Di penghujung tahun lalu, Manchester United (MU) keluar sebagai juara dunia antarklub di International Stadium Yokohama, Jepang, menundukkan wakil Amerika Latin, Liga de Quito dari Ekuador, 1-0. MU hadir di Yokohama setelah meraih tropi Liga Champions, dan Juara Liga Premier Inggris. Namun, MU bukan klub yang tidak pernah kalah. Tropi Juara Dunia Antarklub adalah dominasi kemenangan, namun tidak tanpa kalah. Klub sekelas MU pun perlu tertatih-tatih merengkuh tropi.
Berdasarkan catatan majalah Forbes, MU adalah klub dengan nilai kekayaan tertinggi. Setan Merah, julukan klub tersebut diperkirakan memiliki aset sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 16,6 triliun. Nilai tersebut terpaut cukup jauh dari Real Madrid diurutan kedua dengan total kekayaan US$ 1,285 miliar atau sekitar Rp 12 triliun. Sementara itu, Arsenal di tempat ketiga hanya membukukan kekayaan sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 11 triliun, terpaut Rp 5,6 triliun dari MU.
Belum ada tokoh yang bisa menggantikan peran Sir Alex Ferguson sebagai pelatih MU. Opa bertangan dingin itu sudah 21 tahun malang melintang sebagai pelatih MU dan telah mempersembahkan 20 gelar bergengsi---17 Premier League dan 3 Liga Champions ---bagi Setan Merah. Selain itu, sudah banyak pemain bertalenta, berkelas, dan menjadi langganan tim nasional lahir dari besutannya. Ferguson terakhir menyatakan akan segera pensiun sebagai pelatih MU dalam tiga tahun ke depan. Namun, lepas sebagai pelatih diprediksi hidup pelatih asal Skotlandia itu tidak akan jauh dari MU.
Sekalipun tercecer di peringkat ketiga Liga Premier Inggris tahun ini, MU masih berpeluang mengukir prestasi dengan tetap berada di jalur juara. MU juga lolos ke babak perdelapanfinal Liga Champions, dan sudah memastikan satu tempat di semifinal Piala Carling. Sementara itu, Piala FA baru akan mereka jalani pada Januari 2009. Bukan tidak mungkin, lebih dari dua tropi akan kembali direngkuh Setan Merah tahun ini.
Tak kalah fantastis, Barcelona di Spanyol memuncaki klasemen La Liga dengan perfoma brilian. Dari 16 pertandingan yang sudah dilakoni, pasukan Josep Guardiola itu sudah memenangi 13 laga di antaranya. Sisanya berakhir dengan dua hasil imbang dan satu kekalahan. Dari 16 pertandingan itu, Barcelona hanya kemasukkan 10 gol dan berhasil memasukkan 48 gol ke gawang lawan. Hegemoni itu pun sempurna dengan melumat Real Madrid (2-0) pada laga klasik jelang akhir tahun lalu.
Dua musim sebelumnya Barcelona berada di bawah bayang-bayang Real Madrid. Musim lalu, Barcelona kalah saing menyakitkan dengan rival beratnya itu, karena mesti menyerahkan gelar La Liga pada partai terakhir. Real Madrid menang fantastis dan menguburkan impian Barcelona. Namun, keadaan saat ini sedang berbalik. Selisih 12 point dengan Madrid membuat Barcelona berjalan tegak karena merasa telah menemukan pil penawar untuk luka liga di musim lalu tersebut.
MU dan Barcelona memahami betul filosofi bola. Bola dan pertandingan hanyalah ruang manusia. Pemain, pelatih, penonton dalam perannya masing-masing mendandani pertandingan. Kesalahan pada bola hanya melucuti pertandingan, tetapi kesalahan manusia pada pertandingan melucuti martabat. Bola yang kempes menghentikan pertandingan, tetapi pemain yang berulah mencemooh kemanusiaan.
Tidak ada permukaan yang tetap pada bola. Semua mengalir dan berubah. Dalam perubahan tersebut, ada tujuan yang tetap, yang tidak berubah. Gol dan kemenangan, atau jatuh kalah. Setiap perubahan harus disikapi dengan kerja keras dan kepaduan. Setiap pertandingan adalah final, sedangkan kekalahan merupakan cambuk dalam dinamika. Karena itu, senjata yang paling ampuh dalam menghadapi setiap perubahan dalam siap siaga, juga kebesaran jiwa untuk belajar dari keterpurukan. Dengan cara itu pulalah, kita bisa merayakan kemanusiaan dalam setiap perubahan waktu. Selamat menempuh hari-hari di Tahun Baru!(*)
Friday, 29 January 2010
Ketika Bola Menjadi Rasial
Emile Heskey menjadi korban saat Kroasia menjamu Inggris pada kualifikasi Piala Dunia di Stadion Maksimir, Zagreb, 10 September lalu. Kekecewaan pendukung fanatik Kroasia saat itu tak terbendung. Sejak pertama pluit dibunyikan dan bola disepak, Kroasia sudah sangat yakin kembali akan menggulung Inggris. Menurut mereka, kekalahan Inggris di ajang Piala Eropa kemarin adalah takdir. Kroasia tak akan takluk jika melawan Inggris.
Kroasia lupa. Permainan tak pernah mengenal takdir. Dinamika perseteruan selalu memberikan ruang kosong untuk kalah atau dikalahkan. Di atas lapangan hijau, Inggris dan Kroasia sama-sama berpeluang untuk menang dan kalah, sekalipun kenyataannya akan berakhir dengan menyakitkan. Kroasia tak mampu membendung kekecewaan, lantas mengejek Heskey dengan menirukan suara dan gerakan monyet. Rasialisme kembali berwajah galak!
Kasus yang sama pun pernah menimpa Thierry Henry. Kali ini yang melontarkan cemoohan adalah pelatih sepak bola nasional Spanyol Luis Aragones. Sementara itu, dua musim lalu striker Barcelona Samuel Eto`o mengancam akan meninggalkan lapangan setelah dihina para penonton dalam pertandingan melawan Real Zaragoza. Striker Rumania dan Fiorentina Adrian Mutu, salah satu pemain terbaik dalam liga, berulang kali disebut "orang jipsi" oleh penggemar lawan. Striker Inter Milan Zlatan Ibrahimovic, orang Swedia tapi keturunan Bosnia, juga disebut "jipsi" oleh penggemar Juventus yang berang terhadap dia karena meninggalkan klub ketika mereka terdegradasi karena pengaturan skor.
Ranah sepak bola seharusnya berada di pusaran humanisme, antara penghargaan terhadap kreativitas dan nilai-nilai luhur keadaban, antara nasionalisme dan universalisme. Sepak bola mesti jauh dari semangat chauvinisme, membangga-banggakan sesuatu yang parsial dan fanatik.
Tahap demi tahap sepak bola bukan lagi sekedar sebuah permainan. Pada saat sepak bola masuk dalam parade perdamaian antarbenua bertaraf olimpiade, aspek pertarungan tersebut masih bisa dijinakkan. Namun, aspek perdamaian pun bergeser pelahan, ketika sepak bola digelar dalam kompetisi piala dunia. Percumbuan yang sejuk antarnegara itu direcoki dengan fanatisme negara. Keruntuhan pun menyeruak lebar saat sepak bola dipanjikan dalam kompetisi setaraf liga. Tanggung jawab moril untuk sebuah solidaritas semakin menipis, terpecah-pecah dalam semangat individual, golongan, dan susah dikontrol. Semakin kecil kelompok minatnya, justru makin keras gesekannya.
Inilah akibatnya jika sepak bola telah menjadi berhala modern. Jebakannya terukur melalui mekanisme yang formalis dan konvensional. Jika tidak menang, sebuah klub dan para pemainnya akan dicaci maki. Namun, jika menang, mereka akan disanjung-sanjung. Loyalitas terhadap aspek humanitas tercopot dari kerangka universalitas. Gaya mencintai pada permainan tersebut berubah brutal dan infantil. Karena itu, di mata para penonton, para pemain hanya instrumen pemuas. Sementara itu, bola adalah emosi yang ditendang-tendang dari satu sudut ke sudut lain. Inilah pula kecenderungan modernitas, memandang sesama secara formal dan fungsional, sejauh orang lain mampu memuaskan sebentuk keinginan ego. Jika ego tak terpuas, kata-kata hujatan seperti yang ditimpakan pada Heskey akan terus berulang. Jagalah hatimu!
Kroasia lupa. Permainan tak pernah mengenal takdir. Dinamika perseteruan selalu memberikan ruang kosong untuk kalah atau dikalahkan. Di atas lapangan hijau, Inggris dan Kroasia sama-sama berpeluang untuk menang dan kalah, sekalipun kenyataannya akan berakhir dengan menyakitkan. Kroasia tak mampu membendung kekecewaan, lantas mengejek Heskey dengan menirukan suara dan gerakan monyet. Rasialisme kembali berwajah galak!
Kasus yang sama pun pernah menimpa Thierry Henry. Kali ini yang melontarkan cemoohan adalah pelatih sepak bola nasional Spanyol Luis Aragones. Sementara itu, dua musim lalu striker Barcelona Samuel Eto`o mengancam akan meninggalkan lapangan setelah dihina para penonton dalam pertandingan melawan Real Zaragoza. Striker Rumania dan Fiorentina Adrian Mutu, salah satu pemain terbaik dalam liga, berulang kali disebut "orang jipsi" oleh penggemar lawan. Striker Inter Milan Zlatan Ibrahimovic, orang Swedia tapi keturunan Bosnia, juga disebut "jipsi" oleh penggemar Juventus yang berang terhadap dia karena meninggalkan klub ketika mereka terdegradasi karena pengaturan skor.
Ranah sepak bola seharusnya berada di pusaran humanisme, antara penghargaan terhadap kreativitas dan nilai-nilai luhur keadaban, antara nasionalisme dan universalisme. Sepak bola mesti jauh dari semangat chauvinisme, membangga-banggakan sesuatu yang parsial dan fanatik.
Tahap demi tahap sepak bola bukan lagi sekedar sebuah permainan. Pada saat sepak bola masuk dalam parade perdamaian antarbenua bertaraf olimpiade, aspek pertarungan tersebut masih bisa dijinakkan. Namun, aspek perdamaian pun bergeser pelahan, ketika sepak bola digelar dalam kompetisi piala dunia. Percumbuan yang sejuk antarnegara itu direcoki dengan fanatisme negara. Keruntuhan pun menyeruak lebar saat sepak bola dipanjikan dalam kompetisi setaraf liga. Tanggung jawab moril untuk sebuah solidaritas semakin menipis, terpecah-pecah dalam semangat individual, golongan, dan susah dikontrol. Semakin kecil kelompok minatnya, justru makin keras gesekannya.
Inilah akibatnya jika sepak bola telah menjadi berhala modern. Jebakannya terukur melalui mekanisme yang formalis dan konvensional. Jika tidak menang, sebuah klub dan para pemainnya akan dicaci maki. Namun, jika menang, mereka akan disanjung-sanjung. Loyalitas terhadap aspek humanitas tercopot dari kerangka universalitas. Gaya mencintai pada permainan tersebut berubah brutal dan infantil. Karena itu, di mata para penonton, para pemain hanya instrumen pemuas. Sementara itu, bola adalah emosi yang ditendang-tendang dari satu sudut ke sudut lain. Inilah pula kecenderungan modernitas, memandang sesama secara formal dan fungsional, sejauh orang lain mampu memuaskan sebentuk keinginan ego. Jika ego tak terpuas, kata-kata hujatan seperti yang ditimpakan pada Heskey akan terus berulang. Jagalah hatimu!
Subscribe to:
Comments (Atom)