Saturday, 20 June 2015

Mempertanyakan Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia


Kebanggaan prestasi bulu tangkis nasional saat ini hanya bertumpu pada satu dua sosok. Selain ganda putra andalan Markis Kido/Hendra Setiawan, ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir, pemain lain yang menjadi tulang punggung olahraga fanatik kedua di tanah air setelah sepak bola itu kian melesu.


Markis Kido/Hendra Setiawan
Padahal, masyarakat nasional menaruh harapan besar pada cabang olahraga tersebut. Merajanya Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Ardi Wiranata, Heryanto Arbi, Hendrawan, Rexi Mainaky/Ricky Subagya, Candra Wijaya/Tony Gunawan tidak sanggup menginspirasi prestasi terbaik penghuni pelatnas.

Monday, 9 March 2015

Fenomena Marin: Daya Juang menjadi Juara


Caroline Marin (Image: http://sports.ndtv.com)

Sebelum bentrok di partai final All England tahun ini, Caroline Marin versus Saina Nehwal sudah tiga kali saling berhadapan. Posisi head to head 3:0 untuk Saina Nehwal. Hal ini berbeda ketika Marin beradu dengan tunggal putri dunia lainnya seperti Wang Yihan (Tiongkok), Tai Tzu Ying (China Taipei), Sindhu PV (India), bahkan Li Xuerui (Tiongkok) sekalipun. Marin telah saling kalah mengalahkan.

Di atas kertas, Nehwal memang patut merasa unggul. Terutama ketika Nehwal tampil dominan pada babak pertama, saat keduanya kembali bentrok di partai puncak All England tahun ini. Dominasi itu bahkan sempat terulang pada awal babak kedua sebelum akhirnya Marin berbalik unggul dan mengakhiri babak kedua 21-14. Marin lalu menyudahi perhelatan puncak tunggal putri dan keluar sebagai jawara setelah menundukkan Nehwal 21-7 pada babak penentuan.

Monday, 11 March 2013

Selamat buat Tantowi/Liliyana

Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir (image:solopos.com)

Saya mengaggumi Chen Long ketika menundukkan Lee Chong Wei (21-17 dan 21 18) pada partai puncak tunggal putra ajang All England 2013 tahun ini. Saya pikir, inilah partai klimaks. Sesudahnya itu, citarasa All England saya akan tersakiti oleh partai berikut. Ganda campuran: Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir versus Zhang Nan/Zhao Yunlei.

Pertama, kendati tampil sebagai juara bertahan untuk turnamen ini, tidaklah menjamin bahwa Tantowi/ Liliyana bakal mengulang kesuksesannya pada tahun lalu. Apalagi, lawannya adalah Cina, negara yang selalu jadi dominan dalam setiap ajang bergengsi bulu tangkis dalam lima tahun terakhir.

Friday, 19 March 2010

INDONESIA VERSUS THAILAND: Dapatkah Gajah Melewati Lubang Jarum?

Tahun ini bisa berakhir kelabu untuk sepak bola nasional. Setelah ditekuk (0-1) oleh Thailand di kandang sendiri, Indonesia mesti mendulang selisih dua gol di kandang lawan. Perjuangan pasukan Merah Putih nampaknya berat. Lafal pesimistis didegungkan hampir di seluruh pelosok Tanah Air, “seri saja sudah susah, apalagi mesti mencetak dua gol.” Catatan sejarah pun tidak berpihak.

Di ajang AFF Suzuki Cup, Indonesia sudah lima kali bertemu Thailand dan lima kali pula rontok. Sementara itu, dari 18 kali hadap berhadapan, Indonesia cuma lima kali kebagian menangnya. Alhasil, kemenangan atas Thailand nampak bagai mukjizat, seperti memikirkan gajah melewati lubang jarum.

Benny Dolo (Bendol) terlalu optimistik berspekulasi hanya dengan keterampilan dan kecepatan individual beberapa pemain, daripada kerjasama tim dan mental juara. Yang diharapkan Bendol adalah kejutan dari pemain “kesayangannya” seperti Firman Utina, Ponaryo Astaman, atau Ismed Sofyan. Namun, para pemain itu terlalu jauh ke belakang dan lebih disibukkan untuk membentengi pertahanan daripada merangsek ke depan. Padahal, tipikal penyerang seperti Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas mesti dimanjakan terus dengan aliran bola terobosan dan umpan silang. Pasalnya, sukses ratio dari kedua penyerang tersebut masih lemah dalam memanfaatkan kesempatan.

Sejak kebobolan menit kelima oleh sundulan cerdik Teerasil Dangda, kesebelasan Indonesia seperti terjangkit teriakan Bendol. Para pemain stress karena harus bertarung dengan kenyataan kebobolan di menit awal, riuh cemooh massa pendukung, dan kebuntuan. Mental pemain Merah Putih sudah terperosok dan skenario permainan ditinggalkan. Yang dipertontonkan pada menit berikut adalah sesuatu yang sangat konvensional, mudah terbaca, mudah pula terpatahkan. Standarnya jauh di bawah kecepatan, kerjasama, dan kombinasi serangan seperti yang dipertontonkan Thailand.

Cukup mengejutkan memang karena pemain seperti Boaz Salossa dan Ricardo Salempessy baru terpikirkan untuk diikutsertakan. Tipikal mereka sebenarnya sangat dibutuhkan, ketika kesebelasan Merah Putih hanya menyisakan permainan yang konvensional. Sesuatu yang mengejutkan dan bisa mengubah keadaan seringkali datang dari kaki Boaz dan Salempessy. Namun, keduanya malah didepak sebelum akhirnya dipanggil karena desakan banyak pihak.

Harus diakui Indonesia kalah cepat dan kompak dari Thailand. Gol cepat Thailand di menit kelima bukan sebuah keberuntungan. Gol itu hasil kerjasama tim yang apik, kecepatan terobos, dan kecerdikan. Sementara itu, Merah Putih belum bisa cerdik dan kalah cepat. Organisasi pemainan hanya terlihat di lini belakang. Sesudah itu, kesebelasan itu hanya berharap pada kaki Firman Utina dan Ismed Sofyan. Penyerangan dari lini kiri kanan terasa tumpul, bahkan hanya menjadi pelengkap penyerta dari kebuntuan demi kebuntuan. Wasit pun akhirnya dipersalahkan.

Kesalahan sepakbola nasional adalah terlalu fokus pada hasil dan melupakan proses. Kebobolan pada menit awal sudah merupakan hasil yang buruk untuk pemain dan pelatih. Proses tidak lagi dihormati, sehingga daya gedor berkurang dan kerjasama ditinggalkan. Mental juara nyaris tertelungkup, dengan menyisakan harapan pada bola mati atau pinalti. Namun sayang. Thailand saat itu bermain sangat bersih, tanpa menyisakan cela sedikit pun untuk ruang titik balik Indonesia. Bahkan, untuk sebuah diving pun, Indonesia tak sanggup. Sangat profesional. Inilah pelajarannya, karena menghormati proses untuk sebuah hasil akhir. Indonesia terlihat terlalu terburu-buru dan memaksakan keadaan.

Jika gajah bisa melewati lubang jarum, Indonesia pasti menang. Indonesia membutuhkan kekuatan moral, yaitu menisbikan kemustahilan dan mengambil langkah positif untuk siap bertarung. Asalkan, langkah kemarin adalah pelajaran, gajah bisa melewati lubang jarum. Namun, jika masa lalu adalah penjara, gajah tak mungkin bisa melewati lubang jarum.(*)