Tidak banyak kiper yang disanjung dan dihargai pemain terbaik. Posisi kiper hanya penting di saat pemain lawan menyerang. Sesudah itu, kiper seolah dilupakan. Beberapa kiper tersohor justru karena aksi eksentriknya di lapangan hijau. Sebut saja aksi akrobatik mantan kiper nasional Kolumbia aRene Higuita. Pada pertandingan persahabatan versus Inggris tahun 1996, bola tendangan Jamie Redknapp tidak ia tangkap. Higuita memilih menghalau bola dengan gaya kalajengking. Bola diblok dengan kedua kaki ditekuk di atas kepala.
Higuita, juga Jorge Campos (Meksiko), Jose Luiz Chilavert (Paraguay), dan Rogerio Ceni (Brasil) merasa tidak puas dengan penjara kecil di area gawang. Sesekali eksistensinya sebagai pemain ditunjukkan dengan keluar dari area gawang dan membantu menyerang, mengambil tendangan bebas, atau penalti. “Seorang kiper hebat biasanya memiliki gabungan antara kejeniusan dan sedikit kegilaan," ujar Higuita.
Kiper tidak pernah setengah hati menjaga gawangnya. Keberanian menghadapi lawan, dalam posisi sesulit apapun, di tengah kerumunan pemain, pada lesakan keras bola menggelinding, kiper mau tidak mau mempertaruhkan harga diri dan kebanggaan timnya dari kutukan kebobolan. Riwayat sang kiper ditentukan oleh seberani dirinya menghalau bola dari gawang.
Cara mencintai si kulit bundar pun berbeda. Sebelum ditendang, bola lebih dulu dipeluk bahkan dicium. Persahabatan dengan bola menjadi lebih lembut, seperti kasih sayang seorang ibu yang menanti anaknya pulang dalam dekapannya setelah berpisah dalam jarak tendang. Mereka paling tahu arti ‘durhaka’, yaitu ketika anaknya mencoba melintasi daerah ibu dan meronta-ronta sambil menggetarkan gawang. Keributan ibu dan anak tersebut melecehkan persahabatan dan kekeluargaan tim, lantas ditertawakan lawan.
Kiper menjadi basis pertahanan dan jantung kebanggaan. Pelatih akan berpikir dua kali lebih serius untuk menentukan pemain di posisi mistar gawang tersebut. Sekalipun 10 pemain lainnya bertabur bintang, tanpa kawalan andal sang kiper, ketangguhan 10 pemain tersebut dengan sendirinya sia-sia. Semua orang bergantung pada kecerdasan dan keberanian seorang kiper, sebuah posisi yang elitis sekaligus prestisius.
Tidak heran jika Iker Casillas telah tampil lebih dari 300 kali bagi Real Madrid dan menjadi kiper kedua yang bermain paling banyak bagi tim nasional Spanyol setelah Andoni Zubizarreta, sekalipun masih berumur 27 tahun. Saat Spanyol menjuarai Euro 2008, Casillas menjadi kiper pertama yang menjadi kapten di tim juara turnamen Eropa.
Perjalanan panjang van der Sar tidak bisa dipandang remeh. Gelar juara Liga Champion yang diraih Manchester United adalah berkat kerja keras van der Sar. Dia juga melakukan hal yang sama di ajang Community Shield sebelumnya, menepis tendangan penalti yang pemain The Blues. Van der Sar menjadi pemain yang paling banyak membela tim nasional Belanda sebanyak 128 kali.
Hingga kini, kepiawaian Buffon menjaga gawang di lapangan hijau belum tergantikan di tim nasional Italy dan Klub Juventus. Saat di Piala Dunia 2006, gawangnya tidak tertembus satu gol pun selama 453 menit hingga akhirnya Azzurri menjadi juara dan Buffon mendapatkan Lev Yashin Award sebagai kiper terbaik selama turnamen tersebut.
Mantan kiper nasional Denmark Peter Schmeichel dan kiper Republik Ceko Petr Cech disegani karena memiliki postur yang tegap, tinggi, dan cekatan. Di bawah mistar, mereka dijuluki “Benteng Yang Kokoh”, mirip dengan sebutan popular kiper legendaris Lev Yashin, sang “Laba-Laba Hitam”.
Pada posisi yang tidak perhitungkan bahkan dipadang sebelah mata, sering orang tergoda untuk menyerah. Segala upaya dikerahkan, bila perlu dengan tampil eksentrik di luar kaidah, supaya pandangan orang beralih dan berpihak. Higuita, Cech, Buffon, dan Casillas pernah tergoda untuk hal itu. Namun, bayarannya pun mahal. Ulah esentrik Higuita membuahkan blunder, demikian juga Cech, Buffon, dan Casillas. Berada di luar kaidah justru membuat posisi kita tidak aman dan musuh dengan cepat melihat letak kelengahan. Sedikit sentuhan, pertahanan terakhir dibobol dan kita dipermalukan.
Lev Yashin selalu tampil ulet, seorang pekerja keras di bawah mistar gawang. Pada posisi yang dipandang sebelah mata, Lev Yashin mempersembahkan kepopuleran bukan karena gayanya yang eksentrik, melainkan karena ketekunan dan kesetiaannya menggeluti profesi sesuai kaidah dan etika. Seperti kasih sayang seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya pada sebuah jarak tendang, Lev Yashin tahu betul menaklukkan sifat liar bola. Bila dicintai dengan lembut dan tekun, ia akan memberi berkah.(*)
No comments:
Post a Comment