Diego Armando Maradona sedang berada di titik terendah. Mahabintang sepak bola itu tidak berhasil mengangkat pamor tim nasional Argentina secermelang dirinya. Setelah digasak salah satu musuh bebuyutannya Brasil (1-3), tim Tanggo kembali keok dicukur Paraguay (0-1) pada lanjutan penyisihan piala dunia 2010. Tanggo diujung tanduk, dan Maradona dihujat sebagai biang kerok keterpurukan tersebut.
Keterpurukan Argentina adalah fakta lain dari sisi kebintangan Maradona. Sekarang, selain dia dikenang sebagai salah satu ikon sukses dan keajaiban sepak bola, Maradona juga adalah pelatih yang gagal. Mungkin terlalu dini, sebab Tango masih punya peluang melenggang ke putaran final piala dunia tahun depan. Namun, kesempatan itu bisa muncul seandainya Argentina bisa bertahan di posisi kelima zona Amerika Selatan dan memenangi duel play off.
Sekalipun demikian, Maradona sudah gagal. Dengan bermateri pemain bintang di antaranya Lionel Messi, Tevez, Juan Sebastian Veron, Zaneti, Maxi Rodriquez, Datolo, toh Maradona tidak bisa berkutik. Karier kepelatihannya sedang di ujung tanduk. Kalau federasi sepak bola Argentina berani melawan arus kebintangan ‘si tangan Tuhan’ itu, Maradona pantas dipecat. Desakan publik bahkan sudah cukup untuk Maradona mundur sebelum diberhentikan. Hanya supaya tarian Tango itu tidak absen dari hiruk pikuk pesta akbar sepak bola tahun depan.
Unik memang mengenang sisi kebintangan Maradona. Selain dinobatkan sebagai ‘dewa’ sepak bola di negeri sendiri, Maradona pun begitu tenar di Italia, Inggris, dan Brasil. Kiprahnya sebagai pemain profesional justru subur di Italia. Dia berada pada kondisi puncak saat membela klub Italia…. Periode…. Maradona pun tidak akan pernah dilupakan publik Inggris, dan dinobatkan sebagai musuh abadi karena ulah ‘tangan tuhannya,’ saat menyingkirkan Inggris di piala dunia 1986. Sementara itu, Maradona adalah ikon yang selalu mengganggu sisi ketenaran Pele ‘si dewa’ Samba di Brasil.
Banyak yang mengatakan, Maradona terlahir kembali saat melihat Lionel Messi menari Tango dengan bola di lapangan hijau. Tetapi, Messi adalah titisan, bukan Maradona itu sendiri. Sejarah telah lebih dulu mengenal Maradona dengan aksi melewati lima pemain dan menciptakan gol. Tidak akan ada Maradona dengan kapasitas yang sama, karena sang pemain itu telah merumahkan sebuah standar tertinggi dari seni mengolah bola secara individual.
Seorang alkoholik dan pemakai aktif narkoba adalah fase keterpurukan sang bintang sebelumnya. Melalui program rehabilitasi, ketergantungannya pada miras dan narkoba itu pelahan sirna. Publik dan fans fanatik Maradona saat itu tidak terlalu menggubris kehidupan malam dan ketergantungan sang bintang. Tidak ada juga hujatan yang keras, selain nada permisif yang memaafkan ulah sang bintang karena kedewaannya tersebut.
Tetapi, saat Maradona gagal menjadi pelatih, fans begitu gundah, gusar, dan berubah menghujat. Argentina bergejolak. “Saya menghormati dan mengagumi dia sebagai pemain. Dia dewa sepak bola kami. Tapi, Maradona bukanlah pelatih yang tepat. Dia gagal, di antara banyak pemain terbaik di dunia yang kami miliki,” kata seorang fans Argentina. Rodriguez, pilar tengah yang diandalkan Maradona bahkan mengatakan, “Di tangan Maradona, kami kehilangan gaya permainan, disiplin, dan motivasi untuk juara. Kami butuh pelatih.”
Betapa pedihnya publik Inggris karena mesti menelan pil pahit saat Inggris gagal melaju ke putaran final piala Eropa… Namun, kepedihan itu telah berakhir. Negeri lahirnya sepak bola itu melaju ke putaran final piala dunia tahun depan, berkat jasa sang arsitektur berdarah Italia Fabio Capello. Dia pelatih yang tepat dengan materi pemain berkelas bintang.
Akankah kepedihan Inggris terulang di Argentina? Kalau Argentina gagal, Inggris akan bilang, “Rasain kau Maradona, kali ini tangan Tuhan menjauh dari nasibmu!” Karena sekalipun mundur, dan Argentina gagal, pil pahit itu tetap akan menjadi buah bibir karena ulah sang mahabintang bernama Maradona, legenda bernomor punggung 10 itu.(*)