Nasib penyerang Arsenal Eduardo da Silva begitu tragis. Aksi tekel keras bek tengah Birmingham Martin Taylor pada Februari lalu mematahkan kakinya. Eduardo lantas menjalani perawatan dan absen panjang dari dunia olah bola. Eduardo kini hanya bergantung dari faktor keberuntungan. Jika perawatan dan pemulihan cidera berlangsung sempurna, ia bisa kembali hadir dan mengayuh kakinya untuk menendang bola.
Sebuah kartu merah rasanya belum cukup atas tekel Martin Taylor tersebut. Dalam cerita lanjutan, Taylor memohon maaf atas aksi ‘undercontrol’ tersebut. Di lain pihak, dengan jiwa besar Eduardo memaafkan Taylor dan menyebut aksi itu sebagai risiko dari permainan sepak bola.
Pemain bintang atau penyerang sebuah tim selalu jadi sasaran empuk penjegalan. Bintang AC Milan Kaka bahkan meminta para wasit melindungi pemain bintang dengan kuasa sempritan pluit, kartu kuning, atau kartu merah. Christian Ronaldo, Del Piero, Tevez, dan segudang penyerang lain pun harus meringis kesakitan dan berjumpalitan, jika dijegal. Kempes hingga Maradona, Pele hingga Ronaldinho, Chartlon hingga Owen harus tetap tegak seraya menahan emosi karena terus dijegal oleh para bek tim lawan. Wasit akan memberi kartu merah atau kuning jika seorang pemain menjegal dengan sebuah rencana. Namun, pemain yang baik tak akan membalas kelakuan pemain yang buruk tersebut.
Laga lapangan hijau Liga Indonesia sangat rentan pemukulan dan aksi balas dendam. Ricuh PSMS Medan dan Persik Kediri beberapa waktu lalu diwarnai aksi pemukulan Cristian Gonzales atas Erwinsyah. Beberapa saat seusai wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, Gonzales membogem Erwinsyah dari sudut yang tak terduga. Di lain pihak, wasit Suprihatin yang memimpin pertandingan terancam tindakan tak terpuji yang sama.
Sepak bola nasional seharusnya bisa seperti sungai. Air yang mengalir adalah bola yang digelindingkan. Sementara itu, bebatuan dan cadas yang menghalangi arus air tersebut adalah dua kesebelasan yang saling berhadapan. Di sungai, bebatuan dan cadas tidak pernah merasa kesakitan karena dilewati air. Aliran itu menyentuh bebatuan dengan sifatnya yang sangat lembut, bahkan lebih manusiawi dari manusia. Pada sebuah himpitan yang tangguh, air akan mencari celah kosong untuk mengalir. Seperti seorang pemain, mencari celah kosong di antara kaki lawan. Terjadilah decak kagum pada gocekan Maradona, Messi, Ronaldinho, atau Christian Ronaldo.
Ut desint vires, tamen est laudanda voluntans, biar semua kekuatan lain lenyap, tetapi kehendak harus terpuji. Berada di sebuah lapangan hijau, berarti berada di antara tanggung jawab moral dan kemanusiaan. Lapangan hijau bukan perang terbuka ala Spartan. Karena itu, bersedia menjadi pemain dalam sebuah kesebelasan berarti bersedia pula menanggalkan kekuatan liar dan kasar, yang mematikan dan membunuh. Sepak bola membutuhkan rasa cinta dan solidaritas lintas batas, melampaui arti kawan dan lawan. Setiap pemain bukan saja bertanggung jawab terhadap soliditas tim, tetapi juga keselamatan pemain lawannya.
Bukankah bangsa ini perlu belajar soal tanggung jawab dan moral? Sering kita terlalu berpikir individual dan kolutif. Orang lain seperti Eduardo adalah lawan yang mesti dijegal. Bola dan gol, segala cara dihalalkan. Sesungguhnya, tidak ada lawan di lapangan hijau. Pertarungan dua kesebelasan itu hanya semu. Yang terjadi adalah ujian atas tanggung jawab, inisiatif, dan moralitas. Kata Albert Camus, peraih nobel sastra 1975, “Jika soal moral dan tanggung jawab, saya berutang pada sepak bola!”(*)
No comments:
Post a Comment