Friday, 29 January 2010

MU versus Barcelona: Setiap Saat adalah Final

Di penghujung tahun lalu, Manchester United (MU) keluar sebagai juara dunia antarklub di International Stadium Yokohama, Jepang, menundukkan wakil Amerika Latin, Liga de Quito dari Ekuador, 1-0. MU hadir di Yokohama setelah meraih tropi Liga Champions, dan Juara Liga Premier Inggris. Namun, MU bukan klub yang tidak pernah kalah. Tropi Juara Dunia Antarklub adalah dominasi kemenangan, namun tidak tanpa kalah. Klub sekelas MU pun perlu tertatih-tatih merengkuh tropi.
Berdasarkan catatan majalah Forbes, MU adalah klub dengan nilai kekayaan tertinggi. Setan Merah, julukan klub tersebut diperkirakan memiliki aset sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 16,6 triliun. Nilai tersebut terpaut cukup jauh dari Real Madrid diurutan kedua dengan total kekayaan US$ 1,285 miliar atau sekitar Rp 12 triliun. Sementara itu, Arsenal di tempat ketiga hanya membukukan kekayaan sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 11 triliun, terpaut Rp 5,6 triliun dari MU.
Belum ada tokoh yang bisa menggantikan peran Sir Alex Ferguson sebagai pelatih MU. Opa bertangan dingin itu sudah 21 tahun malang melintang sebagai pelatih MU dan telah mempersembahkan 20 gelar bergengsi---17 Premier League dan 3 Liga Champions ---bagi Setan Merah. Selain itu, sudah banyak pemain bertalenta, berkelas, dan menjadi langganan tim nasional lahir dari besutannya. Ferguson terakhir menyatakan akan segera pensiun sebagai pelatih MU dalam tiga tahun ke depan. Namun, lepas sebagai pelatih diprediksi hidup pelatih asal Skotlandia itu tidak akan jauh dari MU.
Sekalipun tercecer di peringkat ketiga Liga Premier Inggris tahun ini, MU masih berpeluang mengukir prestasi dengan tetap berada di jalur juara. MU juga lolos ke babak perdelapanfinal Liga Champions, dan sudah memastikan satu tempat di semifinal Piala Carling. Sementara itu, Piala FA baru akan mereka jalani pada Januari 2009. Bukan tidak mungkin, lebih dari dua tropi akan kembali direngkuh Setan Merah tahun ini.
Tak kalah fantastis, Barcelona di Spanyol memuncaki klasemen La Liga dengan perfoma brilian. Dari 16 pertandingan yang sudah dilakoni, pasukan Josep Guardiola itu sudah memenangi 13 laga di antaranya. Sisanya berakhir dengan dua hasil imbang dan satu kekalahan. Dari 16 pertandingan itu, Barcelona hanya kemasukkan 10 gol dan berhasil memasukkan 48 gol ke gawang lawan. Hegemoni itu pun sempurna dengan melumat Real Madrid (2-0) pada laga klasik jelang akhir tahun lalu.
Dua musim sebelumnya Barcelona berada di bawah bayang-bayang Real Madrid. Musim lalu, Barcelona kalah saing menyakitkan dengan rival beratnya itu, karena mesti menyerahkan gelar La Liga pada partai terakhir. Real Madrid menang fantastis dan menguburkan impian Barcelona. Namun, keadaan saat ini sedang berbalik. Selisih 12 point dengan Madrid membuat Barcelona berjalan tegak karena merasa telah menemukan pil penawar untuk luka liga di musim lalu tersebut.
MU dan Barcelona memahami betul filosofi bola. Bola dan pertandingan hanyalah ruang manusia. Pemain, pelatih, penonton dalam perannya masing-masing mendandani pertandingan. Kesalahan pada bola hanya melucuti pertandingan, tetapi kesalahan manusia pada pertandingan melucuti martabat. Bola yang kempes menghentikan pertandingan, tetapi pemain yang berulah mencemooh kemanusiaan.
Tidak ada permukaan yang tetap pada bola. Semua mengalir dan berubah. Dalam perubahan tersebut, ada tujuan yang tetap, yang tidak berubah. Gol dan kemenangan, atau jatuh kalah. Setiap perubahan harus disikapi dengan kerja keras dan kepaduan. Setiap pertandingan adalah final, sedangkan kekalahan merupakan cambuk dalam dinamika. Karena itu, senjata yang paling ampuh dalam menghadapi setiap perubahan dalam siap siaga, juga kebesaran jiwa untuk belajar dari keterpurukan. Dengan cara itu pulalah, kita bisa merayakan kemanusiaan dalam setiap perubahan waktu. Selamat menempuh hari-hari di Tahun Baru!(*)

No comments:

Post a Comment