Kebanggaan prestasi bulu tangkis nasional saat ini hanya bertumpu pada satu dua sosok. Selain ganda putra andalan Markis Kido/Hendra Setiawan, ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir, pemain lain yang menjadi tulang punggung olahraga fanatik kedua di tanah air setelah sepak bola itu kian melesu.
![]() |
| Markis Kido/Hendra Setiawan |
Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro,
dan Simon Santosa yang menjadi andalan di sektor tunggal putra cenderung mudah
dikalahkan. Taufik terakhir hanya bisa berbicara di turnamen grand prix gold
MacauTerbuka, karena hanya bersaing dengan pemain lapis kedua dari negara
pesaing seperti Tiongkok, Malaysia, dan Korea Selatan. Sony sering tidak
stabil, peragu, dan kurang bergairah dalam bermain. Simon belum punya karakter
permainan yang patut disegani.
Sementara itu, ganda putra minim
pelapis andal, setelah Hendra Aprida Gunawan/Joko Riyadi yang sempat memberi
harapan.
Tim bulu tangkis putri Indonesia
justru tampil menghibur pada perhelatan tertingggi beregu Piala Uber beberapa
waktu lalu. Sekalipun belum bisa menyamai prestasi Susi Susanti, Mia Audina,
Elyza/Zelin, Lili Tampi/Finarsih pada Piala Uber 2006 di Jakarta, penampilan
tim putri tersebut sejenak menyembur oase di sebuah padang harapan.
Maria Kristin begitu memukau dengan
kombinasi balet bola panjang pendek, Lyliana/Vita yang tangguh, tanpa melupakan
yang muda dan paling atraktif Greysia Polii/Jo Novita. Namun, harapan itu
nampak akan sirna lagi. Maria Kristin sibuk mengurus deraan cedera. Permainan
cantik yang sempat menjadi andalan itu kini tenggelam dengan keberangusan
fisik. Vita dan Lyliana sudah bukan andalan. Kecepatan dan daya tahan mental
kedua pemain itu sudah menurun. Sementara itu, Greysia Polii dan Jo Novita
sepertinya tenggelam.
Masa kritis nasib bulu tangkis
nasional ditengarai karena regenerasi pemain muda yang tidak tertata baik.
Tommy Sugiarto, Alamsyah Yunus, Muhamad Rijal, Pia Zebadia, Lita Nurlita,
Ardiyanti Firdasari sangat terlambat menyusul, di saat Tiongkok, Malaysia,
Korea Selatan, bahkan Denmark, India, dan Inggris telah memiliki pasukan muda
yang mampu bersaing.
Lebih menyakitkan jika melihat Tony
Gunawan, Rexy Mainaky justru melahirkan bintang muda bulu tangkis di negara
pesaing. Pemain produk asuhan mantan pelatnas tersebut tampil lebih
berkarakter, gigih, tangguh dibanding peluru pelatnas.
Kondisi tersebut sangat mencemaskan
jika menilik sejumlah turnamen yang akan tergelar di tahun mendatang. Olimpiade
London 2012 barangkali menjadi kuburan untuk tradisi emas merah putih.
Indonesia sudah lama tidak menguasai supremasi Piala Thomas sejak 2002. Pada
2010, turnamen beregu putra dan putri tersebut mestinya menjadi target utama.
Sementara itu, Piala Sudirman selalu
lepas. Sang Jenderal tersebut sudah lama tidak pulang ke kampung halamannya.
Taufik pernah menjadi kebanggaan
karena bermain dengan naluri liar yang berkecambah dalam dirinya. Insting yang
sama sempat bergelora pada Maria Kristin dan Greysia Polii. Pelatih yang jenius
tidak sekedar membentuk pemain hanya melalui pola penyerangan dan pertahanan
konvensional, tetapi mampu membangunkan insting sang pemain untuk berada pada
kondisi puncak pada setiap laga.
Karena insting menggerakkan pola
pelatihan yang konvensional dan motoris menjadi kombinasi tata langkah yang
berkarakter, berdaya dobrak tinggi, cerdas, efektif, tak terduga, namun tetap
menawan. Hanya insting, seorang Susi Susanti, Mia Audina, atau Rexy/Ricky bisa
mendebarkan jantung penonton dan membalikkan keadaan menjadi sebuah kemenangan.
Insting pemain berlawanan dengan sindikasi.
Ruang gerak insting adalah kombinasi
dari nutrisi pelatihan, kompetisi, kematangan emosional, dan apresiasi. Insting
tidak bisa dipaksakan, karena faktor modal, koncoisme, fanatisme klub, dan
egoisme pribadi. Insting akan berkembang dalam situasi keterbukaan dan saling
menghargai. Kido/Hendra tidak pernah memilih untuk menjadi peraih emas
Olimpiade Beijing. Kompetisi yang memilih sang juaranya.

No comments:
Post a Comment