Nasib penyerang Arsenal Eduardo da Silva begitu tragis. Aksi tekel keras bek tengah Birmingham Martin Taylor pada Februari lalu mematahkan kakinya. Eduardo lantas menjalani perawatan dan absen panjang dari dunia olah bola. Eduardo kini hanya bergantung dari faktor keberuntungan. Jika perawatan dan pemulihan cidera berlangsung sempurna, ia bisa kembali hadir dan mengayuh kakinya untuk menendang bola.
Sebuah kartu merah rasanya belum cukup atas tekel Martin Taylor tersebut. Dalam cerita lanjutan, Taylor memohon maaf atas aksi ‘undercontrol’ tersebut. Di lain pihak, dengan jiwa besar Eduardo memaafkan Taylor dan menyebut aksi itu sebagai risiko dari permainan sepak bola.
Pemain bintang atau penyerang sebuah tim selalu jadi sasaran empuk penjegalan. Bintang AC Milan Kaka bahkan meminta para wasit melindungi pemain bintang dengan kuasa sempritan pluit, kartu kuning, atau kartu merah. Christian Ronaldo, Del Piero, Tevez, dan segudang penyerang lain pun harus meringis kesakitan dan berjumpalitan, jika dijegal. Kempes hingga Maradona, Pele hingga Ronaldinho, Chartlon hingga Owen harus tetap tegak seraya menahan emosi karena terus dijegal oleh para bek tim lawan. Wasit akan memberi kartu merah atau kuning jika seorang pemain menjegal dengan sebuah rencana. Namun, pemain yang baik tak akan membalas kelakuan pemain yang buruk tersebut.
Laga lapangan hijau Liga Indonesia sangat rentan pemukulan dan aksi balas dendam. Ricuh PSMS Medan dan Persik Kediri beberapa waktu lalu diwarnai aksi pemukulan Cristian Gonzales atas Erwinsyah. Beberapa saat seusai wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, Gonzales membogem Erwinsyah dari sudut yang tak terduga. Di lain pihak, wasit Suprihatin yang memimpin pertandingan terancam tindakan tak terpuji yang sama.
Sepak bola nasional seharusnya bisa seperti sungai. Air yang mengalir adalah bola yang digelindingkan. Sementara itu, bebatuan dan cadas yang menghalangi arus air tersebut adalah dua kesebelasan yang saling berhadapan. Di sungai, bebatuan dan cadas tidak pernah merasa kesakitan karena dilewati air. Aliran itu menyentuh bebatuan dengan sifatnya yang sangat lembut, bahkan lebih manusiawi dari manusia. Pada sebuah himpitan yang tangguh, air akan mencari celah kosong untuk mengalir. Seperti seorang pemain, mencari celah kosong di antara kaki lawan. Terjadilah decak kagum pada gocekan Maradona, Messi, Ronaldinho, atau Christian Ronaldo.
Ut desint vires, tamen est laudanda voluntans, biar semua kekuatan lain lenyap, tetapi kehendak harus terpuji. Berada di sebuah lapangan hijau, berarti berada di antara tanggung jawab moral dan kemanusiaan. Lapangan hijau bukan perang terbuka ala Spartan. Karena itu, bersedia menjadi pemain dalam sebuah kesebelasan berarti bersedia pula menanggalkan kekuatan liar dan kasar, yang mematikan dan membunuh. Sepak bola membutuhkan rasa cinta dan solidaritas lintas batas, melampaui arti kawan dan lawan. Setiap pemain bukan saja bertanggung jawab terhadap soliditas tim, tetapi juga keselamatan pemain lawannya.
Bukankah bangsa ini perlu belajar soal tanggung jawab dan moral? Sering kita terlalu berpikir individual dan kolutif. Orang lain seperti Eduardo adalah lawan yang mesti dijegal. Bola dan gol, segala cara dihalalkan. Sesungguhnya, tidak ada lawan di lapangan hijau. Pertarungan dua kesebelasan itu hanya semu. Yang terjadi adalah ujian atas tanggung jawab, inisiatif, dan moralitas. Kata Albert Camus, peraih nobel sastra 1975, “Jika soal moral dan tanggung jawab, saya berutang pada sepak bola!”(*)
Tuesday, 12 January 2010
MU versus Chelsea: Berkompetisi Secara Bersih!
Penikmat bola akhir pekan ini dimanjakan dengan adu gengsi Manchester United (MU) dan Chelsea. Seorang pendukung fanatik akan kalap mata untuk menjagokan tim kesayangannya. Tetapi, jika dipadankan secara realistis, pemenang adu gengsi itu sulit terprediksi. Entah Ferguson, atau Scolari adalah pelatih berpeluru, nyaris tanpa cacat dalam meramu amunisi demi membendung serangan lawan, menghadirkan kemenangan, tanpa lupa pada permainan indah.
Di penghujung tahun lalu, MU keluar sebagai juara dunia antarklub di International Stadium Yokohama, Jepang, menundukkan wakil Amerika Latin, Liga de Quito dari Ekuador, 1-0. MU hadir di Yokohama setelah meraih tropi Liga Champions, dan Juara Liga Premier Inggris. Berdasarkan catatan majalah Forbes, MU adalah klub dengan nilai kekayaan tertinggi. Setan Merah, julukan klub tersebut diperkirakan memiliki aset sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 16,6 triliun. Nilai tersebut terpaut cukup jauh dari Real Madrid diurutan kedua dengan total kekayaan US$ 1,285 miliar atau sekitar Rp 12 triliun. Sementara itu, Arsenal di tempat ketiga hanya membukukan kekayaan sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 11 triliun, terpaut Rp 5,6 triliun dari MU.
Belum ada tokoh yang bisa menggantikan peran Ferguson sebagai pelatih MU. Opa bertangan dingin itu sudah 21 tahun malang melintang sebagai pelatih MU dan telah mempersembahkan 20 gelar bergengsi---17 Premier League dan 3 Liga Champions ---bagi Setan Merah. Selain itu, sudah banyak pemain bertalenta, berkelas, dan menjadi langganan tim nasional lahir dari besutannya.
Chelsea memang berada di posisi kedua klasemen sementara Liga Premier Inggris. Setelah setengah musim lalu sempat menguasai perebutan nilai di peringat pertama, penampilan Chelsea beranjak menurun. Tidak ada angka fantastis lagi dari kemenangan demi kemenangan yang di berbagai turnamen. Chelsea malah dijuluki klub spesialis pemain pension, karena sebagian besar pemainnya beranjak tua dan ingin berakhiri karier profesional sebagai pesepak bola bersama Chelsea. Seorang Scolari bahkan dirundung isu tidak sedap oleh obsesi Abrahamovich yang ingin menyulap mesin duitnya itu menjadi raksasa sepak bola di Inggris dan Eropa.
Deco, Frank Lampard, Didier Drogba, Nikolas Anelka, Joe Cole, Balack, John Terry bukanlah pemain yang mudah takluk. Sekalipun sudah berumur, determinasi dan daya gedor mereka masih garang. Sementara itu, pemain seumuran mereka di pasukan Setan Merah mungkin hanya segelintir, seperti Ryan Giggs, Rio Ferdinand, Edwin van der Sar, dan Paul Scholes. Selain itu, MU bertaburan bintang muda yang energik, tak terbendung, dan penuh kejutan.
Perbedaan usia bukan merupakan ukuran untuk sebuah kemenangan. Pasalnya, pertarungan peringkat kedua dan ketiga di Liga Inggris itu adalah adu gengsi. Seorang kompetotir sejati tidak akan pernah menyerah dari pesaingnya. Untuk sebuah kepuasan yang ditendang dari suntikan gengsi, Chelsea sangat berambisi melumat MU. Kemenangan itu sejenak akan melupakan gairah bertanding, karena seolah-olah sudah mengakhiri Liga Inggris dengan mengalahkan musuh bebuyutan. MU pun berpikir soal yang sama. Menamatkan Chelsea merupakan harga mati, seperti menutup liga sebelum pesta berakhir.
Kecerobohan MU adalah emosionalitas, sedangkan kelengahan Chelsea adalah determinasi. Chelsea mau tidak mau harus lebih dulu menciptakan gol, sebelum bisa merecoki permainan Setan Merah dengan mengulak-ulak emosi pemain muda MU. Namun, Chelsea perlu kerja keras meredam penampilan hot Rooney, Ronaldo, Anderson, Teves, Nani, dan mata bor asal Korea Selatan Park Ji-Sung. Sayangnya, determinasi Chelsea akhir-akhir ini sering kedodoran. Di lain pihak, stabilitas emosi dan kekompakan MU semakin padu. Chelsea lebih berharap pada faktor keberuntungan, sedangkan MU terancam digerogoti oleh kepercayaan diri yang berlebihan. Neraca inilah yang mesti dipertahankan dua rivalitas tersebut, jika ingin menjadi sang pemenangnya.
Bolehlah berkompetisi, mengalahkan pesaing, tetapi keseimbangan emosi dan moral tetap harus terjaga. Menjadi pemenang dengan jiwa bersih lebih baik ketimbang mengalahkan lawan dengan tangan kotor.Amanat utama!
Di penghujung tahun lalu, MU keluar sebagai juara dunia antarklub di International Stadium Yokohama, Jepang, menundukkan wakil Amerika Latin, Liga de Quito dari Ekuador, 1-0. MU hadir di Yokohama setelah meraih tropi Liga Champions, dan Juara Liga Premier Inggris. Berdasarkan catatan majalah Forbes, MU adalah klub dengan nilai kekayaan tertinggi. Setan Merah, julukan klub tersebut diperkirakan memiliki aset sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 16,6 triliun. Nilai tersebut terpaut cukup jauh dari Real Madrid diurutan kedua dengan total kekayaan US$ 1,285 miliar atau sekitar Rp 12 triliun. Sementara itu, Arsenal di tempat ketiga hanya membukukan kekayaan sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 11 triliun, terpaut Rp 5,6 triliun dari MU.
Belum ada tokoh yang bisa menggantikan peran Ferguson sebagai pelatih MU. Opa bertangan dingin itu sudah 21 tahun malang melintang sebagai pelatih MU dan telah mempersembahkan 20 gelar bergengsi---17 Premier League dan 3 Liga Champions ---bagi Setan Merah. Selain itu, sudah banyak pemain bertalenta, berkelas, dan menjadi langganan tim nasional lahir dari besutannya.
Chelsea memang berada di posisi kedua klasemen sementara Liga Premier Inggris. Setelah setengah musim lalu sempat menguasai perebutan nilai di peringat pertama, penampilan Chelsea beranjak menurun. Tidak ada angka fantastis lagi dari kemenangan demi kemenangan yang di berbagai turnamen. Chelsea malah dijuluki klub spesialis pemain pension, karena sebagian besar pemainnya beranjak tua dan ingin berakhiri karier profesional sebagai pesepak bola bersama Chelsea. Seorang Scolari bahkan dirundung isu tidak sedap oleh obsesi Abrahamovich yang ingin menyulap mesin duitnya itu menjadi raksasa sepak bola di Inggris dan Eropa.
Deco, Frank Lampard, Didier Drogba, Nikolas Anelka, Joe Cole, Balack, John Terry bukanlah pemain yang mudah takluk. Sekalipun sudah berumur, determinasi dan daya gedor mereka masih garang. Sementara itu, pemain seumuran mereka di pasukan Setan Merah mungkin hanya segelintir, seperti Ryan Giggs, Rio Ferdinand, Edwin van der Sar, dan Paul Scholes. Selain itu, MU bertaburan bintang muda yang energik, tak terbendung, dan penuh kejutan.
Perbedaan usia bukan merupakan ukuran untuk sebuah kemenangan. Pasalnya, pertarungan peringkat kedua dan ketiga di Liga Inggris itu adalah adu gengsi. Seorang kompetotir sejati tidak akan pernah menyerah dari pesaingnya. Untuk sebuah kepuasan yang ditendang dari suntikan gengsi, Chelsea sangat berambisi melumat MU. Kemenangan itu sejenak akan melupakan gairah bertanding, karena seolah-olah sudah mengakhiri Liga Inggris dengan mengalahkan musuh bebuyutan. MU pun berpikir soal yang sama. Menamatkan Chelsea merupakan harga mati, seperti menutup liga sebelum pesta berakhir.
Kecerobohan MU adalah emosionalitas, sedangkan kelengahan Chelsea adalah determinasi. Chelsea mau tidak mau harus lebih dulu menciptakan gol, sebelum bisa merecoki permainan Setan Merah dengan mengulak-ulak emosi pemain muda MU. Namun, Chelsea perlu kerja keras meredam penampilan hot Rooney, Ronaldo, Anderson, Teves, Nani, dan mata bor asal Korea Selatan Park Ji-Sung. Sayangnya, determinasi Chelsea akhir-akhir ini sering kedodoran. Di lain pihak, stabilitas emosi dan kekompakan MU semakin padu. Chelsea lebih berharap pada faktor keberuntungan, sedangkan MU terancam digerogoti oleh kepercayaan diri yang berlebihan. Neraca inilah yang mesti dipertahankan dua rivalitas tersebut, jika ingin menjadi sang pemenangnya.
Bolehlah berkompetisi, mengalahkan pesaing, tetapi keseimbangan emosi dan moral tetap harus terjaga. Menjadi pemenang dengan jiwa bersih lebih baik ketimbang mengalahkan lawan dengan tangan kotor.Amanat utama!
Monday, 11 January 2010
Wallcot, Beckham, Capello, dan Kita
Seorang Theo Wallcot sepertinya tidak dilirik banyak orang, sebelum menjadi pilihan utama di skuad Arsenal. Kebeliaannya pun masih diragukan banyak pihak, lantaran olah bola tidak lagi sekedar ditontoni tetapi juga dijudikan. Sisi berikut, Wallcot bukan David Beckham. Sekalipun sudah uzur, nilai jual Beckham tidak pernah luntur. Perasaan puas pada Beckham sama halnya dengan kenikmatan usai “beol”.
Seorang Italia yang tengah naik daun seperti Fabio Capello sungguh tahu cara terbaik mengambil hati suporter Inggris. Setelah kemenangan oleh sentuhan Wallcot, Capello membiarkan sentuhan akhir yang manis itu bertumpu pada sosok Beckham. Para pecandu bola di negara asal bola itu pun lantas tergundah. Seorang Beckham yang dinantikan itu seperti oase di padang gurun, dan Capello adalah sumber fatamorgana.
Gerarld, Lampard, dan Rooney sekalipun meredup dalam dua kali empat puluh lima menit tersebut. Permainan lebih memilih Wallcot sebagai pahlawan, Beckham sebagai pemanis, dan Capello sebagai si tuan pesta. Dalam hal ini, bintang lapangan sangat ditentukan oleh kepuasan sang penikmat di bangku penonton dan bukan semata-mata bergantung pada keterampilan individu. Pesona itu datang bersamaan dengan rasa “ngeh” atas hamparan harapan yang terpuaskan. Ya, setelah sekian lama menggumpal di dada. Kerja sama tim lantas menjadi bingkai bisu, sedang para tokoh terpilih dalam pemujaan itu lantas keluar sebagai juara dan menciptakan sejarah.
Namun, kalau dipilah dengan lebih kritis, Wallcot punya rentang yang berbeda dengan Beckham dan Capello. Wallcot masih mencari ketokohannya di dunia having, yang masih mungkin untuk berubah, sedangkan Beckham dan Capello adalah tokoh di dunia being, yang tidak lagi berubah sekalipun waktu berubah. Wallcot masih dikuasai asumsi-asumsi, diperbandingkan, dan plural, sedangkan Beckham dan Capello itu adalah persepsi, sebuah dunia sendiri yang tunggal dan tak terbantahkan. Pasang surutnya asumsi tidak pernah melunturkan aspek kebintangannya. Sejarah sudah mengenang Beckham dan Capello sebagaimana mereka berada dan menjadi.
Sementara itu, posisi Gerald, Lampard, dan Rooney adalah unsur antitesis yang dibutuhkan untuk menjelaskan kebintangan seorang Wallcot, Beckham, dan Capello. Keberadaan mereka tidak bisa diabaikan begitu saja, lantaran sisi kebintanganya memudar. Mereka hadir sebagai unsur penegas, yang memberikan pengetahuan awali, merucutkan pilihan, dan menjadi daya saing yang lengkap dan unik. Tanpa mereka, Wallcot, Beckham, dan Capello hanya potongan yang tak berguna dan tidak pantas untuk diingat.
Mereka pun punya kesempatan yang sama untuk tampil sebagai bintang, sejauh mampu menjadi indentitas unggul di tengah percampuran individu tersebut. Pada saat itu, mereka hanya belum menemukan lubang senggama dan bermagma menjadi manusia unggul dalam sekumpulan pertaruhan. Mereka butuh waktu untuk membuktikan dirinya terpilih sebagai pejantan yang tertangguh di antara pejatan-pejatan yang tangguh. Seorang best of the best.
Benar bahwa sejarah itu berpihak pada yang menang dan mengebiri kesempatan pada yang kalah. Namun, sejarah selalu berpihak pada pilihan yang akurat, unggul, dengan identitas yang utuh. Artinya, sejarah tidak pernah salah memilih, baik untuk sementara waktu, maupun untuk sebuah keabadian. Kritik atas sejarah mengelupas sifat sekunder dan memunculkan jati dirinya yang primer. Dalam perjalanan waktu, para pemenang itu ditapis menjadi bersih, tangguh, dan terpecaya.
Oh, gutta cavat lapidem non vi sed saepe cadendo, titik-titik air melubangi batu bukan karena kekerasannya, tetapi karena keseringannya. Pribadi yang unggul dan berkualitas adalah pribadi yang jujur, tidak boros kata, berpura-pura, atau menjilat. Waktu akan terus membuktikan jenis pribadi seperti itu, sama seperti suporter fanatik terhadap pemain bintangnya. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah berakhir tuntas, untuk kepuasan sebuah harmoni, atau kepuasan batiniah sekalipun. Sebab, jati diri selalu berbicara apa adanya, sejauh raut hati menggendong perilaku dan tutur kata pada saat di mana pun manusia berada dan menjadi. Entah, menjadi seorang jurnalis, sekalipun! Karena itu, marilah jujur dengan diri sendiri.
Seorang Italia yang tengah naik daun seperti Fabio Capello sungguh tahu cara terbaik mengambil hati suporter Inggris. Setelah kemenangan oleh sentuhan Wallcot, Capello membiarkan sentuhan akhir yang manis itu bertumpu pada sosok Beckham. Para pecandu bola di negara asal bola itu pun lantas tergundah. Seorang Beckham yang dinantikan itu seperti oase di padang gurun, dan Capello adalah sumber fatamorgana.
Gerarld, Lampard, dan Rooney sekalipun meredup dalam dua kali empat puluh lima menit tersebut. Permainan lebih memilih Wallcot sebagai pahlawan, Beckham sebagai pemanis, dan Capello sebagai si tuan pesta. Dalam hal ini, bintang lapangan sangat ditentukan oleh kepuasan sang penikmat di bangku penonton dan bukan semata-mata bergantung pada keterampilan individu. Pesona itu datang bersamaan dengan rasa “ngeh” atas hamparan harapan yang terpuaskan. Ya, setelah sekian lama menggumpal di dada. Kerja sama tim lantas menjadi bingkai bisu, sedang para tokoh terpilih dalam pemujaan itu lantas keluar sebagai juara dan menciptakan sejarah.
Namun, kalau dipilah dengan lebih kritis, Wallcot punya rentang yang berbeda dengan Beckham dan Capello. Wallcot masih mencari ketokohannya di dunia having, yang masih mungkin untuk berubah, sedangkan Beckham dan Capello adalah tokoh di dunia being, yang tidak lagi berubah sekalipun waktu berubah. Wallcot masih dikuasai asumsi-asumsi, diperbandingkan, dan plural, sedangkan Beckham dan Capello itu adalah persepsi, sebuah dunia sendiri yang tunggal dan tak terbantahkan. Pasang surutnya asumsi tidak pernah melunturkan aspek kebintangannya. Sejarah sudah mengenang Beckham dan Capello sebagaimana mereka berada dan menjadi.
Sementara itu, posisi Gerald, Lampard, dan Rooney adalah unsur antitesis yang dibutuhkan untuk menjelaskan kebintangan seorang Wallcot, Beckham, dan Capello. Keberadaan mereka tidak bisa diabaikan begitu saja, lantaran sisi kebintanganya memudar. Mereka hadir sebagai unsur penegas, yang memberikan pengetahuan awali, merucutkan pilihan, dan menjadi daya saing yang lengkap dan unik. Tanpa mereka, Wallcot, Beckham, dan Capello hanya potongan yang tak berguna dan tidak pantas untuk diingat.
Mereka pun punya kesempatan yang sama untuk tampil sebagai bintang, sejauh mampu menjadi indentitas unggul di tengah percampuran individu tersebut. Pada saat itu, mereka hanya belum menemukan lubang senggama dan bermagma menjadi manusia unggul dalam sekumpulan pertaruhan. Mereka butuh waktu untuk membuktikan dirinya terpilih sebagai pejantan yang tertangguh di antara pejatan-pejatan yang tangguh. Seorang best of the best.
Benar bahwa sejarah itu berpihak pada yang menang dan mengebiri kesempatan pada yang kalah. Namun, sejarah selalu berpihak pada pilihan yang akurat, unggul, dengan identitas yang utuh. Artinya, sejarah tidak pernah salah memilih, baik untuk sementara waktu, maupun untuk sebuah keabadian. Kritik atas sejarah mengelupas sifat sekunder dan memunculkan jati dirinya yang primer. Dalam perjalanan waktu, para pemenang itu ditapis menjadi bersih, tangguh, dan terpecaya.
Oh, gutta cavat lapidem non vi sed saepe cadendo, titik-titik air melubangi batu bukan karena kekerasannya, tetapi karena keseringannya. Pribadi yang unggul dan berkualitas adalah pribadi yang jujur, tidak boros kata, berpura-pura, atau menjilat. Waktu akan terus membuktikan jenis pribadi seperti itu, sama seperti suporter fanatik terhadap pemain bintangnya. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah berakhir tuntas, untuk kepuasan sebuah harmoni, atau kepuasan batiniah sekalipun. Sebab, jati diri selalu berbicara apa adanya, sejauh raut hati menggendong perilaku dan tutur kata pada saat di mana pun manusia berada dan menjadi. Entah, menjadi seorang jurnalis, sekalipun! Karena itu, marilah jujur dengan diri sendiri.
SAMBA versus TANGO: Bersama atau Sendiri Kita Bisa!
Diego Armando Maradona tengah merayakan kemenangan Argentina atas Skotlandia (1-0), di Hamden Park, Glasgow, Skotlandia. Di lain pertandingan, Tim Samba Brasil melumat Portugal dengan skor telak (6-2). Kemenangan Argentina dan Brasil sangat berarti buat dua pelatih di dua tim Amerika Latin yang paling banyak penggemar fanatiknya. Gol Maxi Rodriguez ke gawang McGregor membuat pesimisme yang gencar diceletukkan terhadap Maradona mendadak sirna. Sementara itu, Dunga bernapas lega. Kemenangan telak Brasil atas Portugal memupus keraguan atas anak asuhnya yang miskin gol dalam beberapa pertandingan terakhir.
Skotlandia dan Portugal bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Skotlandia pernah dua kali menjadi kampiun Piala Dunia dan sering menjegal tim kuat Amerika Latin lainnya, seperti Paraguay, Meksiko, tak terkecuali Argentina dan Brasil. Sementara itu, Portugal disegani sebagai “Samba” Eropa yang bertabur bintang dunia, seperti Christian Ronaldo, Deco, Nani, dan Simao Sabrosa. Partai persahabatan tersebut sudah cukup memberi parameter soal “upgrade” kekuatan dua raja lapangan hijau dari Amerika Latin tersebut.
Tim Tango Argentina belum banyak berubah. Sekalipun gol Rodriguez lahir dari sebuah kerjasama tim, Tango masih butuh banyak pembenahan. Karakter Tango tidak sekuat Sang Pelatih. Kalau boleh jujur, penonton yang menyaksikan laga tersebut cenderung terhisap oleh pamor bintang Maradona, daripada menyaksikan pertandingan. Argentina dalam 90 menit di Hamden Park hanya muncul sebagai mikro organisme dari sosok raksasa Maradona.
Samba berhasil keluar dari pesona individual dan tampil penuh sebagai tim yang solid. Kaka, Robinho, Fabiano, Elano, bahkan si bengal Adriano berhasil mengalahkan diri sendiri dan meluruh bersama tim. Sang pelatih Dunga tidak pernah melupakan posisinya sebagai libero, saat masih membela Samba. Saat itu dirinya terus berteriak agar Rivaldo, Ronaldo, bahkan Ronaldinho supaya lebih berbagi bola dan mengutamakan hasil akhir daripada menampilkan pesona individual. Kerjasama tim inilah yang sedang dibenahi Dunga.
Samba adalah atom Demokritus, sedangkan Tango adalah monade Leibniz. Atom Demokritus mengutamakan peluruhan individu. Harmonisasi masyarakat hanya bisa tercapai jika setiap individu meluruhkan diri, rela berbagi, dan menjalani peran untuk saling melengkapi.(*)
Skotlandia dan Portugal bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Skotlandia pernah dua kali menjadi kampiun Piala Dunia dan sering menjegal tim kuat Amerika Latin lainnya, seperti Paraguay, Meksiko, tak terkecuali Argentina dan Brasil. Sementara itu, Portugal disegani sebagai “Samba” Eropa yang bertabur bintang dunia, seperti Christian Ronaldo, Deco, Nani, dan Simao Sabrosa. Partai persahabatan tersebut sudah cukup memberi parameter soal “upgrade” kekuatan dua raja lapangan hijau dari Amerika Latin tersebut.
Tim Tango Argentina belum banyak berubah. Sekalipun gol Rodriguez lahir dari sebuah kerjasama tim, Tango masih butuh banyak pembenahan. Karakter Tango tidak sekuat Sang Pelatih. Kalau boleh jujur, penonton yang menyaksikan laga tersebut cenderung terhisap oleh pamor bintang Maradona, daripada menyaksikan pertandingan. Argentina dalam 90 menit di Hamden Park hanya muncul sebagai mikro organisme dari sosok raksasa Maradona.
Samba berhasil keluar dari pesona individual dan tampil penuh sebagai tim yang solid. Kaka, Robinho, Fabiano, Elano, bahkan si bengal Adriano berhasil mengalahkan diri sendiri dan meluruh bersama tim. Sang pelatih Dunga tidak pernah melupakan posisinya sebagai libero, saat masih membela Samba. Saat itu dirinya terus berteriak agar Rivaldo, Ronaldo, bahkan Ronaldinho supaya lebih berbagi bola dan mengutamakan hasil akhir daripada menampilkan pesona individual. Kerjasama tim inilah yang sedang dibenahi Dunga.
Samba adalah atom Demokritus, sedangkan Tango adalah monade Leibniz. Atom Demokritus mengutamakan peluruhan individu. Harmonisasi masyarakat hanya bisa tercapai jika setiap individu meluruhkan diri, rela berbagi, dan menjalani peran untuk saling melengkapi.(*)
Subscribe to:
Posts (Atom)