepat melihat letak kelengahan. Sedikit sentuhan, pertahanan terakhir dibobol dan kita dipermalukan.
Lev Yashin selalu tampil ulet, seorang pekerja keras di bawah mistar gawang. Pada posisi yang dipandang sebelah mata, Lev Yashin mempersembahkan kepopuleran bukan karena gayanya yang eksentrik, melainkan karena ketekunan dan kesetiaannya menggeluti profesi sesuai kaidah dan etika. Seperti kasih sayang seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya pada sebuah jarak tendang, Lev Yashin tahu betul menaklukkan sifat liar bola. Bila dicintai dengan lembut dan tekun, ia akan memberi berkah.(*)

Wednesday, 6 January 2010

Tevez hingga Benzema, Di mana Kita?

Carlos Tevez memang tidak sepopuler Christian Ronaldo. Juga berbeda dari Kaka dan Benzema. Namun, Tevez mesti diberi tempat istimewa, jika melihat kiprahnya di klub yang baru ditinggalkan Manchester United (MU). Oleh arogan dan sifat spekulatif sang pelatih Sir Alex Ferguson, Tevez akhirnya memutuskan hengkang. Tawaran kontrak baru yang disodorkan MU setelah lama menanti pun ditolak. Tevez lebih memilih pinangan Manchester City, demi mencari suasana baru yang lebih nyaman.

Kaka sebenarnya sudah menjadi ikon AC Milan. Keputusan untuk hijrah dari klub merah hitam itu tidak sepenuhnya kehendak hati. Rumah Kaka sudah terlanjur tertambat di San Siro. Karena saking sayangnya pada klub yang membesarkan namanya itu, Kaka rela angkat kaki ke Real Madrid. Pertama, Kaka menyadari bahwa perannya di Milan sudah mulai memudar, nyaris kehilangan taji pada liga musim kemarin. Kaka butuh cermin yang bisa merefleksikan kembali tajinya, persis bersamaan Milan butuh jenderal tengah baru untuk memperoleh nyawa berikutnya pada liga musim ini. Yang terakhir, Milan memang sedang butuh duit dari penjualan Kaka.

Sementara itu Ronaldo, yang telah berganti kulit menjadi CR9, masih memilih menjadi selebritas di lapangan hijau, ketimbang berdedikasi. Memang tidak ada lagi tujuan yang pantas diraih bersama MU. Sejak bergabung bersama MU 2003 silam, Ronaldo telah menyandang berbagai predikat individual maupun kolegial yang diimpikan semua pemain di daratan Eropa, bahkan dunia. Namun, kepuasan diri Ronaldo kini tengah menjebak dirinya dalam fatamorgana. Ronaldo tidak benar-benar ingin bermain bola di Madrid. Sang CR9 itu butuh Madrid untuk mengangkat pamor prestisiusnya di kancah bola mania.

Ronaldo memang bertalenta. Tetapi, bakat alam dan keahlian terasah itu terasa memudar sejak dirinya hanya dijadikan mesin duit untuk klub sekelas MU dan Madrid. Florentino Perez tidak sepenuhnya tertarik pada prestasi Ronaldo di MU. Yang dicari Perez adalah pajangan untuk menaguk keuntungan. Syukurlah, seandainya Ronaldo bisa memberikan sumbangan terbaiknya sebagai pemain profesional seperti dua sampai tiga musim awal bersama MU. Karena, Ronaldo saat ini tidak lebih dari seorang pemain pemula yang sedang mencari rumah bermainnya kembali.

Sementara itu, Benzema adalah matahari terbit. Sekalipun sudah banyak dibicarakan soal kemahirannya mengolah si kulit bundar, prestasi formalnya di kancah sepak bola internasional masih hijau. Benzema itu potensial, dan belum mencapai titik aktualitas. Masih ada kuncup indah atau tarian yang memikat yang bisa tumbuh dari Benzema. Asal saja ada kesabaran, keuletan, dan daya juang. Madrid boleh jadi menjadi tahta, tempat Benzema meraih mahkota tertingginya sebagai pemain profesional, seperti Kaka, Ronalda, dan Tevez.

Tevez tegas dan prinsipil. Bola tidak bisa memperalat dirinya, atau Ferguson bukan alah-alah baru dari kehidupannya. Dia pantas menentukan sendiri ke mana kakinya berlangkah, dan pada siapa bola itu dilesakkan untuk memperoleh kemenangan. Perjuangan gigihnya di lapangan hijau, berlari dan mengejar bola tiada henti, menjadi pelayan yang baik untuk Rooney dan Ronaldo, tidak juga membuat Ferguson lantas kepincut. Malah terkesan mempermainkannya. Tevez tidak mau diperhamba popularitas dan uang. City adalah pembuktiannya, bahwa dirinyalah penentu hidupnya, dan bola bisa digelindingkan dengan indah di luar Old Trafford.

Kaka bersahaja dan tahu diri. Pada orang atau sesuatu yang dicintainya melebihi diri sendiri, Kaka rela mengorbankan diri. Dia juga tahu batas horizon, letak ketidaksanggupannya, sehingga perlu ruang untuk menarik diri dari orang yang dicintainya sehingga tidak merugikan. Dengan cara itu pula, Kaka memberikan pilihan terbaik untuk Milan: pada saat saya tidak sanggup berprestasi secara total, juallah saya, dan anda (Milan) memperoleh keuntungan.

Ronaldo masih bermimpi, hidup di luar dirinya, dan tak berumah. Dia akan mendapat ujian berat atas bom waktu yang sudah dihidupkan dari keputusannya hijrah ke Madrid dengan transfer yang memecahkan rekor. Ronaldo memang butuh pukulan telak, supaya dia sadar dari mimpinya, kembali membumi di lapangan hijau. Madrid, adalah masa kritis dan cermin diri untuk sang fenomenal tersebut.

Dan Benzema, belajar menjadi besar, dewasa, dan berprestasi. Madrid adalah sekolah ketangkasan yang terlatih, dan bukan permainan bakat alam sang pemain. Sampai di manakah kita pada bulan puasa ini?

YANG MEMBUTAKAN PERMAINAN

Luiz Felipe Scolari dipecat Abramovich sebagai pelatih The Blues Chelsea 9 Februari lalu. Di tangan si milioner Rusia tersebut, Chelsea juga memecat pelatih tangan dingin dan temperamental Jose Mourinho, Avram Grant, dan Claudio Ranieri.

Sama halnya dengan Chealsea, Tony Adams di Portsmouth, Paul Ince di Blackburn Rovers, dan Roy Keane di Sunderland mesti meninggalkan klubnya lebih cepat dari kontrak. Mereka adalah pelatih yang tidak sukses mengangkat citra klub di tengah persaingan ketat dan kerasnya Liga Premier Inggris.

Pelatih Liverpol Rafa Benitez justru sebaliknya mengancam manajemen Liverpol. Dirinya ingin mendapat kebebasan penuh untuk mengatur strategi tim dan menentukan belanja pemain. Benitez bahkan membelakangi tawaran perpanjangan kontrak untuk beberapa saat dan manajemen tidak bisa berkutik. Di samping itu, Arsene Wenger pun melakukan hal yang sama di Arsenal. Dia mengancam hengkang dari Arsenal karena tidak memiliki kebebasan dan ruang financial yang cukup untuk belanja pemain. Perang tersebut berakhir dengan mengalahkan pihak pemegang saham dan membiarkan Wenger mendapuk pemain sesuai selera dan strateginya.

Chelsea bukanlah sebuah investasi, tetapi hobby di mata Abramovich. Namun, Abramovich bukan tipe penikmat berat yang mengagumi bola dari sudut kalah menang. Kekayaan yang berlipat membentuk karakter hobby Abramovich menjadi kekuasaan. Abramovich tidak muncul dari kesadaran membangun fondasi, menikmati sesuatu yang dasariah dan fundamental. Yang terpikirkan hanyalah instanisasi permainan dengan tujuan meraih sejumlah trofi dan predikat terpuji di belahan Eropa.

Bola sedang menghakimi Abramovich. Investasi pemain dan pelatih top di kubu Chelsea tidak pernah membuat Abramovich puas. Kekayaan dan kekuasaan yang besar itu seakan-akan luluh oleh hukum alamiah permainan, yang lebih berpihak pada kesabaran, daya juang, dan soliditas. Sepak bola tidak pernah mengenal pemain tunggal. Tidak juga bisa disetir oleh kekayaan dan kekuasaan. Sebaliknya, sepak bola adalah permainan yang menjunjung tinggi profesionalitas, solidaritas, kepercayaan, dan kekompakan tim.

Scolari, juga Avram, Mourinho, Tony Adams, Paul Inche, dan Roy Keane seolah-olah hanya menjadi mesin dari sebuah sistem kekuasaan dan kekayaan. Mereka adalah garansi dari sebuah instrument, yang diharapkan mampu menegaskan instanisasi permainan dengan cara memaksa. Padahal, orang seperti mereka sangat maklum pada tabiat permainan yang tidak mengenal takdir yang ditentukan dari kekayaan dan kekuasaan. Permainan itu punya hukumnya sendiri dan berjalan apa adanya sesuai nilai dasariah menjadi manusia. Sepak bola bukan sekedar kemenangan, tetapi kehormatan dan harga diri. Kedua hal itu terlahir dari kesetiaan pada nilai pengorbanan, kesabaran, daya juang, kejujuran, dan kerjasama.

Sebagai pelatih yang tak terbutakan oleh uang dan kuasa, Benitez dan Wenger tidak ingin terjebak. Tidak ada yang berhak memanfaatkan seseorang demi mencari kepuasan diri dalam permainan sepak bola. Tidak juga pemilik modal, pelatih, atau pemain. Sebelum klub tersebut terkikis oleh penjara kerdil, Benitez dan Wenger lebih dulu menancapkan bendera kemanusiaan. Pasang surut permainan merupakan bagian dari dinamika menjadi manusia di atas lapangan hijau. Uang dan kekuasaan hanya jembatan untuk mencapai pemenuhan kemenjadian tersebut.

Kisah Abramovich, Scholari, bahkan Mourinho, Paul Inche, dan Roy Keane adalah perhambaan pada uang dan kekuasaan. Giuran duet maut itu selalu berujung pada bencana, jika si empunya ambisi tersebut tidak bisa lagi menemukan titik keseimbangan. Sebaiknya, tatanan tersebut dikembalikan pada pemenuhan kewajiban yang pantas dari kesadaran bersosialitas. Permainan, apapun bentuknya, akan mengembalikan roda perputaran pada sumbu yang benar. Kejujuran dan kebenaran tidak pernah mengalah untuk mencari keseimbangan baru, dari sesuatu yang janggal dan tamak. Sepak bola kembali menjadi pelajaran untuk memahami arti menghargai setiap tetes keringat yang dikorbankan setiap manusia.(*)

ABRAMOVICH DAN SCOLARI: Yang Membutakan Permainan

Luiz Felipe Scolari dipecat Abramovich sebagai pelatih The Blues Chelsea 9 Februari lalu. Di tangan si milioner Rusia tersebut, Chelsea juga memecat pelatih tangan dingin dan temperamental Jose Mourinho, Avram Grant, dan Claudio Ranieri.

Sama halnya dengan Chealsea, Tony Adams di Portsmouth, Paul Ince di Blackburn Rovers, dan Roy Keane di Sunderland mesti meninggalkan klubnya lebih cepat dari kontrak. Mereka adalah pelatih yang tidak sukses mengangkat citra klub di tengah persaingan ketat dan kerasnya Liga Premier Inggris.

Pelatih Liverpol Rafa Benitez justru sebaliknya mengancam manajemen Liverpol. Dirinya ingin mendapat kebebasan penuh untuk mengatur strategi tim dan menentukan belanja pemain. Benitez bahkan membelakangi tawaran perpanjangan kontrak untuk beberapa saat dan manajemen tidak bisa berkutik. Di samping itu, Arsene Wenger pun melakukan hal yang sama di Arsenal. Dia mengancam hengkang dari Arsenal karena tidak memiliki kebebasan dan ruang financial yang cukup untuk belanja pemain. Perang tersebut berakhir dengan mengalahkan pihak pemegang saham dan membiarkan Wenger mendapuk pemain sesuai selera dan strateginya.

Chelsea bukanlah sebuah investasi, tetapi hobby di mata Abramovich. Namun, Abramovich bukan tipe penikmat berat yang mengagumi bola dari sudut kalah menang. Kekayaan yang berlipat membentuk karakter hobby Abramovich menjadi kekuasaan. Abramovich tidak muncul dari kesadaran membangun fondasi, menikmati sesuatu yang dasariah dan fundamental. Yang terpikirkan hanyalah instanisasi permainan dengan tujuan meraih sejumlah trofi dan predikat terpuji di belahan Eropa.

Bola sedang menghakimi Abramovich. Investasi pemain dan pelatih top di kubu Chelsea tidak pernah membuat Abramovich puas. Kekayaan dan kekuasaan yang besar itu seakan-akan luluh oleh hukum alamiah permainan, yang lebih berpihak pada kesabaran, daya juang, dan soliditas. Sepak bola tidak pernah mengenal pemain tunggal. Tidak juga bisa disetir oleh kekayaan dan kekuasaan. Sebaliknya, sepak bola adalah permainan yang menjunjung tinggi profesionalitas, solidaritas, kepercayaan, dan kekompakan tim.

Scolari, juga Avram, Mourinho, Tony Adams, Paul Inche, dan Roy Keane seolah-olah hanya menjadi mesin dari sebuah sistem kekuasaan dan kekayaan. Mereka adalah garansi dari sebuah instrument, yang diharapkan mampu menegaskan instanisasi permainan dengan cara memaksa. Padahal, orang seperti mereka sangat maklum pada tabiat permainan yang tidak mengenal takdir yang ditentukan dari kekayaan dan kekuasaan. Permainan itu punya hukumnya sendiri dan berjalan apa adanya sesuai nilai dasariah menjadi manusia. Sepak bola bukan sekedar kemenangan, tetapi kehormatan dan harga diri. Kedua hal itu terlahir dari kesetiaan pada nilai pengorbanan, kesabaran, daya juang, kejujuran, dan kerjasama.

Sebagai pelatih yang tak terbutakan oleh uang dan kuasa, Benitez dan Wenger tidak ingin terjebak. Tidak ada yang berhak memanfaatkan seseorang demi mencari kepuasan diri dalam permainan sepak bola. Tidak juga pemilik modal, pelatih, atau pemain. Sebelum klub tersebut terkikis oleh penjara kerdil, Benitez dan Wenger lebih dulu menancapkan bendera kemanusiaan. Pasang surut permainan merupakan bagian dari dinamika menjadi manusia di atas lapangan hijau. Uang dan kekuasaan hanya jembatan untuk mencapai pemenuhan kemenjadian tersebut.

Kisah Abramovich, Scholari, bahkan Mourinho, Paul Inche, dan Roy Keane adalah perhambaan pada uang dan kekuasaan. Giuran duet maut itu selalu berujung pada bencana, jika si empunya ambisi tersebut tidak bisa lagi menemukan titik keseimbangan. Sebaiknya, tatanan tersebut dikembalikan pada pemenuhan kewajiban yang pantas dari kesadaran bersosialitas. Permainan, apapun bentuknya, akan mengembalikan roda perputaran pada sumbu yang benar. Kejujuran dan kebenaran tidak pernah mengalah untuk mencari keseimbangan baru, dari sesuatu yang janggal dan tamak. Sepak bola kembali menjadi pelajaran untuk memahami arti menghargai setiap tetes keringat yang dikorbankan setiap manusia.(*)