Friday, 27 May 2016

Menanti Kejutan The Rising Star Di BCA Indonesia Open


Baru saja kita menyaksikan punggawa Thomas dan Uber Cup kita berlaga di ajang tersebut pekan lalu. Dari sana kita melihat peta kekuatan pemain bulutangkis Indonesia dibandingkan negara-negara adidaya bulutangkis lainnya. Satu hal yang cukup menggembirakan, penampilan apik Tim Thomas mengantar jawara pelatnas kita hingga ke partai final. 



Kemeriahan BCA Indonesia Open 2015 (Image:bwfworldsuperseries.com)
Tommy Sugiarto, Anthony Sinisuka Ginting, dan Ikhsan Maulana Mustofa terpaksa harus mengakui kekalahan dan merelakan Piala Thomas kembali berziarah ke negeri nun jauh Denmark dari negeri asalnya Indonesia.


Mari tinggalkan kegagalan tim Thomas Cup di partai puncak. Sisakan saja sedikit memori kita tentang prospek muda pemain kita. Lalu, mari kita kaitkan dengan perhelatan akbar BCA Indonesia Open Superseries Premier (BIOSSP) 2016 yang bakal berlangsung dari 30 Mei hingga 05 Juni 2016 di Istora Senayan Jakarta.

Kebetulan sekali, dalam bincang-bincang bertajuk perhelatan BIOSSP 2016 bersama Wakil Sekjen PP PBSI Achmad Budiharto dan Kabid Humas PBSI Yuni Kartikau yang berlangsung pada Jumat (27/05/2016) malam, soal prospek dan prestasi pemain-pemain andalan kita dibahas.

Menurut Budiharto, kita memang harus mengakui bahwa sektor tunggal putra kita saat ini sedang berbenah. Kelihatan sekali dari partai puncak Thomas Cup kemarin. Tunggal putera kita masih kalah dari pemain-pemain tunggal Denmark.

Namun, kita melihat prospek dan potensi mereka. Selain Tommy yang tergolong senior, dua tunggal putra kita - Anthony Ginting, Ikhsan Mustofa, plus Jonathan Christie - adalah tunggal putra prospektif  yang dapat memberikan kejutan di ajang BIOSSP 2016.

Senada dengan itu, Yuni Kartika, yang juga mantan atlet bulutangkis sezaman Susi Susanti dan Sarwendah ini, mengatakan bahwa tunggal putra, ganda campuran, dan ganda putri memang masih menjadi sektor andalan Indonesia di BIOSSP 2016.

"Tetapi tunggal putra seperti Anthony Ginting, Ikhsan Mustofo, dan Jonathan Christie bukan tidak mungkin akan memberikan kejutan di BIOSSP 2016 ini. Asal saja mereka mampu melewati babak awal karena sudah harus bertemu dengan pemain unggulan di turnamen ini," katanya.

Yuni menambahkan, perhelatan Thomas Cup kemarin merupakan batu loncatan bagi pemain-pemain seperti mereka karena untuk pertama kalinya bertemu dengan pemain-pemain terbaik dunia. Pengalama  mereka diasah dan mudah-mudahan memberi bekal untuk BIOSSP 2016.

Lalu mengapa tunggal putra Indonesia yang sebelumnya begitu dominan kini nampak kehilangan daya? Tidak seperti era emas dari Icuk Sugiarto, Joko Supriyanto, Hendrawan, Alan Budikusuma, Ardi Wiranata, Haryanto Arbi, dan terakhir Taufik Hidayat, yang silih berganti menjadi raja tunggal putra dunia.

Budi mengatakan, harus diakui ada beberapa faktor yang menyebabkan prestasi tunggal putra bulutangkis Indonesia belum secemerlang seniornya. Pertama, pemain dengan talenta mumpuni memang susah ditemukan. Tetapi, kedua, yang menjadi kelemahan terbesar saat ini adalah putusnya regenerasi para juara di pelatnas. 

Sejak era emas tersebut, pengalaman bertanding dan insting membunuh yang diperlihatkan para seniornya tidak diturunkan kepada yuniornya. Setelah tidak lagi menghuni Pelatnas, pemain-pemain senior yang ditakuti di ajang bulutangkis Indonesia menjauhi Pelatnas dengan caranya masing-masing. Ilmu dan pengalaman mereka tidak diwariskan dan diturunkan.

Berbeda benar dengan yang dialami generasi tunggal putra Denmark saat ini. Peter Gade bisa bermain sampai 35 tahun - tergolong tua untuk seorang pemain bulutangkis - sebelumnya akhirnya memutuskan pensiun, bukan semata-mata karena dia mencintai bulutangkis, tetapi karena memang disengajakan agar ilmu dan pengalaman dia dapat diwariskan kepada juniornya. Terbukti, tunggal putra Denmark jauh lebih berpengalaman dan bertenaga dibandingkan tungggal putra Indonesia.

Tetapi, kembali kepada Yuni Kartika. Siapa dapat menebak nasib dan peruntungan seseorang. Tommy, Anthony Ginting, dan Jonathan Christie sudah memiliki pengalaman tanding di level internasional. Ini bekal berharga bagi mereka. Kejutan bisa saja datang dari mereka. Mari berharap dan teriakkan #EaaForIndonesia #RinduJuara #1Istora.(*)

No comments:

Post a Comment