Thursday, 7 January 2010

Madrid, Belajarlah Beretorika!

Kekalahan Real Madrid atas Juventus adalah yang paling membekas di ajang penyisihan Liga Champions pekan ini. Selain karena keberuntungan seorang Alessandro Del Piero, skuad Madrid pantas mendapat koreksi. Pasukan Bernd Schuster sama sekali tidak menunjukkan kualitas pemain bintang dan hanya berharap akan terjadi keajaiban, seperti yang pernah dilakukan Higuin atau Snijder pada laga-laga sebelumnya. Boleh dibilang, Madrid tengah memasuki masa krisis, di saat musuh bebuyutannya Barcelona sedang garang.
Kelemahan Madrid ada di sektor tengah. Madrid tidak bisa lagi bergantung pada Guti yang sudah uzur. Lagipula, Guti bukan pemain tengah yang cocok dengan jiwa keseluruhan pemain Madrid. Sneijder yang diharapkan bisa menutup lubang tengah ternyata lebih banyak masuk bilik perawatan karena cedera. Diarra dan Drenthe hanya jangkar belakang yang dipaksa menyusuri lapangan tengah untuk memasok bola ke titik penyerangan. Tak ayal, Nistelrooy, Raul, Higuin terus frustrasi dan Cassilas berteriak sepanjang permainan. Aliran bola tidak lagi seempuk umpan Zidane, Beckham, atau Luiz Figo. Sepeninggalan Robinho ke Manhcester City, Madrid kehilangan sosok yang bisa membalikkan keadaan.
Kunci permainan tim ada pada pemain tengah. Bola hanya sebuah makna, menjadi kalah, imbang, atau menang. Makna bola tersebut ditentukan oleh kuatnya kesebelasan itu bertahan dan menggetarkan gawang. Namun, makna hanya bisa tercipta jika ada jembatan antara, seperti bahasa pada komunikasi untuk menyampaikan pesan. Pemain tengah adalah jembatan, kunci komunikasi kesebelasan. Kemenangan hanya bisa diperoleh, jika daerah tengah dikuasai dan bola lebih banyak dialirkan ke daerah penyerangan yang kosong dan berpeluang gol.
Belum ada yang bisa menggantikan Ryan Giggs dan Paul Scholes, sekalipun bukan lagi muda, di skuad Maschester United. Ferguson memahami betul perang retorika yang terjadi pada setiap laga. Lapangan tengah memang ajang berdebatan, sebuah antithesis, untuk melahirkan makna pada kesimpulan. Menang atau kalah. Karena itu, jenderal lapangan tengah mesti diisi oleh sosok yang cerdas dalam perdebatan, memahami prinsip silogisme pada skema permainan bola, menjalin dan memintal premis-premis dari kaki ke kaki. Sebuah kesimpulan adalah sentuhan manis seorang penyerang yang membuahkan gol, setelah antithesis itu dimenangkan sang pemain tengah. Madrid belum memiliki Lampard, Deco, Kaka, Gerald, Xavi, Iniesta, Sagnol, Ribery.
Pribadi penengah sangat dibutuhkan di saat krusial atau pada moment pengambilan keputusan. Penengah selalu mempertimbangkan aspek plus minus, tidak terjebak dalam sebuah kutub, tidak berkepentingan, atau punya ongkos. Makna tanpa sayap bisa saja diputuskan oleh jiwa penengah. Dampaknya tidak sampai mengecewakan banyak pihak atau sekurang-kurangnya mampu meredam gejolak. Risikonya, pemain tengah selalu dalam posisi tidak enak. Disikut dari atas dan dari bawah. Namun, jika memiliki retorika yang kuat, sikutan itu hanyalah angin lalu dan berbuah pujian. Del Piero, dialah yang memiliki retorika sesungguhnya pada pekan ini.(*)

No comments:

Post a Comment