Friday, 19 March 2010

INDONESIA VERSUS THAILAND: Dapatkah Gajah Melewati Lubang Jarum?

Tahun ini bisa berakhir kelabu untuk sepak bola nasional. Setelah ditekuk (0-1) oleh Thailand di kandang sendiri, Indonesia mesti mendulang selisih dua gol di kandang lawan. Perjuangan pasukan Merah Putih nampaknya berat. Lafal pesimistis didegungkan hampir di seluruh pelosok Tanah Air, “seri saja sudah susah, apalagi mesti mencetak dua gol.” Catatan sejarah pun tidak berpihak.

Di ajang AFF Suzuki Cup, Indonesia sudah lima kali bertemu Thailand dan lima kali pula rontok. Sementara itu, dari 18 kali hadap berhadapan, Indonesia cuma lima kali kebagian menangnya. Alhasil, kemenangan atas Thailand nampak bagai mukjizat, seperti memikirkan gajah melewati lubang jarum.

Benny Dolo (Bendol) terlalu optimistik berspekulasi hanya dengan keterampilan dan kecepatan individual beberapa pemain, daripada kerjasama tim dan mental juara. Yang diharapkan Bendol adalah kejutan dari pemain “kesayangannya” seperti Firman Utina, Ponaryo Astaman, atau Ismed Sofyan. Namun, para pemain itu terlalu jauh ke belakang dan lebih disibukkan untuk membentengi pertahanan daripada merangsek ke depan. Padahal, tipikal penyerang seperti Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas mesti dimanjakan terus dengan aliran bola terobosan dan umpan silang. Pasalnya, sukses ratio dari kedua penyerang tersebut masih lemah dalam memanfaatkan kesempatan.

Sejak kebobolan menit kelima oleh sundulan cerdik Teerasil Dangda, kesebelasan Indonesia seperti terjangkit teriakan Bendol. Para pemain stress karena harus bertarung dengan kenyataan kebobolan di menit awal, riuh cemooh massa pendukung, dan kebuntuan. Mental pemain Merah Putih sudah terperosok dan skenario permainan ditinggalkan. Yang dipertontonkan pada menit berikut adalah sesuatu yang sangat konvensional, mudah terbaca, mudah pula terpatahkan. Standarnya jauh di bawah kecepatan, kerjasama, dan kombinasi serangan seperti yang dipertontonkan Thailand.

Cukup mengejutkan memang karena pemain seperti Boaz Salossa dan Ricardo Salempessy baru terpikirkan untuk diikutsertakan. Tipikal mereka sebenarnya sangat dibutuhkan, ketika kesebelasan Merah Putih hanya menyisakan permainan yang konvensional. Sesuatu yang mengejutkan dan bisa mengubah keadaan seringkali datang dari kaki Boaz dan Salempessy. Namun, keduanya malah didepak sebelum akhirnya dipanggil karena desakan banyak pihak.

Harus diakui Indonesia kalah cepat dan kompak dari Thailand. Gol cepat Thailand di menit kelima bukan sebuah keberuntungan. Gol itu hasil kerjasama tim yang apik, kecepatan terobos, dan kecerdikan. Sementara itu, Merah Putih belum bisa cerdik dan kalah cepat. Organisasi pemainan hanya terlihat di lini belakang. Sesudah itu, kesebelasan itu hanya berharap pada kaki Firman Utina dan Ismed Sofyan. Penyerangan dari lini kiri kanan terasa tumpul, bahkan hanya menjadi pelengkap penyerta dari kebuntuan demi kebuntuan. Wasit pun akhirnya dipersalahkan.

Kesalahan sepakbola nasional adalah terlalu fokus pada hasil dan melupakan proses. Kebobolan pada menit awal sudah merupakan hasil yang buruk untuk pemain dan pelatih. Proses tidak lagi dihormati, sehingga daya gedor berkurang dan kerjasama ditinggalkan. Mental juara nyaris tertelungkup, dengan menyisakan harapan pada bola mati atau pinalti. Namun sayang. Thailand saat itu bermain sangat bersih, tanpa menyisakan cela sedikit pun untuk ruang titik balik Indonesia. Bahkan, untuk sebuah diving pun, Indonesia tak sanggup. Sangat profesional. Inilah pelajarannya, karena menghormati proses untuk sebuah hasil akhir. Indonesia terlihat terlalu terburu-buru dan memaksakan keadaan.

Jika gajah bisa melewati lubang jarum, Indonesia pasti menang. Indonesia membutuhkan kekuatan moral, yaitu menisbikan kemustahilan dan mengambil langkah positif untuk siap bertarung. Asalkan, langkah kemarin adalah pelajaran, gajah bisa melewati lubang jarum. Namun, jika masa lalu adalah penjara, gajah tak mungkin bisa melewati lubang jarum.(*)

Tuesday, 9 February 2010

Titik Terendah Maradona

Diego Armando Maradona sedang berada di titik terendah. Mahabintang sepak bola itu tidak berhasil mengangkat pamor tim nasional Argentina secermelang dirinya. Setelah digasak salah satu musuh bebuyutannya Brasil (1-3), tim Tanggo kembali keok dicukur Paraguay (0-1) pada lanjutan penyisihan piala dunia 2010. Tanggo diujung tanduk, dan Maradona dihujat sebagai biang kerok keterpurukan tersebut.
Keterpurukan Argentina adalah fakta lain dari sisi kebintangan Maradona. Sekarang, selain dia dikenang sebagai salah satu ikon sukses dan keajaiban sepak bola, Maradona juga adalah pelatih yang gagal. Mungkin terlalu dini, sebab Tango masih punya peluang melenggang ke putaran final piala dunia tahun depan. Namun, kesempatan itu bisa muncul seandainya Argentina bisa bertahan di posisi kelima zona Amerika Selatan dan memenangi duel play off.
Sekalipun demikian, Maradona sudah gagal. Dengan bermateri pemain bintang di antaranya Lionel Messi, Tevez, Juan Sebastian Veron, Zaneti, Maxi Rodriquez, Datolo, toh Maradona tidak bisa berkutik. Karier kepelatihannya sedang di ujung tanduk. Kalau federasi sepak bola Argentina berani melawan arus kebintangan ‘si tangan Tuhan’ itu, Maradona pantas dipecat. Desakan publik bahkan sudah cukup untuk Maradona mundur sebelum diberhentikan. Hanya supaya tarian Tango itu tidak absen dari hiruk pikuk pesta akbar sepak bola tahun depan.
Unik memang mengenang sisi kebintangan Maradona. Selain dinobatkan sebagai ‘dewa’ sepak bola di negeri sendiri, Maradona pun begitu tenar di Italia, Inggris, dan Brasil. Kiprahnya sebagai pemain profesional justru subur di Italia. Dia berada pada kondisi puncak saat membela klub Italia…. Periode…. Maradona pun tidak akan pernah dilupakan publik Inggris, dan dinobatkan sebagai musuh abadi karena ulah ‘tangan tuhannya,’ saat menyingkirkan Inggris di piala dunia 1986. Sementara itu, Maradona adalah ikon yang selalu mengganggu sisi ketenaran Pele ‘si dewa’ Samba di Brasil.
Banyak yang mengatakan, Maradona terlahir kembali saat melihat Lionel Messi menari Tango dengan bola di lapangan hijau. Tetapi, Messi adalah titisan, bukan Maradona itu sendiri. Sejarah telah lebih dulu mengenal Maradona dengan aksi melewati lima pemain dan menciptakan gol. Tidak akan ada Maradona dengan kapasitas yang sama, karena sang pemain itu telah merumahkan sebuah standar tertinggi dari seni mengolah bola secara individual.
Seorang alkoholik dan pemakai aktif narkoba adalah fase keterpurukan sang bintang sebelumnya. Melalui program rehabilitasi, ketergantungannya pada miras dan narkoba itu pelahan sirna. Publik dan fans fanatik Maradona saat itu tidak terlalu menggubris kehidupan malam dan ketergantungan sang bintang. Tidak ada juga hujatan yang keras, selain nada permisif yang memaafkan ulah sang bintang karena kedewaannya tersebut.
Tetapi, saat Maradona gagal menjadi pelatih, fans begitu gundah, gusar, dan berubah menghujat. Argentina bergejolak. “Saya menghormati dan mengagumi dia sebagai pemain. Dia dewa sepak bola kami. Tapi, Maradona bukanlah pelatih yang tepat. Dia gagal, di antara banyak pemain terbaik di dunia yang kami miliki,” kata seorang fans Argentina. Rodriguez, pilar tengah yang diandalkan Maradona bahkan mengatakan, “Di tangan Maradona, kami kehilangan gaya permainan, disiplin, dan motivasi untuk juara. Kami butuh pelatih.”
Betapa pedihnya publik Inggris karena mesti menelan pil pahit saat Inggris gagal melaju ke putaran final piala Eropa… Namun, kepedihan itu telah berakhir. Negeri lahirnya sepak bola itu melaju ke putaran final piala dunia tahun depan, berkat jasa sang arsitektur berdarah Italia Fabio Capello. Dia pelatih yang tepat dengan materi pemain berkelas bintang.
Akankah kepedihan Inggris terulang di Argentina? Kalau Argentina gagal, Inggris akan bilang, “Rasain kau Maradona, kali ini tangan Tuhan menjauh dari nasibmu!” Karena sekalipun mundur, dan Argentina gagal, pil pahit itu tetap akan menjadi buah bibir karena ulah sang mahabintang bernama Maradona, legenda bernomor punggung 10 itu.(*)

Friday, 29 January 2010

MU versus Barcelona: Setiap Saat adalah Final

Di penghujung tahun lalu, Manchester United (MU) keluar sebagai juara dunia antarklub di International Stadium Yokohama, Jepang, menundukkan wakil Amerika Latin, Liga de Quito dari Ekuador, 1-0. MU hadir di Yokohama setelah meraih tropi Liga Champions, dan Juara Liga Premier Inggris. Namun, MU bukan klub yang tidak pernah kalah. Tropi Juara Dunia Antarklub adalah dominasi kemenangan, namun tidak tanpa kalah. Klub sekelas MU pun perlu tertatih-tatih merengkuh tropi.
Berdasarkan catatan majalah Forbes, MU adalah klub dengan nilai kekayaan tertinggi. Setan Merah, julukan klub tersebut diperkirakan memiliki aset sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 16,6 triliun. Nilai tersebut terpaut cukup jauh dari Real Madrid diurutan kedua dengan total kekayaan US$ 1,285 miliar atau sekitar Rp 12 triliun. Sementara itu, Arsenal di tempat ketiga hanya membukukan kekayaan sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 11 triliun, terpaut Rp 5,6 triliun dari MU.
Belum ada tokoh yang bisa menggantikan peran Sir Alex Ferguson sebagai pelatih MU. Opa bertangan dingin itu sudah 21 tahun malang melintang sebagai pelatih MU dan telah mempersembahkan 20 gelar bergengsi---17 Premier League dan 3 Liga Champions ---bagi Setan Merah. Selain itu, sudah banyak pemain bertalenta, berkelas, dan menjadi langganan tim nasional lahir dari besutannya. Ferguson terakhir menyatakan akan segera pensiun sebagai pelatih MU dalam tiga tahun ke depan. Namun, lepas sebagai pelatih diprediksi hidup pelatih asal Skotlandia itu tidak akan jauh dari MU.
Sekalipun tercecer di peringkat ketiga Liga Premier Inggris tahun ini, MU masih berpeluang mengukir prestasi dengan tetap berada di jalur juara. MU juga lolos ke babak perdelapanfinal Liga Champions, dan sudah memastikan satu tempat di semifinal Piala Carling. Sementara itu, Piala FA baru akan mereka jalani pada Januari 2009. Bukan tidak mungkin, lebih dari dua tropi akan kembali direngkuh Setan Merah tahun ini.
Tak kalah fantastis, Barcelona di Spanyol memuncaki klasemen La Liga dengan perfoma brilian. Dari 16 pertandingan yang sudah dilakoni, pasukan Josep Guardiola itu sudah memenangi 13 laga di antaranya. Sisanya berakhir dengan dua hasil imbang dan satu kekalahan. Dari 16 pertandingan itu, Barcelona hanya kemasukkan 10 gol dan berhasil memasukkan 48 gol ke gawang lawan. Hegemoni itu pun sempurna dengan melumat Real Madrid (2-0) pada laga klasik jelang akhir tahun lalu.
Dua musim sebelumnya Barcelona berada di bawah bayang-bayang Real Madrid. Musim lalu, Barcelona kalah saing menyakitkan dengan rival beratnya itu, karena mesti menyerahkan gelar La Liga pada partai terakhir. Real Madrid menang fantastis dan menguburkan impian Barcelona. Namun, keadaan saat ini sedang berbalik. Selisih 12 point dengan Madrid membuat Barcelona berjalan tegak karena merasa telah menemukan pil penawar untuk luka liga di musim lalu tersebut.
MU dan Barcelona memahami betul filosofi bola. Bola dan pertandingan hanyalah ruang manusia. Pemain, pelatih, penonton dalam perannya masing-masing mendandani pertandingan. Kesalahan pada bola hanya melucuti pertandingan, tetapi kesalahan manusia pada pertandingan melucuti martabat. Bola yang kempes menghentikan pertandingan, tetapi pemain yang berulah mencemooh kemanusiaan.
Tidak ada permukaan yang tetap pada bola. Semua mengalir dan berubah. Dalam perubahan tersebut, ada tujuan yang tetap, yang tidak berubah. Gol dan kemenangan, atau jatuh kalah. Setiap perubahan harus disikapi dengan kerja keras dan kepaduan. Setiap pertandingan adalah final, sedangkan kekalahan merupakan cambuk dalam dinamika. Karena itu, senjata yang paling ampuh dalam menghadapi setiap perubahan dalam siap siaga, juga kebesaran jiwa untuk belajar dari keterpurukan. Dengan cara itu pulalah, kita bisa merayakan kemanusiaan dalam setiap perubahan waktu. Selamat menempuh hari-hari di Tahun Baru!(*)

Ketika Bola Menjadi Rasial

Emile Heskey menjadi korban saat Kroasia menjamu Inggris pada kualifikasi Piala Dunia di Stadion Maksimir, Zagreb, 10 September lalu. Kekecewaan pendukung fanatik Kroasia saat itu tak terbendung. Sejak pertama pluit dibunyikan dan bola disepak, Kroasia sudah sangat yakin kembali akan menggulung Inggris. Menurut mereka, kekalahan Inggris di ajang Piala Eropa kemarin adalah takdir. Kroasia tak akan takluk jika melawan Inggris.
Kroasia lupa. Permainan tak pernah mengenal takdir. Dinamika perseteruan selalu memberikan ruang kosong untuk kalah atau dikalahkan. Di atas lapangan hijau, Inggris dan Kroasia sama-sama berpeluang untuk menang dan kalah, sekalipun kenyataannya akan berakhir dengan menyakitkan. Kroasia tak mampu membendung kekecewaan, lantas mengejek Heskey dengan menirukan suara dan gerakan monyet. Rasialisme kembali berwajah galak!
Kasus yang sama pun pernah menimpa Thierry Henry. Kali ini yang melontarkan cemoohan adalah pelatih sepak bola nasional Spanyol Luis Aragones. Sementara itu, dua musim lalu striker Barcelona Samuel Eto`o mengancam akan meninggalkan lapangan setelah dihina para penonton dalam pertandingan melawan Real Zaragoza. Striker Rumania dan Fiorentina Adrian Mutu, salah satu pemain terbaik dalam liga, berulang kali disebut "orang jipsi" oleh penggemar lawan. Striker Inter Milan Zlatan Ibrahimovic, orang Swedia tapi keturunan Bosnia, juga disebut "jipsi" oleh penggemar Juventus yang berang terhadap dia karena meninggalkan klub ketika mereka terdegradasi karena pengaturan skor.
Ranah sepak bola seharusnya berada di pusaran humanisme, antara penghargaan terhadap kreativitas dan nilai-nilai luhur keadaban, antara nasionalisme dan universalisme. Sepak bola mesti jauh dari semangat chauvinisme, membangga-banggakan sesuatu yang parsial dan fanatik.
Tahap demi tahap sepak bola bukan lagi sekedar sebuah permainan. Pada saat sepak bola masuk dalam parade perdamaian antarbenua bertaraf olimpiade, aspek pertarungan tersebut masih bisa dijinakkan. Namun, aspek perdamaian pun bergeser pelahan, ketika sepak bola digelar dalam kompetisi piala dunia. Percumbuan yang sejuk antarnegara itu direcoki dengan fanatisme negara. Keruntuhan pun menyeruak lebar saat sepak bola dipanjikan dalam kompetisi setaraf liga. Tanggung jawab moril untuk sebuah solidaritas semakin menipis, terpecah-pecah dalam semangat individual, golongan, dan susah dikontrol. Semakin kecil kelompok minatnya, justru makin keras gesekannya.
Inilah akibatnya jika sepak bola telah menjadi berhala modern. Jebakannya terukur melalui mekanisme yang formalis dan konvensional. Jika tidak menang, sebuah klub dan para pemainnya akan dicaci maki. Namun, jika menang, mereka akan disanjung-sanjung. Loyalitas terhadap aspek humanitas tercopot dari kerangka universalitas. Gaya mencintai pada permainan tersebut berubah brutal dan infantil. Karena itu, di mata para penonton, para pemain hanya instrumen pemuas. Sementara itu, bola adalah emosi yang ditendang-tendang dari satu sudut ke sudut lain. Inilah pula kecenderungan modernitas, memandang sesama secara formal dan fungsional, sejauh orang lain mampu memuaskan sebentuk keinginan ego. Jika ego tak terpuas, kata-kata hujatan seperti yang ditimpakan pada Heskey akan terus berulang. Jagalah hatimu!