Kekalahan Real Madrid atas Juventus adalah yang paling membekas di ajang penyisihan Liga Champions pekan ini. Selain karena keberuntungan seorang Alessandro Del Piero, skuad Madrid pantas mendapat koreksi. Pasukan Bernd Schuster sama sekali tidak menunjukkan kualitas pemain bintang dan hanya berharap akan terjadi keajaiban, seperti yang pernah dilakukan Higuin atau Snijder pada laga-laga sebelumnya. Boleh dibilang, Madrid tengah memasuki masa krisis, di saat musuh bebuyutannya Barcelona sedang garang.
Kelemahan Madrid ada di sektor tengah. Madrid tidak bisa lagi bergantung pada Guti yang sudah uzur. Lagipula, Guti bukan pemain tengah yang cocok dengan jiwa keseluruhan pemain Madrid. Sneijder yang diharapkan bisa menutup lubang tengah ternyata lebih banyak masuk bilik perawatan karena cedera. Diarra dan Drenthe hanya jangkar belakang yang dipaksa menyusuri lapangan tengah untuk memasok bola ke titik penyerangan. Tak ayal, Nistelrooy, Raul, Higuin terus frustrasi dan Cassilas berteriak sepanjang permainan. Aliran bola tidak lagi seempuk umpan Zidane, Beckham, atau Luiz Figo. Sepeninggalan Robinho ke Manhcester City, Madrid kehilangan sosok yang bisa membalikkan keadaan.
Kunci permainan tim ada pada pemain tengah. Bola hanya sebuah makna, menjadi kalah, imbang, atau menang. Makna bola tersebut ditentukan oleh kuatnya kesebelasan itu bertahan dan menggetarkan gawang. Namun, makna hanya bisa tercipta jika ada jembatan antara, seperti bahasa pada komunikasi untuk menyampaikan pesan. Pemain tengah adalah jembatan, kunci komunikasi kesebelasan. Kemenangan hanya bisa diperoleh, jika daerah tengah dikuasai dan bola lebih banyak dialirkan ke daerah penyerangan yang kosong dan berpeluang gol.
Belum ada yang bisa menggantikan Ryan Giggs dan Paul Scholes, sekalipun bukan lagi muda, di skuad Maschester United. Ferguson memahami betul perang retorika yang terjadi pada setiap laga. Lapangan tengah memang ajang berdebatan, sebuah antithesis, untuk melahirkan makna pada kesimpulan. Menang atau kalah. Karena itu, jenderal lapangan tengah mesti diisi oleh sosok yang cerdas dalam perdebatan, memahami prinsip silogisme pada skema permainan bola, menjalin dan memintal premis-premis dari kaki ke kaki. Sebuah kesimpulan adalah sentuhan manis seorang penyerang yang membuahkan gol, setelah antithesis itu dimenangkan sang pemain tengah. Madrid belum memiliki Lampard, Deco, Kaka, Gerald, Xavi, Iniesta, Sagnol, Ribery.
Pribadi penengah sangat dibutuhkan di saat krusial atau pada moment pengambilan keputusan. Penengah selalu mempertimbangkan aspek plus minus, tidak terjebak dalam sebuah kutub, tidak berkepentingan, atau punya ongkos. Makna tanpa sayap bisa saja diputuskan oleh jiwa penengah. Dampaknya tidak sampai mengecewakan banyak pihak atau sekurang-kurangnya mampu meredam gejolak. Risikonya, pemain tengah selalu dalam posisi tidak enak. Disikut dari atas dan dari bawah. Namun, jika memiliki retorika yang kuat, sikutan itu hanyalah angin lalu dan berbuah pujian. Del Piero, dialah yang memiliki retorika sesungguhnya pada pekan ini.(*)
Thursday, 7 January 2010
Menghormati Tokoh Belakang Layar
Korea Selatan menjadi pembunuh yang menakutkan saat diasuh Guus Hiddink. Nama besar Portugal, Spanyol, dan Italy terkubur oleh sebuah tim yang masuk putaran final Piala Dunia 2002 karena faktor tuan rumah. Sentuhan ‘total football’ Hiddink saat itu terasa begitu pas dengan mental ‘wajib militer’ pemain Korea. Hiddink betul tahu karakter ngotot Korea, lantas mengubah tim tersebut menjadi pekerja keras, dengan serangan yang sistematis, runtut, dan tak mau tahu. Mereka menyerang seperti serigala lapar, berlari seperti dikejar anjing, dan bertahan laksana benteng Versailes.
Sukses Hiddink berlanjut di Australia. Setelah sepak bola Australia tidur selama 32 tahun, Hiddink datang dan memoles tim tersebut hingga lolos ke putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman. Faktor Hiddink kembali kental pada kesebelasan Australia. Hiddink membuktikan, ramuan pemain kancah lokal dan liga tak populer tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika sebuah tim tersusun dari orang-orang yang tepat pada posisinya, dari manapun asalnya, punya rasa kebersamaan yang solid, tim tersebut telah lahir menjadi raksasa.
Hiddink seperti ‘kuda troya’ saat Rusia mengalahkan Belanda (3-1) di Stadion St Jakob Park, Basel, Swiss, pada laga Piala Eropa beberapa waktu lalu. Ketika itu Belanda dielu-elukan sebagai kandidat kuat juara Piala Eropa karena penampilan tak pernah kalah pada babak penyisihan laga tersebut. Sementara itu, Rusia masih terseok-seok setelah kalah dari Jerman. Namun, Belanda terporak-poranda. ‘Total Football’ milik Hiddink dan Rusia lebih ganas. Hiddink dianggap pengkhianat, seorang ‘The Greatest Dutch Traitor’ di Belanda, tetapi menjadi pahlawan sejajar kaisar terpopuler Nicholas Tsar II di Rusia.
Seorang pelatih adalah sang motivator. Keutamaan tertingginya adalah telepati. Yang dilihat pelatih bukan sekedar nama besar dan keterampilan individual. Pelatih perlu memahami elan vital atau ngeh yang menggelora dari seorang pemain. Keterampilan individual hanya bentukan kasar, tetapi kematangan, kecintaan, solidaritas, daya juang, dan kebudayaan adalah forma esensial dari roh permainan.
David Beckham dan Michael Owen pantas terlempar dari skuad Inggris besutan Fabio Capello. Pelatih yang terkenal disiplin dan tegas tersebut tidak membutuhkan faktor kebintangan, tetapi totalitas. Kematangan, kecintaan, solidaritas boleh ada pada Beckham dan Owen, tetapi daya juang keduanya sudah luntur. Permainan 90 menit waktu normal sangat butuh titik didih 100 derajat, tanpa menyisakan ruang kehilangan kesempatan sepersekian detik pun. Sekali kesalahan tercetak, blunder atau bunuh diri bakal terjadi. Bagaimana pun juga, kemenangan lebih baik daripada hasil seri atau kalah.
Ketika membawa Brasil juara lima kali di ajang Piala Dunia 2002, Luiz Felipe Scolari tahu betul kelemahan dasar Brasil. Bagi Scolari, sepak bola adalah perang. Kemenangan tidak bisa diraih tanpa persiapan matang, disiplin membaja, dan kebersamaan. Brasil saat itu terlalu individual, mementingkan pesona daripada hasil akhir, tidak efisien dan disiplin dalam bermain. Setelah ‘dikerjain’ Scolari, banyak pihak yang mengkritik Brasil karena meninggalkan sepak bola indah. Namun, ketika trofi Piala Dunia diangkat sang kapten Dunga, semua orang lantas melupakan sentuhan beda Scolari. Padahal, Scolari adalah tokoh belakang layar yang melambungkan Ronaldinho dan Ronaldo saat itu.
Harus diakui, betapa pentingnya tokoh belakang layar dalam setiap kesuksesan yang diraih. Diri sendiri kadang merasa pesimis, tidak sadar akan potensi ‘liar’ yang menggelora dalam diri, boros tidak pada tempatnya, menjadi sangat individual, dan mudah menyerah. Namun, tokoh belakang layar selalu punya pendapat kedua, yang menapis segala pesimisme menjadi optimisme, mematung kita dari bentuknya yang paling kasar menjadi liat, kuat, dan unggul. Mereka tahu menempatkan kita pada porsi yang pas. Sayangnya, banyak yang melupakan tokoh belakang layar setelah meraih sukses.
Genderang perang kini sudah ditabuh. Rusia dan Jerman kembali beradu hadap. Hiddink sudah memompa motivasi Rusia untuk tidak gentar terhadap siapapun. Sementara itu, Jerman masih beraroma nama besar. Selain menyoraki permainan, mari kita mengarahkan sebentuk terima kasih pada tokoh belakang layar.(*)
Sukses Hiddink berlanjut di Australia. Setelah sepak bola Australia tidur selama 32 tahun, Hiddink datang dan memoles tim tersebut hingga lolos ke putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman. Faktor Hiddink kembali kental pada kesebelasan Australia. Hiddink membuktikan, ramuan pemain kancah lokal dan liga tak populer tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika sebuah tim tersusun dari orang-orang yang tepat pada posisinya, dari manapun asalnya, punya rasa kebersamaan yang solid, tim tersebut telah lahir menjadi raksasa.
Hiddink seperti ‘kuda troya’ saat Rusia mengalahkan Belanda (3-1) di Stadion St Jakob Park, Basel, Swiss, pada laga Piala Eropa beberapa waktu lalu. Ketika itu Belanda dielu-elukan sebagai kandidat kuat juara Piala Eropa karena penampilan tak pernah kalah pada babak penyisihan laga tersebut. Sementara itu, Rusia masih terseok-seok setelah kalah dari Jerman. Namun, Belanda terporak-poranda. ‘Total Football’ milik Hiddink dan Rusia lebih ganas. Hiddink dianggap pengkhianat, seorang ‘The Greatest Dutch Traitor’ di Belanda, tetapi menjadi pahlawan sejajar kaisar terpopuler Nicholas Tsar II di Rusia.
Seorang pelatih adalah sang motivator. Keutamaan tertingginya adalah telepati. Yang dilihat pelatih bukan sekedar nama besar dan keterampilan individual. Pelatih perlu memahami elan vital atau ngeh yang menggelora dari seorang pemain. Keterampilan individual hanya bentukan kasar, tetapi kematangan, kecintaan, solidaritas, daya juang, dan kebudayaan adalah forma esensial dari roh permainan.
David Beckham dan Michael Owen pantas terlempar dari skuad Inggris besutan Fabio Capello. Pelatih yang terkenal disiplin dan tegas tersebut tidak membutuhkan faktor kebintangan, tetapi totalitas. Kematangan, kecintaan, solidaritas boleh ada pada Beckham dan Owen, tetapi daya juang keduanya sudah luntur. Permainan 90 menit waktu normal sangat butuh titik didih 100 derajat, tanpa menyisakan ruang kehilangan kesempatan sepersekian detik pun. Sekali kesalahan tercetak, blunder atau bunuh diri bakal terjadi. Bagaimana pun juga, kemenangan lebih baik daripada hasil seri atau kalah.
Ketika membawa Brasil juara lima kali di ajang Piala Dunia 2002, Luiz Felipe Scolari tahu betul kelemahan dasar Brasil. Bagi Scolari, sepak bola adalah perang. Kemenangan tidak bisa diraih tanpa persiapan matang, disiplin membaja, dan kebersamaan. Brasil saat itu terlalu individual, mementingkan pesona daripada hasil akhir, tidak efisien dan disiplin dalam bermain. Setelah ‘dikerjain’ Scolari, banyak pihak yang mengkritik Brasil karena meninggalkan sepak bola indah. Namun, ketika trofi Piala Dunia diangkat sang kapten Dunga, semua orang lantas melupakan sentuhan beda Scolari. Padahal, Scolari adalah tokoh belakang layar yang melambungkan Ronaldinho dan Ronaldo saat itu.
Harus diakui, betapa pentingnya tokoh belakang layar dalam setiap kesuksesan yang diraih. Diri sendiri kadang merasa pesimis, tidak sadar akan potensi ‘liar’ yang menggelora dalam diri, boros tidak pada tempatnya, menjadi sangat individual, dan mudah menyerah. Namun, tokoh belakang layar selalu punya pendapat kedua, yang menapis segala pesimisme menjadi optimisme, mematung kita dari bentuknya yang paling kasar menjadi liat, kuat, dan unggul. Mereka tahu menempatkan kita pada porsi yang pas. Sayangnya, banyak yang melupakan tokoh belakang layar setelah meraih sukses.
Genderang perang kini sudah ditabuh. Rusia dan Jerman kembali beradu hadap. Hiddink sudah memompa motivasi Rusia untuk tidak gentar terhadap siapapun. Sementara itu, Jerman masih beraroma nama besar. Selain menyoraki permainan, mari kita mengarahkan sebentuk terima kasih pada tokoh belakang layar.(*)
Cassilas, Memilih Lev Yashin atau Higuita?
Tidak banyak kiper yang disanjung dan dihargai pemain terbaik. Posisi kiper hanya penting di saat pemain lawan menyerang. Sesudah itu, kiper seolah dilupakan. Beberapa kiper tersohor justru karena aksi eksentriknya di lapangan hijau. Sebut saja aksi akrobatik mantan kiper nasional Kolumbia aRene Higuita. Pada pertandingan persahabatan versus Inggris tahun 1996, bola tendangan Jamie Redknapp tidak ia tangkap. Higuita memilih menghalau bola dengan gaya kalajengking. Bola diblok dengan kedua kaki ditekuk di atas kepala.
Higuita, juga Jorge Campos (Meksiko), Jose Luiz Chilavert (Paraguay), dan Rogerio Ceni (Brasil) merasa tidak puas dengan penjara kecil di area gawang. Sesekali eksistensinya sebagai pemain ditunjukkan dengan keluar dari area gawang dan membantu menyerang, mengambil tendangan bebas, atau penalti. “Seorang kiper hebat biasanya memiliki gabungan antara kejeniusan dan sedikit kegilaan," ujar Higuita.
Kiper tidak pernah setengah hati menjaga gawangnya. Keberanian menghadapi lawan, dalam posisi sesulit apapun, di tengah kerumunan pemain, pada lesakan keras bola menggelinding, kiper mau tidak mau mempertaruhkan harga diri dan kebanggaan timnya dari kutukan kebobolan. Riwayat sang kiper ditentukan oleh seberani dirinya menghalau bola dari gawang.
Cara mencintai si kulit bundar pun berbeda. Sebelum ditendang, bola lebih dulu dipeluk bahkan dicium. Persahabatan dengan bola menjadi lebih lembut, seperti kasih sayang seorang ibu yang menanti anaknya pulang dalam dekapannya setelah berpisah dalam jarak tendang. Mereka paling tahu arti ‘durhaka’, yaitu ketika anaknya mencoba melintasi daerah ibu dan meronta-ronta sambil menggetarkan gawang. Keributan ibu dan anak tersebut melecehkan persahabatan dan kekeluargaan tim, lantas ditertawakan lawan.
Kiper menjadi basis pertahanan dan jantung kebanggaan. Pelatih akan berpikir dua kali lebih serius untuk menentukan pemain di posisi mistar gawang tersebut. Sekalipun 10 pemain lainnya bertabur bintang, tanpa kawalan andal sang kiper, ketangguhan 10 pemain tersebut dengan sendirinya sia-sia. Semua orang bergantung pada kecerdasan dan keberanian seorang kiper, sebuah posisi yang elitis sekaligus prestisius.
Tidak heran jika Iker Casillas telah tampil lebih dari 300 kali bagi Real Madrid dan menjadi kiper kedua yang bermain paling banyak bagi tim nasional Spanyol setelah Andoni Zubizarreta, sekalipun masih berumur 27 tahun. Saat Spanyol menjuarai Euro 2008, Casillas menjadi kiper pertama yang menjadi kapten di tim juara turnamen Eropa.
Perjalanan panjang van der Sar tidak bisa dipandang remeh. Gelar juara Liga Champion yang diraih Manchester United adalah berkat kerja keras van der Sar. Dia juga melakukan hal yang sama di ajang Community Shield sebelumnya, menepis tendangan penalti yang pemain The Blues. Van der Sar menjadi pemain yang paling banyak membela tim nasional Belanda sebanyak 128 kali.
Hingga kini, kepiawaian Buffon menjaga gawang di lapangan hijau belum tergantikan di tim nasional Italy dan Klub Juventus. Saat di Piala Dunia 2006, gawangnya tidak tertembus satu gol pun selama 453 menit hingga akhirnya Azzurri menjadi juara dan Buffon mendapatkan Lev Yashin Award sebagai kiper terbaik selama turnamen tersebut.
Mantan kiper nasional Denmark Peter Schmeichel dan kiper Republik Ceko Petr Cech disegani karena memiliki postur yang tegap, tinggi, dan cekatan. Di bawah mistar, mereka dijuluki “Benteng Yang Kokoh”, mirip dengan sebutan popular kiper legendaris Lev Yashin, sang “Laba-Laba Hitam”.
Pada posisi yang tidak perhitungkan bahkan dipadang sebelah mata, sering orang tergoda untuk menyerah. Segala upaya dikerahkan, bila perlu dengan tampil eksentrik di luar kaidah, supaya pandangan orang beralih dan berpihak. Higuita, Cech, Buffon, dan Casillas pernah tergoda untuk hal itu. Namun, bayarannya pun mahal. Ulah esentrik Higuita membuahkan blunder, demikian juga Cech, Buffon, dan Casillas. Berada di luar kaidah justru membuat posisi kita tidak aman dan musuh dengan cepat melihat letak kelengahan. Sedikit sentuhan, pertahanan terakhir dibobol dan kita dipermalukan.
Lev Yashin selalu tampil ulet, seorang pekerja keras di bawah mistar gawang. Pada posisi yang dipandang sebelah mata, Lev Yashin mempersembahkan kepopuleran bukan karena gayanya yang eksentrik, melainkan karena ketekunan dan kesetiaannya menggeluti profesi sesuai kaidah dan etika. Seperti kasih sayang seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya pada sebuah jarak tendang, Lev Yashin tahu betul menaklukkan sifat liar bola. Bila dicintai dengan lembut dan tekun, ia akan memberi berkah.(*)
Higuita, juga Jorge Campos (Meksiko), Jose Luiz Chilavert (Paraguay), dan Rogerio Ceni (Brasil) merasa tidak puas dengan penjara kecil di area gawang. Sesekali eksistensinya sebagai pemain ditunjukkan dengan keluar dari area gawang dan membantu menyerang, mengambil tendangan bebas, atau penalti. “Seorang kiper hebat biasanya memiliki gabungan antara kejeniusan dan sedikit kegilaan," ujar Higuita.
Kiper tidak pernah setengah hati menjaga gawangnya. Keberanian menghadapi lawan, dalam posisi sesulit apapun, di tengah kerumunan pemain, pada lesakan keras bola menggelinding, kiper mau tidak mau mempertaruhkan harga diri dan kebanggaan timnya dari kutukan kebobolan. Riwayat sang kiper ditentukan oleh seberani dirinya menghalau bola dari gawang.
Cara mencintai si kulit bundar pun berbeda. Sebelum ditendang, bola lebih dulu dipeluk bahkan dicium. Persahabatan dengan bola menjadi lebih lembut, seperti kasih sayang seorang ibu yang menanti anaknya pulang dalam dekapannya setelah berpisah dalam jarak tendang. Mereka paling tahu arti ‘durhaka’, yaitu ketika anaknya mencoba melintasi daerah ibu dan meronta-ronta sambil menggetarkan gawang. Keributan ibu dan anak tersebut melecehkan persahabatan dan kekeluargaan tim, lantas ditertawakan lawan.
Kiper menjadi basis pertahanan dan jantung kebanggaan. Pelatih akan berpikir dua kali lebih serius untuk menentukan pemain di posisi mistar gawang tersebut. Sekalipun 10 pemain lainnya bertabur bintang, tanpa kawalan andal sang kiper, ketangguhan 10 pemain tersebut dengan sendirinya sia-sia. Semua orang bergantung pada kecerdasan dan keberanian seorang kiper, sebuah posisi yang elitis sekaligus prestisius.
Tidak heran jika Iker Casillas telah tampil lebih dari 300 kali bagi Real Madrid dan menjadi kiper kedua yang bermain paling banyak bagi tim nasional Spanyol setelah Andoni Zubizarreta, sekalipun masih berumur 27 tahun. Saat Spanyol menjuarai Euro 2008, Casillas menjadi kiper pertama yang menjadi kapten di tim juara turnamen Eropa.
Perjalanan panjang van der Sar tidak bisa dipandang remeh. Gelar juara Liga Champion yang diraih Manchester United adalah berkat kerja keras van der Sar. Dia juga melakukan hal yang sama di ajang Community Shield sebelumnya, menepis tendangan penalti yang pemain The Blues. Van der Sar menjadi pemain yang paling banyak membela tim nasional Belanda sebanyak 128 kali.
Hingga kini, kepiawaian Buffon menjaga gawang di lapangan hijau belum tergantikan di tim nasional Italy dan Klub Juventus. Saat di Piala Dunia 2006, gawangnya tidak tertembus satu gol pun selama 453 menit hingga akhirnya Azzurri menjadi juara dan Buffon mendapatkan Lev Yashin Award sebagai kiper terbaik selama turnamen tersebut.
Mantan kiper nasional Denmark Peter Schmeichel dan kiper Republik Ceko Petr Cech disegani karena memiliki postur yang tegap, tinggi, dan cekatan. Di bawah mistar, mereka dijuluki “Benteng Yang Kokoh”, mirip dengan sebutan popular kiper legendaris Lev Yashin, sang “Laba-Laba Hitam”.
Pada posisi yang tidak perhitungkan bahkan dipadang sebelah mata, sering orang tergoda untuk menyerah. Segala upaya dikerahkan, bila perlu dengan tampil eksentrik di luar kaidah, supaya pandangan orang beralih dan berpihak. Higuita, Cech, Buffon, dan Casillas pernah tergoda untuk hal itu. Namun, bayarannya pun mahal. Ulah esentrik Higuita membuahkan blunder, demikian juga Cech, Buffon, dan Casillas. Berada di luar kaidah justru membuat posisi kita tidak aman dan musuh dengan cepat melihat letak kelengahan. Sedikit sentuhan, pertahanan terakhir dibobol dan kita dipermalukan.
Lev Yashin selalu tampil ulet, seorang pekerja keras di bawah mistar gawang. Pada posisi yang dipandang sebelah mata, Lev Yashin mempersembahkan kepopuleran bukan karena gayanya yang eksentrik, melainkan karena ketekunan dan kesetiaannya menggeluti profesi sesuai kaidah dan etika. Seperti kasih sayang seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya pada sebuah jarak tendang, Lev Yashin tahu betul menaklukkan sifat liar bola. Bila dicintai dengan lembut dan tekun, ia akan memberi berkah.(*)
Subscribe to:
Comments (Atom)