Wednesday, 6 January 2010

Tevez hingga Benzema, Di mana Kita?

Carlos Tevez memang tidak sepopuler Christian Ronaldo. Juga berbeda dari Kaka dan Benzema. Namun, Tevez mesti diberi tempat istimewa, jika melihat kiprahnya di klub yang baru ditinggalkan Manchester United (MU). Oleh arogan dan sifat spekulatif sang pelatih Sir Alex Ferguson, Tevez akhirnya memutuskan hengkang. Tawaran kontrak baru yang disodorkan MU setelah lama menanti pun ditolak. Tevez lebih memilih pinangan Manchester City, demi mencari suasana baru yang lebih nyaman.

Kaka sebenarnya sudah menjadi ikon AC Milan. Keputusan untuk hijrah dari klub merah hitam itu tidak sepenuhnya kehendak hati. Rumah Kaka sudah terlanjur tertambat di San Siro. Karena saking sayangnya pada klub yang membesarkan namanya itu, Kaka rela angkat kaki ke Real Madrid. Pertama, Kaka menyadari bahwa perannya di Milan sudah mulai memudar, nyaris kehilangan taji pada liga musim kemarin. Kaka butuh cermin yang bisa merefleksikan kembali tajinya, persis bersamaan Milan butuh jenderal tengah baru untuk memperoleh nyawa berikutnya pada liga musim ini. Yang terakhir, Milan memang sedang butuh duit dari penjualan Kaka.

Sementara itu Ronaldo, yang telah berganti kulit menjadi CR9, masih memilih menjadi selebritas di lapangan hijau, ketimbang berdedikasi. Memang tidak ada lagi tujuan yang pantas diraih bersama MU. Sejak bergabung bersama MU 2003 silam, Ronaldo telah menyandang berbagai predikat individual maupun kolegial yang diimpikan semua pemain di daratan Eropa, bahkan dunia. Namun, kepuasan diri Ronaldo kini tengah menjebak dirinya dalam fatamorgana. Ronaldo tidak benar-benar ingin bermain bola di Madrid. Sang CR9 itu butuh Madrid untuk mengangkat pamor prestisiusnya di kancah bola mania.

Ronaldo memang bertalenta. Tetapi, bakat alam dan keahlian terasah itu terasa memudar sejak dirinya hanya dijadikan mesin duit untuk klub sekelas MU dan Madrid. Florentino Perez tidak sepenuhnya tertarik pada prestasi Ronaldo di MU. Yang dicari Perez adalah pajangan untuk menaguk keuntungan. Syukurlah, seandainya Ronaldo bisa memberikan sumbangan terbaiknya sebagai pemain profesional seperti dua sampai tiga musim awal bersama MU. Karena, Ronaldo saat ini tidak lebih dari seorang pemain pemula yang sedang mencari rumah bermainnya kembali.

Sementara itu, Benzema adalah matahari terbit. Sekalipun sudah banyak dibicarakan soal kemahirannya mengolah si kulit bundar, prestasi formalnya di kancah sepak bola internasional masih hijau. Benzema itu potensial, dan belum mencapai titik aktualitas. Masih ada kuncup indah atau tarian yang memikat yang bisa tumbuh dari Benzema. Asal saja ada kesabaran, keuletan, dan daya juang. Madrid boleh jadi menjadi tahta, tempat Benzema meraih mahkota tertingginya sebagai pemain profesional, seperti Kaka, Ronalda, dan Tevez.

Tevez tegas dan prinsipil. Bola tidak bisa memperalat dirinya, atau Ferguson bukan alah-alah baru dari kehidupannya. Dia pantas menentukan sendiri ke mana kakinya berlangkah, dan pada siapa bola itu dilesakkan untuk memperoleh kemenangan. Perjuangan gigihnya di lapangan hijau, berlari dan mengejar bola tiada henti, menjadi pelayan yang baik untuk Rooney dan Ronaldo, tidak juga membuat Ferguson lantas kepincut. Malah terkesan mempermainkannya. Tevez tidak mau diperhamba popularitas dan uang. City adalah pembuktiannya, bahwa dirinyalah penentu hidupnya, dan bola bisa digelindingkan dengan indah di luar Old Trafford.

Kaka bersahaja dan tahu diri. Pada orang atau sesuatu yang dicintainya melebihi diri sendiri, Kaka rela mengorbankan diri. Dia juga tahu batas horizon, letak ketidaksanggupannya, sehingga perlu ruang untuk menarik diri dari orang yang dicintainya sehingga tidak merugikan. Dengan cara itu pula, Kaka memberikan pilihan terbaik untuk Milan: pada saat saya tidak sanggup berprestasi secara total, juallah saya, dan anda (Milan) memperoleh keuntungan.

Ronaldo masih bermimpi, hidup di luar dirinya, dan tak berumah. Dia akan mendapat ujian berat atas bom waktu yang sudah dihidupkan dari keputusannya hijrah ke Madrid dengan transfer yang memecahkan rekor. Ronaldo memang butuh pukulan telak, supaya dia sadar dari mimpinya, kembali membumi di lapangan hijau. Madrid, adalah masa kritis dan cermin diri untuk sang fenomenal tersebut.

Dan Benzema, belajar menjadi besar, dewasa, dan berprestasi. Madrid adalah sekolah ketangkasan yang terlatih, dan bukan permainan bakat alam sang pemain. Sampai di manakah kita pada bulan puasa ini?

YANG MEMBUTAKAN PERMAINAN

Luiz Felipe Scolari dipecat Abramovich sebagai pelatih The Blues Chelsea 9 Februari lalu. Di tangan si milioner Rusia tersebut, Chelsea juga memecat pelatih tangan dingin dan temperamental Jose Mourinho, Avram Grant, dan Claudio Ranieri.

Sama halnya dengan Chealsea, Tony Adams di Portsmouth, Paul Ince di Blackburn Rovers, dan Roy Keane di Sunderland mesti meninggalkan klubnya lebih cepat dari kontrak. Mereka adalah pelatih yang tidak sukses mengangkat citra klub di tengah persaingan ketat dan kerasnya Liga Premier Inggris.

Pelatih Liverpol Rafa Benitez justru sebaliknya mengancam manajemen Liverpol. Dirinya ingin mendapat kebebasan penuh untuk mengatur strategi tim dan menentukan belanja pemain. Benitez bahkan membelakangi tawaran perpanjangan kontrak untuk beberapa saat dan manajemen tidak bisa berkutik. Di samping itu, Arsene Wenger pun melakukan hal yang sama di Arsenal. Dia mengancam hengkang dari Arsenal karena tidak memiliki kebebasan dan ruang financial yang cukup untuk belanja pemain. Perang tersebut berakhir dengan mengalahkan pihak pemegang saham dan membiarkan Wenger mendapuk pemain sesuai selera dan strateginya.

Chelsea bukanlah sebuah investasi, tetapi hobby di mata Abramovich. Namun, Abramovich bukan tipe penikmat berat yang mengagumi bola dari sudut kalah menang. Kekayaan yang berlipat membentuk karakter hobby Abramovich menjadi kekuasaan. Abramovich tidak muncul dari kesadaran membangun fondasi, menikmati sesuatu yang dasariah dan fundamental. Yang terpikirkan hanyalah instanisasi permainan dengan tujuan meraih sejumlah trofi dan predikat terpuji di belahan Eropa.

Bola sedang menghakimi Abramovich. Investasi pemain dan pelatih top di kubu Chelsea tidak pernah membuat Abramovich puas. Kekayaan dan kekuasaan yang besar itu seakan-akan luluh oleh hukum alamiah permainan, yang lebih berpihak pada kesabaran, daya juang, dan soliditas. Sepak bola tidak pernah mengenal pemain tunggal. Tidak juga bisa disetir oleh kekayaan dan kekuasaan. Sebaliknya, sepak bola adalah permainan yang menjunjung tinggi profesionalitas, solidaritas, kepercayaan, dan kekompakan tim.

Scolari, juga Avram, Mourinho, Tony Adams, Paul Inche, dan Roy Keane seolah-olah hanya menjadi mesin dari sebuah sistem kekuasaan dan kekayaan. Mereka adalah garansi dari sebuah instrument, yang diharapkan mampu menegaskan instanisasi permainan dengan cara memaksa. Padahal, orang seperti mereka sangat maklum pada tabiat permainan yang tidak mengenal takdir yang ditentukan dari kekayaan dan kekuasaan. Permainan itu punya hukumnya sendiri dan berjalan apa adanya sesuai nilai dasariah menjadi manusia. Sepak bola bukan sekedar kemenangan, tetapi kehormatan dan harga diri. Kedua hal itu terlahir dari kesetiaan pada nilai pengorbanan, kesabaran, daya juang, kejujuran, dan kerjasama.

Sebagai pelatih yang tak terbutakan oleh uang dan kuasa, Benitez dan Wenger tidak ingin terjebak. Tidak ada yang berhak memanfaatkan seseorang demi mencari kepuasan diri dalam permainan sepak bola. Tidak juga pemilik modal, pelatih, atau pemain. Sebelum klub tersebut terkikis oleh penjara kerdil, Benitez dan Wenger lebih dulu menancapkan bendera kemanusiaan. Pasang surut permainan merupakan bagian dari dinamika menjadi manusia di atas lapangan hijau. Uang dan kekuasaan hanya jembatan untuk mencapai pemenuhan kemenjadian tersebut.

Kisah Abramovich, Scholari, bahkan Mourinho, Paul Inche, dan Roy Keane adalah perhambaan pada uang dan kekuasaan. Giuran duet maut itu selalu berujung pada bencana, jika si empunya ambisi tersebut tidak bisa lagi menemukan titik keseimbangan. Sebaiknya, tatanan tersebut dikembalikan pada pemenuhan kewajiban yang pantas dari kesadaran bersosialitas. Permainan, apapun bentuknya, akan mengembalikan roda perputaran pada sumbu yang benar. Kejujuran dan kebenaran tidak pernah mengalah untuk mencari keseimbangan baru, dari sesuatu yang janggal dan tamak. Sepak bola kembali menjadi pelajaran untuk memahami arti menghargai setiap tetes keringat yang dikorbankan setiap manusia.(*)

ABRAMOVICH DAN SCOLARI: Yang Membutakan Permainan

Luiz Felipe Scolari dipecat Abramovich sebagai pelatih The Blues Chelsea 9 Februari lalu. Di tangan si milioner Rusia tersebut, Chelsea juga memecat pelatih tangan dingin dan temperamental Jose Mourinho, Avram Grant, dan Claudio Ranieri.

Sama halnya dengan Chealsea, Tony Adams di Portsmouth, Paul Ince di Blackburn Rovers, dan Roy Keane di Sunderland mesti meninggalkan klubnya lebih cepat dari kontrak. Mereka adalah pelatih yang tidak sukses mengangkat citra klub di tengah persaingan ketat dan kerasnya Liga Premier Inggris.

Pelatih Liverpol Rafa Benitez justru sebaliknya mengancam manajemen Liverpol. Dirinya ingin mendapat kebebasan penuh untuk mengatur strategi tim dan menentukan belanja pemain. Benitez bahkan membelakangi tawaran perpanjangan kontrak untuk beberapa saat dan manajemen tidak bisa berkutik. Di samping itu, Arsene Wenger pun melakukan hal yang sama di Arsenal. Dia mengancam hengkang dari Arsenal karena tidak memiliki kebebasan dan ruang financial yang cukup untuk belanja pemain. Perang tersebut berakhir dengan mengalahkan pihak pemegang saham dan membiarkan Wenger mendapuk pemain sesuai selera dan strateginya.

Chelsea bukanlah sebuah investasi, tetapi hobby di mata Abramovich. Namun, Abramovich bukan tipe penikmat berat yang mengagumi bola dari sudut kalah menang. Kekayaan yang berlipat membentuk karakter hobby Abramovich menjadi kekuasaan. Abramovich tidak muncul dari kesadaran membangun fondasi, menikmati sesuatu yang dasariah dan fundamental. Yang terpikirkan hanyalah instanisasi permainan dengan tujuan meraih sejumlah trofi dan predikat terpuji di belahan Eropa.

Bola sedang menghakimi Abramovich. Investasi pemain dan pelatih top di kubu Chelsea tidak pernah membuat Abramovich puas. Kekayaan dan kekuasaan yang besar itu seakan-akan luluh oleh hukum alamiah permainan, yang lebih berpihak pada kesabaran, daya juang, dan soliditas. Sepak bola tidak pernah mengenal pemain tunggal. Tidak juga bisa disetir oleh kekayaan dan kekuasaan. Sebaliknya, sepak bola adalah permainan yang menjunjung tinggi profesionalitas, solidaritas, kepercayaan, dan kekompakan tim.

Scolari, juga Avram, Mourinho, Tony Adams, Paul Inche, dan Roy Keane seolah-olah hanya menjadi mesin dari sebuah sistem kekuasaan dan kekayaan. Mereka adalah garansi dari sebuah instrument, yang diharapkan mampu menegaskan instanisasi permainan dengan cara memaksa. Padahal, orang seperti mereka sangat maklum pada tabiat permainan yang tidak mengenal takdir yang ditentukan dari kekayaan dan kekuasaan. Permainan itu punya hukumnya sendiri dan berjalan apa adanya sesuai nilai dasariah menjadi manusia. Sepak bola bukan sekedar kemenangan, tetapi kehormatan dan harga diri. Kedua hal itu terlahir dari kesetiaan pada nilai pengorbanan, kesabaran, daya juang, kejujuran, dan kerjasama.

Sebagai pelatih yang tak terbutakan oleh uang dan kuasa, Benitez dan Wenger tidak ingin terjebak. Tidak ada yang berhak memanfaatkan seseorang demi mencari kepuasan diri dalam permainan sepak bola. Tidak juga pemilik modal, pelatih, atau pemain. Sebelum klub tersebut terkikis oleh penjara kerdil, Benitez dan Wenger lebih dulu menancapkan bendera kemanusiaan. Pasang surut permainan merupakan bagian dari dinamika menjadi manusia di atas lapangan hijau. Uang dan kekuasaan hanya jembatan untuk mencapai pemenuhan kemenjadian tersebut.

Kisah Abramovich, Scholari, bahkan Mourinho, Paul Inche, dan Roy Keane adalah perhambaan pada uang dan kekuasaan. Giuran duet maut itu selalu berujung pada bencana, jika si empunya ambisi tersebut tidak bisa lagi menemukan titik keseimbangan. Sebaiknya, tatanan tersebut dikembalikan pada pemenuhan kewajiban yang pantas dari kesadaran bersosialitas. Permainan, apapun bentuknya, akan mengembalikan roda perputaran pada sumbu yang benar. Kejujuran dan kebenaran tidak pernah mengalah untuk mencari keseimbangan baru, dari sesuatu yang janggal dan tamak. Sepak bola kembali menjadi pelajaran untuk memahami arti menghargai setiap tetes keringat yang dikorbankan setiap manusia.(*)