Monday, 11 January 2010

Wallcot, Beckham, Capello, dan Kita

Seorang Theo Wallcot sepertinya tidak dilirik banyak orang, sebelum menjadi pilihan utama di skuad Arsenal. Kebeliaannya pun masih diragukan banyak pihak, lantaran olah bola tidak lagi sekedar ditontoni tetapi juga dijudikan. Sisi berikut, Wallcot bukan David Beckham. Sekalipun sudah uzur, nilai jual Beckham tidak pernah luntur. Perasaan puas pada Beckham sama halnya dengan kenikmatan usai “beol”.
Seorang Italia yang tengah naik daun seperti Fabio Capello sungguh tahu cara terbaik mengambil hati suporter Inggris. Setelah kemenangan oleh sentuhan Wallcot, Capello membiarkan sentuhan akhir yang manis itu bertumpu pada sosok Beckham. Para pecandu bola di negara asal bola itu pun lantas tergundah. Seorang Beckham yang dinantikan itu seperti oase di padang gurun, dan Capello adalah sumber fatamorgana.
Gerarld, Lampard, dan Rooney sekalipun meredup dalam dua kali empat puluh lima menit tersebut. Permainan lebih memilih Wallcot sebagai pahlawan, Beckham sebagai pemanis, dan Capello sebagai si tuan pesta. Dalam hal ini, bintang lapangan sangat ditentukan oleh kepuasan sang penikmat di bangku penonton dan bukan semata-mata bergantung pada keterampilan individu. Pesona itu datang bersamaan dengan rasa “ngeh” atas hamparan harapan yang terpuaskan. Ya, setelah sekian lama menggumpal di dada. Kerja sama tim lantas menjadi bingkai bisu, sedang para tokoh terpilih dalam pemujaan itu lantas keluar sebagai juara dan menciptakan sejarah.
Namun, kalau dipilah dengan lebih kritis, Wallcot punya rentang yang berbeda dengan Beckham dan Capello. Wallcot masih mencari ketokohannya di dunia having, yang masih mungkin untuk berubah, sedangkan Beckham dan Capello adalah tokoh di dunia being, yang tidak lagi berubah sekalipun waktu berubah. Wallcot masih dikuasai asumsi-asumsi, diperbandingkan, dan plural, sedangkan Beckham dan Capello itu adalah persepsi, sebuah dunia sendiri yang tunggal dan tak terbantahkan. Pasang surutnya asumsi tidak pernah melunturkan aspek kebintangannya. Sejarah sudah mengenang Beckham dan Capello sebagaimana mereka berada dan menjadi.
Sementara itu, posisi Gerald, Lampard, dan Rooney adalah unsur antitesis yang dibutuhkan untuk menjelaskan kebintangan seorang Wallcot, Beckham, dan Capello. Keberadaan mereka tidak bisa diabaikan begitu saja, lantaran sisi kebintanganya memudar. Mereka hadir sebagai unsur penegas, yang memberikan pengetahuan awali, merucutkan pilihan, dan menjadi daya saing yang lengkap dan unik. Tanpa mereka, Wallcot, Beckham, dan Capello hanya potongan yang tak berguna dan tidak pantas untuk diingat.
Mereka pun punya kesempatan yang sama untuk tampil sebagai bintang, sejauh mampu menjadi indentitas unggul di tengah percampuran individu tersebut. Pada saat itu, mereka hanya belum menemukan lubang senggama dan bermagma menjadi manusia unggul dalam sekumpulan pertaruhan. Mereka butuh waktu untuk membuktikan dirinya terpilih sebagai pejantan yang tertangguh di antara pejatan-pejatan yang tangguh. Seorang best of the best.
Benar bahwa sejarah itu berpihak pada yang menang dan mengebiri kesempatan pada yang kalah. Namun, sejarah selalu berpihak pada pilihan yang akurat, unggul, dengan identitas yang utuh. Artinya, sejarah tidak pernah salah memilih, baik untuk sementara waktu, maupun untuk sebuah keabadian. Kritik atas sejarah mengelupas sifat sekunder dan memunculkan jati dirinya yang primer. Dalam perjalanan waktu, para pemenang itu ditapis menjadi bersih, tangguh, dan terpecaya.
Oh, gutta cavat lapidem non vi sed saepe cadendo, titik-titik air melubangi batu bukan karena kekerasannya, tetapi karena keseringannya. Pribadi yang unggul dan berkualitas adalah pribadi yang jujur, tidak boros kata, berpura-pura, atau menjilat. Waktu akan terus membuktikan jenis pribadi seperti itu, sama seperti suporter fanatik terhadap pemain bintangnya. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah berakhir tuntas, untuk kepuasan sebuah harmoni, atau kepuasan batiniah sekalipun. Sebab, jati diri selalu berbicara apa adanya, sejauh raut hati menggendong perilaku dan tutur kata pada saat di mana pun manusia berada dan menjadi. Entah, menjadi seorang jurnalis, sekalipun! Karena itu, marilah jujur dengan diri sendiri.

No comments:

Post a Comment