![]() |
| Caroline Marin (Image: http://sports.ndtv.com) |
Sebelum bentrok di partai final All England tahun ini, Caroline Marin versus Saina Nehwal sudah tiga kali saling berhadapan. Posisi head to head 3:0 untuk Saina Nehwal. Hal ini berbeda ketika Marin beradu dengan tunggal putri dunia lainnya seperti Wang Yihan (Tiongkok), Tai Tzu Ying (China Taipei), Sindhu PV (India), bahkan Li Xuerui (Tiongkok) sekalipun. Marin telah saling kalah mengalahkan.
Di atas kertas, Nehwal memang
patut merasa unggul. Terutama ketika Nehwal tampil dominan pada babak pertama,
saat keduanya kembali bentrok di partai puncak All England tahun ini. Dominasi
itu bahkan sempat terulang pada awal babak kedua sebelum akhirnya Marin
berbalik unggul dan mengakhiri babak kedua 21-14. Marin lalu menyudahi
perhelatan puncak tunggal putri dan keluar sebagai jawara setelah menundukkan
Nehwal 21-7 pada babak penentuan.
Jika dilihat dari grafik
permainan kedua tunggal putri tersebut, Marin melepaskan setengah dari
kemampuan aslinya saat babak pertama. Ada kecenderungan Marin sedikit gugup dan
membuat kesalahan sendiri. Sebaliknya, Nehwal duluan mencuri start dan tancap
gas. Marin konstan dengan penampilannya. Nehwal perlahan mendekati kemampuan
puncaknya.
Awal babak kedua, Nehwal
mempertahankan grafik permainannya sedangkan Marin mulai meningkatkan performace. Salah satunya dengan memaksa
Nehwal beradu permainan cepat, kombinasi dari bola panjang dan mendatar. Marin
menemukan kemampuan aslinya dan bermain dalam kondisi puncak setelah berhasil
menggenjot performance. Sementara
itu, Nehwal sudah kehabisan amunisi untuk meladeni permainan cepat Marin.
Barangkali Nehwal ingin menarik
ulur tempo permainan dengan melambatkan bola. Namun, akurasi Nehwal telah
terganggu oleh penampilan prima Marin. Nehwal bahkan melakukan kesalahan demi
kesalahan. Sementara Marin mematikan langkah Nehwal dengan akurasi penempatan
bola dan kombinasi permainan cepat, dari bola panjang dan silang mendatar.
Marin bahkan terlihat
‘terburu-buru’ untuk mengambil bola ketika pengembalian Nehwal melenceng untuk
kembali melakukan servis. Dia benar-benar tidak mau kehilangan moment untuk
menekan Nehwal, detik demi detik.
Jika keduanya sedang berada pada
kondisi puncak yang sama, hasil dari pertandingan final kemarin sulit untuk
diprediksi. Kelebihan Marin pada pertandingan tersebut adalah daya juang dan
motivasi. Konon, dia selalu teringat pada kata-kata sang pelatih. “Jika
pertandingan belum selesai, anda belum dinyatakan kalah.”
Tentang motivasi dan daya juang
ini, mantan pelatih tunggal putri Indonesia Liang Chiu Sia memberi kesaksian.
Marin merupakan pemain yang ulet dan memiliki daya juang yang tinggi. Kesaksian
Liang Chiu Sia ini bukan tanpa bukti. Dia pernah melatih Marin, ketika sang
jawara All England 2015 itu sempat berguru di Pelatnas Cipayung.
Liang juga mengatakan, sebenarnya
kemampuan Marin dengan atlet nasional seperti Lindaweni Fanetri dan Bellaetrix
Manuputty sama. Tapi keuletannya dan semangat juang yang tinggi bisa membawanya
menjadi juara dunia. Liang mengatakan ini, tatkala Marin keluar sebagai juara
dunia tahun lalu, mengalahkan unggulan pertama Li Xuerui.
Marin adalah pemain Spanyol hasil
didikan rekan pelatih Liang asal Tiongkok, Selain di Pelatnas Cipayung, Marin
juga sempat berguru ke Thailand. Tak mengherankan, dalam diri Marin, ada tiga
kombinasi sentuhan dengan berbagai metode dan tipe permainan – Tiongkok,
Indonesia, dan Thailand.
Dia menyadari, demi menyejajarkan
dirinya di kancah permainan kelas dunia, dia harus berguru pada negara-negara
legenda tepok bulu. Dan ketika keterampilan teknis dan kemampuannya telah sejajar,
motivasi dan daya juanglah yang akan membedakan dirinya dan pemain lainnya.
Untuk Indonesia, pernah ada
pemain dengan tipe pemainan ulet dan daya juang yang tinggi. Ardi B Wiranata
adalah salah satunya. Sang jawara tujuh kali perhelatan Indonesia Open, salah
satu tunggal Indonesia yang pernah menjuarai All England, peraih medali
perunggu tunggal putra untuk cabang badminton yang dipertandingkan pertama
kalinya di Olimpiade itu punya tekad, “saya akan terus mengejar bola ke mana
pun bola itu berlari.”
Ardi B Wiranata seperti tidak
pernah kehabisan bahan bakar. Dia mengatakan, “bahan bakar saya adalah passion.” Karena itu, dia tidak pernah
kenal lelah mengejar bola. Dia juga suka membuat pemain kelelahan. Berhadapan
dengan Ardi, seorang pemain harus siap beradu rally panjang yang melelahkan. Stamina menjadi tumpuan utama, di
samping skill dan faktor psikologis.
Sama persis ketika Marin
mengomentari kesuksesannya menembus partai final All England tahun ini. “Saya
sengaja menggunakan bola-bola panjang dengan tujuan agar lawan menjadi lelah.
Dan terbukti taktik saya berhasil.”
Memang jarang pemain Indonesia
bertipe seperti Marin dan Ardi. Kultur permainan tunggal Indonesia adalah
akurasi penempatan bola. Soal kecerdikan dan mati langkah. Indonesia bahkan sering
mementingkan permainan indah, soal mempesona, daripada kemenangan. Sebuah
kemenangan tanpa permainan yang menakjubkan adalah sesuatu yang brutal.
Kelemahannya adalah soal stamina
dan daya juang. Bermain cerdik kadang memang tidak membutuhkan stamina lebih.
Cerdik mengandalkan pembacaan pada pola permainan lawan dan bagaimana mengatur
pukulan yang, pertama, mengacaukan
pola dan tata langkah permainan lawan, dan kedua,
menempatkan bola di ruang kosong.
Sejak Taufik Hidayat – dalam
penampilan puncaknya – Indonesia kehilangan maestro tepok bulu khas Indonesia.
Taufik bahkan melengkapi kekhasan Indonesia ini dengan backhand smash-nya yang membingungkan lawan.
Tentang passion, motivasi, dan daya juang, di mana posisi tunggal putra dan
putri Indonesia di kancah bulu tangkis dunia saat ini? Tentang permainan cerdik
dan adu stamina, ke manakah kiblat bulu tangkis Indonesia?
Seperti Tiongkok yang terus
menerus tak kehabisan penerus. Lalu kini, ada Thailand, India, dan Jepang, yang
lama kelamaan terus menggerus prestasi pemain Indonesia di kancah dunia.
Prancis bahkan Inggris kini mulai menunjukkan tajinya. Mencetak pemain andal
saat ini bukan lagi soal dari manakah pemain itu berasal. Semua kini telah
sejajar untuk melahirkan pemain andal, bahkan di tempat bulu tangkis itu tak popular sekalipun seperti di
Spanyol, negara asal Marin.
Mungkin Liang benar. Ini hanya
persoalan daya juang, sesuatu yang hilang dari sektor tunggal tepok bulu
Indonesia. Mengapa?(*)

No comments:
Post a Comment