Wednesday, 6 January 2010

ABRAMOVICH DAN SCOLARI: Yang Membutakan Permainan

Luiz Felipe Scolari dipecat Abramovich sebagai pelatih The Blues Chelsea 9 Februari lalu. Di tangan si milioner Rusia tersebut, Chelsea juga memecat pelatih tangan dingin dan temperamental Jose Mourinho, Avram Grant, dan Claudio Ranieri.

Sama halnya dengan Chealsea, Tony Adams di Portsmouth, Paul Ince di Blackburn Rovers, dan Roy Keane di Sunderland mesti meninggalkan klubnya lebih cepat dari kontrak. Mereka adalah pelatih yang tidak sukses mengangkat citra klub di tengah persaingan ketat dan kerasnya Liga Premier Inggris.

Pelatih Liverpol Rafa Benitez justru sebaliknya mengancam manajemen Liverpol. Dirinya ingin mendapat kebebasan penuh untuk mengatur strategi tim dan menentukan belanja pemain. Benitez bahkan membelakangi tawaran perpanjangan kontrak untuk beberapa saat dan manajemen tidak bisa berkutik. Di samping itu, Arsene Wenger pun melakukan hal yang sama di Arsenal. Dia mengancam hengkang dari Arsenal karena tidak memiliki kebebasan dan ruang financial yang cukup untuk belanja pemain. Perang tersebut berakhir dengan mengalahkan pihak pemegang saham dan membiarkan Wenger mendapuk pemain sesuai selera dan strateginya.

Chelsea bukanlah sebuah investasi, tetapi hobby di mata Abramovich. Namun, Abramovich bukan tipe penikmat berat yang mengagumi bola dari sudut kalah menang. Kekayaan yang berlipat membentuk karakter hobby Abramovich menjadi kekuasaan. Abramovich tidak muncul dari kesadaran membangun fondasi, menikmati sesuatu yang dasariah dan fundamental. Yang terpikirkan hanyalah instanisasi permainan dengan tujuan meraih sejumlah trofi dan predikat terpuji di belahan Eropa.

Bola sedang menghakimi Abramovich. Investasi pemain dan pelatih top di kubu Chelsea tidak pernah membuat Abramovich puas. Kekayaan dan kekuasaan yang besar itu seakan-akan luluh oleh hukum alamiah permainan, yang lebih berpihak pada kesabaran, daya juang, dan soliditas. Sepak bola tidak pernah mengenal pemain tunggal. Tidak juga bisa disetir oleh kekayaan dan kekuasaan. Sebaliknya, sepak bola adalah permainan yang menjunjung tinggi profesionalitas, solidaritas, kepercayaan, dan kekompakan tim.

Scolari, juga Avram, Mourinho, Tony Adams, Paul Inche, dan Roy Keane seolah-olah hanya menjadi mesin dari sebuah sistem kekuasaan dan kekayaan. Mereka adalah garansi dari sebuah instrument, yang diharapkan mampu menegaskan instanisasi permainan dengan cara memaksa. Padahal, orang seperti mereka sangat maklum pada tabiat permainan yang tidak mengenal takdir yang ditentukan dari kekayaan dan kekuasaan. Permainan itu punya hukumnya sendiri dan berjalan apa adanya sesuai nilai dasariah menjadi manusia. Sepak bola bukan sekedar kemenangan, tetapi kehormatan dan harga diri. Kedua hal itu terlahir dari kesetiaan pada nilai pengorbanan, kesabaran, daya juang, kejujuran, dan kerjasama.

Sebagai pelatih yang tak terbutakan oleh uang dan kuasa, Benitez dan Wenger tidak ingin terjebak. Tidak ada yang berhak memanfaatkan seseorang demi mencari kepuasan diri dalam permainan sepak bola. Tidak juga pemilik modal, pelatih, atau pemain. Sebelum klub tersebut terkikis oleh penjara kerdil, Benitez dan Wenger lebih dulu menancapkan bendera kemanusiaan. Pasang surut permainan merupakan bagian dari dinamika menjadi manusia di atas lapangan hijau. Uang dan kekuasaan hanya jembatan untuk mencapai pemenuhan kemenjadian tersebut.

Kisah Abramovich, Scholari, bahkan Mourinho, Paul Inche, dan Roy Keane adalah perhambaan pada uang dan kekuasaan. Giuran duet maut itu selalu berujung pada bencana, jika si empunya ambisi tersebut tidak bisa lagi menemukan titik keseimbangan. Sebaiknya, tatanan tersebut dikembalikan pada pemenuhan kewajiban yang pantas dari kesadaran bersosialitas. Permainan, apapun bentuknya, akan mengembalikan roda perputaran pada sumbu yang benar. Kejujuran dan kebenaran tidak pernah mengalah untuk mencari keseimbangan baru, dari sesuatu yang janggal dan tamak. Sepak bola kembali menjadi pelajaran untuk memahami arti menghargai setiap tetes keringat yang dikorbankan setiap manusia.(*)

No comments:

Post a Comment