Emile Heskey menjadi korban saat Kroasia menjamu Inggris pada kualifikasi Piala Dunia di Stadion Maksimir, Zagreb, 10 September lalu. Kekecewaan pendukung fanatik Kroasia saat itu tak terbendung. Sejak pertama pluit dibunyikan dan bola disepak, Kroasia sudah sangat yakin kembali akan menggulung Inggris. Menurut mereka, kekalahan Inggris di ajang Piala Eropa kemarin adalah takdir. Kroasia tak akan takluk jika melawan Inggris.
Kroasia lupa. Permainan tak pernah mengenal takdir. Dinamika perseteruan selalu memberikan ruang kosong untuk kalah atau dikalahkan. Di atas lapangan hijau, Inggris dan Kroasia sama-sama berpeluang untuk menang dan kalah, sekalipun kenyataannya akan berakhir dengan menyakitkan. Kroasia tak mampu membendung kekecewaan, lantas mengejek Heskey dengan menirukan suara dan gerakan monyet. Rasialisme kembali berwajah galak!
Kasus yang sama pun pernah menimpa Thierry Henry. Kali ini yang melontarkan cemoohan adalah pelatih sepak bola nasional Spanyol Luis Aragones. Sementara itu, dua musim lalu striker Barcelona Samuel Eto`o mengancam akan meninggalkan lapangan setelah dihina para penonton dalam pertandingan melawan Real Zaragoza. Striker Rumania dan Fiorentina Adrian Mutu, salah satu pemain terbaik dalam liga, berulang kali disebut "orang jipsi" oleh penggemar lawan. Striker Inter Milan Zlatan Ibrahimovic, orang Swedia tapi keturunan Bosnia, juga disebut "jipsi" oleh penggemar Juventus yang berang terhadap dia karena meninggalkan klub ketika mereka terdegradasi karena pengaturan skor.
Ranah sepak bola seharusnya berada di pusaran humanisme, antara penghargaan terhadap kreativitas dan nilai-nilai luhur keadaban, antara nasionalisme dan universalisme. Sepak bola mesti jauh dari semangat chauvinisme, membangga-banggakan sesuatu yang parsial dan fanatik.
Tahap demi tahap sepak bola bukan lagi sekedar sebuah permainan. Pada saat sepak bola masuk dalam parade perdamaian antarbenua bertaraf olimpiade, aspek pertarungan tersebut masih bisa dijinakkan. Namun, aspek perdamaian pun bergeser pelahan, ketika sepak bola digelar dalam kompetisi piala dunia. Percumbuan yang sejuk antarnegara itu direcoki dengan fanatisme negara. Keruntuhan pun menyeruak lebar saat sepak bola dipanjikan dalam kompetisi setaraf liga. Tanggung jawab moril untuk sebuah solidaritas semakin menipis, terpecah-pecah dalam semangat individual, golongan, dan susah dikontrol. Semakin kecil kelompok minatnya, justru makin keras gesekannya.
Inilah akibatnya jika sepak bola telah menjadi berhala modern. Jebakannya terukur melalui mekanisme yang formalis dan konvensional. Jika tidak menang, sebuah klub dan para pemainnya akan dicaci maki. Namun, jika menang, mereka akan disanjung-sanjung. Loyalitas terhadap aspek humanitas tercopot dari kerangka universalitas. Gaya mencintai pada permainan tersebut berubah brutal dan infantil. Karena itu, di mata para penonton, para pemain hanya instrumen pemuas. Sementara itu, bola adalah emosi yang ditendang-tendang dari satu sudut ke sudut lain. Inilah pula kecenderungan modernitas, memandang sesama secara formal dan fungsional, sejauh orang lain mampu memuaskan sebentuk keinginan ego. Jika ego tak terpuas, kata-kata hujatan seperti yang ditimpakan pada Heskey akan terus berulang. Jagalah hatimu!
No comments:
Post a Comment