Saturday, 20 June 2015

Mempertanyakan Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia


Kebanggaan prestasi bulu tangkis nasional saat ini hanya bertumpu pada satu dua sosok. Selain ganda putra andalan Markis Kido/Hendra Setiawan, ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir, pemain lain yang menjadi tulang punggung olahraga fanatik kedua di tanah air setelah sepak bola itu kian melesu.


Markis Kido/Hendra Setiawan
Padahal, masyarakat nasional menaruh harapan besar pada cabang olahraga tersebut. Merajanya Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Ardi Wiranata, Heryanto Arbi, Hendrawan, Rexi Mainaky/Ricky Subagya, Candra Wijaya/Tony Gunawan tidak sanggup menginspirasi prestasi terbaik penghuni pelatnas.

Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, dan Simon Santosa yang menjadi andalan di sektor tunggal putra cenderung mudah dikalahkan. Taufik terakhir hanya bisa berbicara di turnamen grand prix gold MacauTerbuka, karena hanya bersaing dengan pemain lapis kedua dari negara pesaing seperti Tiongkok, Malaysia, dan Korea Selatan. Sony sering tidak stabil, peragu, dan kurang bergairah dalam bermain. Simon belum punya karakter permainan yang patut disegani.

Sementara itu, ganda putra minim pelapis andal, setelah Hendra Aprida Gunawan/Joko Riyadi yang sempat memberi harapan.

Tim bulu tangkis putri Indonesia justru tampil menghibur pada perhelatan tertingggi beregu Piala Uber beberapa waktu lalu. Sekalipun belum bisa menyamai prestasi Susi Susanti, Mia Audina, Elyza/Zelin, Lili Tampi/Finarsih pada Piala Uber 2006 di Jakarta, penampilan tim putri tersebut sejenak menyembur oase di sebuah padang harapan.

Maria Kristin begitu memukau dengan kombinasi balet bola panjang pendek, Lyliana/Vita yang tangguh, tanpa melupakan yang muda dan paling atraktif Greysia Polii/Jo Novita. Namun, harapan itu nampak akan sirna lagi. Maria Kristin sibuk mengurus deraan cedera. Permainan cantik yang sempat menjadi andalan itu kini tenggelam dengan keberangusan fisik. Vita dan Lyliana sudah bukan andalan. Kecepatan dan daya tahan mental kedua pemain itu sudah menurun. Sementara itu, Greysia Polii dan Jo Novita sepertinya tenggelam.

Masa kritis nasib bulu tangkis nasional ditengarai karena regenerasi pemain muda yang tidak tertata baik. Tommy Sugiarto, Alamsyah Yunus, Muhamad Rijal, Pia Zebadia, Lita Nurlita, Ardiyanti Firdasari sangat terlambat menyusul, di saat Tiongkok, Malaysia, Korea Selatan, bahkan Denmark, India, dan Inggris telah memiliki pasukan muda yang mampu bersaing.

Lebih menyakitkan jika melihat Tony Gunawan, Rexy Mainaky justru melahirkan bintang muda bulu tangkis di negara pesaing. Pemain produk asuhan mantan pelatnas tersebut tampil lebih berkarakter, gigih, tangguh dibanding peluru pelatnas.

Kondisi tersebut sangat mencemaskan jika menilik sejumlah turnamen yang akan tergelar di tahun mendatang. Olimpiade London 2012 barangkali menjadi kuburan untuk tradisi emas merah putih. Indonesia sudah lama tidak menguasai supremasi Piala Thomas sejak 2002. Pada 2010, turnamen beregu putra dan putri tersebut mestinya menjadi target utama.

Sementara itu, Piala Sudirman selalu lepas. Sang Jenderal tersebut sudah lama tidak pulang ke kampung halamannya.

Taufik pernah menjadi kebanggaan karena bermain dengan naluri liar yang berkecambah dalam dirinya. Insting yang sama sempat bergelora pada Maria Kristin dan Greysia Polii. Pelatih yang jenius tidak sekedar membentuk pemain hanya melalui pola penyerangan dan pertahanan konvensional, tetapi mampu membangunkan insting sang pemain untuk berada pada kondisi puncak pada setiap laga.

Karena insting menggerakkan pola pelatihan yang konvensional dan motoris menjadi kombinasi tata langkah yang berkarakter, berdaya dobrak tinggi, cerdas, efektif, tak terduga, namun tetap menawan. Hanya insting, seorang Susi Susanti, Mia Audina, atau Rexy/Ricky bisa mendebarkan jantung penonton dan membalikkan keadaan menjadi sebuah kemenangan. Insting pemain berlawanan dengan sindikasi.

Ruang gerak insting adalah kombinasi dari nutrisi pelatihan, kompetisi, kematangan emosional, dan apresiasi. Insting tidak bisa dipaksakan, karena faktor modal, koncoisme, fanatisme klub, dan egoisme pribadi. Insting akan berkembang dalam situasi keterbukaan dan saling menghargai. Kido/Hendra tidak pernah memilih untuk menjadi peraih emas Olimpiade Beijing. Kompetisi yang memilih sang juaranya.

Karena itu, sang juara tidak bisa lahir dari sindikasi sang pelatih, pemain, atau petinggi pelatnas. Kualitas tidak bisa ditipu dalam sebuah kompetisi, karena faktor modal, kerekanan, atau fanatisme. Semua pihak mesti terbuka dan mereformasi diri. Sayangnya, hanya kelompok kecil manusia yang bisa jujur, tidak menipu diri, atau bahkan lupa diri. Semoga pembehanan demi pembenahan yang terjadi saat ini bisa jujur dan berpihak pada insting.(*)

No comments:

Post a Comment