Baru saja kita menyaksikan punggawa Thomas dan Uber Cup kita berlaga di ajang tersebut pekan lalu. Dari sana kita melihat peta kekuatan pemain bulutangkis Indonesia dibandingkan negara-negara adidaya bulutangkis lainnya. Satu hal yang cukup menggembirakan, penampilan apik Tim Thomas mengantar jawara pelatnas kita hingga ke partai final.
| Kemeriahan BCA Indonesia Open 2015 (Image:bwfworldsuperseries.com) |
Mari tinggalkan kegagalan tim Thomas Cup di partai puncak.
Sisakan saja sedikit memori kita tentang prospek muda pemain kita. Lalu,
mari kita kaitkan dengan perhelatan akbar BCA Indonesia Open
Superseries Premier (BIOSSP) 2016 yang bakal berlangsung dari 30 Mei
hingga 05 Juni 2016 di Istora Senayan Jakarta.
Kebetulan sekali, dalam bincang-bincang bertajuk perhelatan
BIOSSP 2016 bersama Wakil Sekjen PP PBSI Achmad Budiharto dan Kabid
Humas PBSI Yuni Kartikau yang berlangsung pada Jumat (27/05/2016) malam,
soal prospek dan prestasi pemain-pemain andalan kita dibahas.
Menurut Budiharto, kita memang harus mengakui bahwa sektor
tunggal putra kita saat ini sedang berbenah. Kelihatan sekali dari
partai puncak Thomas Cup kemarin. Tunggal putera kita masih kalah dari
pemain-pemain tunggal Denmark.
Namun, kita melihat prospek dan potensi mereka. Selain
Tommy yang tergolong senior, dua tunggal putra kita - Anthony Ginting,
Ikhsan Mustofa, plus Jonathan Christie - adalah tunggal putra
prospektif yang dapat memberikan kejutan di ajang BIOSSP 2016.
Senada dengan itu, Yuni Kartika, yang juga mantan atlet
bulutangkis sezaman Susi Susanti dan Sarwendah ini, mengatakan bahwa
tunggal putra, ganda campuran, dan ganda putri memang masih menjadi
sektor andalan Indonesia di BIOSSP 2016.
"Tetapi tunggal putra seperti Anthony Ginting, Ikhsan
Mustofo, dan Jonathan Christie bukan tidak mungkin akan memberikan
kejutan di BIOSSP 2016 ini. Asal saja mereka mampu melewati babak awal
karena sudah harus bertemu dengan pemain unggulan di turnamen ini,"
katanya.
Yuni menambahkan, perhelatan Thomas Cup kemarin merupakan
batu loncatan bagi pemain-pemain seperti mereka karena untuk pertama
kalinya bertemu dengan pemain-pemain terbaik dunia. Pengalama mereka
diasah dan mudah-mudahan memberi bekal untuk BIOSSP 2016.
Lalu mengapa tunggal putra Indonesia yang sebelumnya begitu dominan kini nampak kehilangan daya? Tidak seperti era emas dari Icuk Sugiarto, Joko Supriyanto, Hendrawan, Alan Budikusuma, Ardi Wiranata, Haryanto Arbi, dan terakhir Taufik Hidayat, yang silih berganti menjadi raja tunggal putra dunia.
Budi mengatakan, harus diakui ada beberapa faktor yang menyebabkan prestasi tunggal putra bulutangkis Indonesia belum secemerlang seniornya. Pertama, pemain dengan talenta mumpuni memang susah ditemukan. Tetapi, kedua, yang menjadi kelemahan terbesar saat ini adalah putusnya regenerasi para juara di pelatnas.
Sejak era emas tersebut, pengalaman bertanding dan insting membunuh yang diperlihatkan para seniornya tidak diturunkan kepada yuniornya. Setelah tidak lagi menghuni Pelatnas, pemain-pemain senior yang ditakuti di ajang bulutangkis Indonesia menjauhi Pelatnas dengan caranya masing-masing. Ilmu dan pengalaman mereka tidak diwariskan dan diturunkan.
Berbeda benar dengan yang dialami generasi tunggal putra Denmark saat ini. Peter Gade bisa bermain sampai 35 tahun - tergolong tua untuk seorang pemain bulutangkis - sebelumnya akhirnya memutuskan pensiun, bukan semata-mata karena dia mencintai bulutangkis, tetapi karena memang disengajakan agar ilmu dan pengalaman dia dapat diwariskan kepada juniornya. Terbukti, tunggal putra Denmark jauh lebih berpengalaman dan bertenaga dibandingkan tungggal putra Indonesia.
Tetapi, kembali kepada Yuni Kartika. Siapa dapat menebak nasib dan peruntungan seseorang. Tommy, Anthony Ginting, dan Jonathan Christie sudah memiliki pengalaman tanding di level internasional. Ini bekal berharga bagi mereka. Kejutan bisa saja datang dari mereka. Mari berharap dan teriakkan #EaaForIndonesia #RinduJuara #1Istora.(*)
No comments:
Post a Comment